Lewati ke konten utama
Sabtu, 15 Agustus 2026 / 2 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Netanyahu Sindir Inggris dengan Sebutan Republik Islam Inggris

3 menit baca 54 dibaca
Netanyahu
Ilustrasi PM Israel Benjamin Netanyahu. Chat GPT
Bagikan:

TEL AVIV-Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut Inggris sebagai “Republik Islam Inggris”, sebuah sindiran terhadap salah satu sekutu Eropa Israel yang secara historis memiliki hubungan sangat dekat dengan negara tersebut.

Netanyahu melontarkan pernyataan itu dalam podcast Israel Melech Blitzer Haim yang ditayangkan pada Kamis (13/8/2026, ketika ia memprotes pemberitaan media Inggris mengenai Israel.

Sebagai contoh, Netanyahu menunjuk penulis Inggris Randolph Churchill, yang ia puji karena pemberitaannya yang positif mengenai Israel selama Perang Enam Hari 1967.

Netanyahu kemudian menambahkan secara sarkastis, “Coba cari pemberitaan seperti itu di Inggris saat ini, yang bisa saja Anda sebut sebagai Republik Islam Inggris,” demikian menurut terjemahan pernyataannya yang dipublikasikan media Israel.

Dalam bagian lain podcast tersebut, Netanyahu tampaknya merujuk pada pernyataan JD Vance pada 2022 yang menyebut Inggris mungkin menjadi negara “Islamis” pertama yang memiliki senjata nuklir.

“Seseorang pernah mengatakan bahwa republik Islam pertama yang memiliki senjata nuklir adalah Republik Islam Inggris,” kata Netanyahu.

“Kami memastikan tidak akan ada republik Islam lainnya di sini, di Iran,” kata dia menambahkan.

Baca juga: Menyangkut Perayaan Momen Agustusan, Komisi Fatwa MUI Ingatkan Tiga Hal Ini

Sebuah kelompok Yahudi Inggris dan Irlandia mengecam pernyataan perdana menteri Israel tersebut sebagai ucapan yang penuh kebencian dan memecah belah.

“Di saat antisemitisme, kebencian terhadap Muslim, dan perpecahan sosial menimbulkan ketakutan nyata di seluruh negeri kami, bahasa semacam ini berbahaya dan tidak bertanggung jawab,” kata Rabbi Charley Baginsky dan Rabbi Josh Lev, dua pemimpin Movement for Progressive Judaism.

“Perdana Menteri Netanyahu tidak berbicara atas nama umat Yahudi Inggris. Pernyataannya tidak mewakili kami,” kata mereka.

Gavin Barwell, mantan kepala staf Downing Street untuk Perdana Menteri Theresa May, mengatakan pernyataan Netanyahu merupakan Islamofobia yang terang-terangan.

“Mari berharap sekarang semua orang meninggalkan kepura-puraan yang masih dipertahankan sebagian pihak bahwa orang ini adalah teman Inggris,” tulis Barwell dalam sebuah unggahan di X.

Baca juga: “Scholasticide” Israel Menghancurkan Pendidikan di Gaza

Meskipun secara tradisional memiliki hubungan yang kuat, ketegangan antara pemerintah Israel dan Inggris meningkat sejak Partai Buruh yang berhaluan progresif berkuasa di Inggris pada 2024.

Di bawah mantan Perdana Menteri dari Partai Buruh, Keir Starmer, Inggris menghentikan sementara pembicaraan perdagangan bebas dengan Israel dan menangguhkan sejumlah lisensi ekspor senjata.

Seperti Prancis, Inggris juga menjatuhkan sanksi terhadap dua anggota kabinet Israel dari kelompok sayap kanan garis keras, Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich.

Tahun lalu, Inggris bergabung dengan sejumlah negara sekutunya, termasuk Prancis dan Kanada, dalam mengakui negara Palestina.

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham baru-baru ini meminta maaf atas respons awal Partai Buruh terhadap tindakan Israel di Gaza.

Ia mengakui bahwa partainya terlalu lambat menyerukan gencatan senjata. “Itulah sebabnya kita perlu berbuat lebih banyak, termasuk mempertimbangkan sanksi tambahan terhadap mereka yang terlibat dalam kekerasan di Gaza, serta mempertimbangkan langkah-langkah untuk melarang perdagangan barang dengan permukiman ilegal,” kata Burnham.

 Rodwan Abouharb, profesor madya hubungan internasional di University College London, mengatakan sindiran Netanyahu menandai titik terendah baru dalam hubungan Inggris-Israel.

Namun, menurutnya, pernyataan tersebut juga “menutupi adanya tumpang tindih yang cukup besar dalam tujuan kebijakan”kedua negara terkait Iran.

“Komentar Netanyahu mungkin lebih ditujukan untuk kepentingan domestik, yakni memperkuat koalisi pemerintahannya yang retak,” kata Abouharb kepada Aljazeera.

Juru bicara Muslim Council of Britain (MCB) mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pernyataan tersebut menunjukkan perlunya Inggris mengevaluasi kembali hubungannya dengan Israel.

“Memperkuat teori-teori konspirasi tentang Inggris menjadi bukti tambahan—jika masih diperlukan—bahwa Pemerintah Inggris perlu segera mengevaluasi kembali hubungannya dengan Israel. Pernyataan seperti ini bukanlah kata-kata dari sekutu dan mitra yang dapat diandalkan. Lagipula, Inggris bukan sebuah republik; kami adalah monarki konstitusional,” ujar juru bicara MCB.