Multaqa Ru'asa Al-Ma'ahid Soroti Pentingnya Perlindungan Anak dan Penguatan Citra Positif Pesantren
Kediri, MUI Digital – Wakil Ketua Komisi Pesantren Majelis Ulama Indonesia (MUI), Gus H M Faried Muttaqin Iskandar, menegaskan pentingnya memperkuat peran pesantren sebagai benteng perlindungan anak sekaligus penjaga akhlak generasi bangsa di tengah berbagai tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan Islam saat ini.
Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan dalam kegiatan Multaqa Ru'asa Al-Ma'ahid yang menjadi bagian dari rangkaian Pra Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Pesantren Al Amien, Kediri, Kamis (11/6/2026).
Dalam sambutannya, Gus Faried menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada para ulama, kiai, pimpinan pesantren, pengurus MUI, serta seluruh peserta yang hadir dalam forum tersebut.
Dia juga memohon doa agar Pesantren Al Amien yang dirintis secara bertahap sejak awal pendiriannya dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Kami sangat berkepentingan memohon doa dari para hadirin semua. Mudah-mudahan dalam rangka pengabdian mencerdaskan kehidupan generasi Indonesia ini mendapatkan ridha dari Allah SWT," ujarnya.
Atas nama panitia dan tuan rumah, Gus Faried juga menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kekurangan dalam penyelenggaraan acara.
Baca juga: Komisi Pesantren MUI Gelar Multaqa Ru’asa al-Ma’ahid di Ponpes Al-Amien Kediri
Lebih lanjut, dia menyoroti berbagai keprihatinan yang berkembang terkait pemberitaan negatif mengenai pesantren.
Menurutnya, sejumlah kasus yang terjadi di lingkungan pesantren kerap mendapatkan perhatian besar di media sosial sehingga menimbulkan stigma negatif terhadap lembaga pesantren secara keseluruhan.
Padahal, berdasarkan data yang dia sampaikan, jumlah kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di lingkungan pesantren relatif kecil dibandingkan total kasus kekerasan terhadap anak secara nasional.
"Pada 2025 terdapat 1.117 kasus kekerasan terhadap anak di pesantren dari total 19.813 kasus kekerasan terhadap anak. Artinya, persentasenya tidak mencapai 10 persen. Namun yang sering muncul justru narasi negatif tentang pesantren," ungkapnya.
Menurut Gus Faried, tingginya ekspektasi masyarakat terhadap pesantren menyebabkan setiap kesalahan yang terjadi mendapatkan sorotan yang jauh lebih besar dibandingkan lembaga lainnya.
"Masyarakat menganggap pesantren tidak boleh salah. Ketika ada satu kesalahan, maka itu menjadi serangan atau hate yang luar biasa bagi pesantren," katanya.
Dia mengingatkan bahwa apabila kalangan pesantren tidak aktif menyampaikan informasi positif kepada publik, kondisi tersebut dapat berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pesantren.
Karena itu, forum Multaqa Ru'asa Al-Ma'ahid dinilai menjadi momentum penting untuk berdiskusi dan merumuskan langkah-langkah strategis dalam memperkuat perlindungan anak serta membangun citra positif pesantren.
"Kita perlu bermusyawarah dan berdiskusi untuk menunjukkan bahwa pesantren tidak seburuk yang digambarkan sebagian pihak. Pesantren adalah tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak Indonesia," kata dia.
Atas dasar itulah, panitia mengangkat tema "Memperkokoh Pesantren sebagai Benteng Perlindungan Anak dan Penjaga Akhlak Mulia" dalam pertemuan para pimpinan pesantren tersebut.
Di akhir sambutannya, Gus Faried menyampaikan terima kasih kepada seluruh kiai, nyai, dan peserta yang hadir.
Dia berharap kehadiran para tokoh pesantren dapat membawa keberkahan bagi Pesantren Al Amien dan para santrinya serta melahirkan berbagai solusi atas tantangan yang dihadapi dunia pesantren saat ini.
"Tantangan sudah menanti. Mudah-mudahan panjenengan semua dapat menjadi bagian dari solusi bagi kemajuan pesantren dan perlindungan generasi bangsa," kata dia.