Lewati ke konten utama
Senin, 14 September 2026 / 2 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Logo MUI
Ilustrasi logo MUI. Foto MUI Digital.
Berita

MUI Sebut Karnaval Mirip Ritual Satanic di Pekalongan Bertentangan dengan Ajaran Islam

MUI Sebut Karnaval Mirip Ritual Satanic di Pekalongan Bertentangan dengan Ajaran Islam

/ 2 Rabiul Akhir 1448 H 3 menit baca 1.049 dibaca

Jakarta, MUI Digital— Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyoroti gelaran Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Pekalongan, Jawa Tengah. 

Acara yang mulanya digagas sebagai rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus khitanan massal ke-61 tersebut menuai kontroversi lantaran menyajikan pertunjukan bernuansa mistik yang dinilai mirip dengan ritual satanic.

Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, menyatakan bahwa atraksi menyeramkan yang menonjolkan simbol-simbol satanic serta aksi penyembelihan hewan secara sadis di muka umum sangat bertentangan dengan esensi ajaran Islam dan nilai-nilai mulia peringatan Maulid Nabi.

Kiai Cholil menjelaskan bahwa bergembira atas kelahiran Rasulullah SAW seharusnya diwujudkan melalui amalan yang mendidik, membawa kedamaian, serta merefleksikan akhlak mulia Nabi. 

Kegembiraan tersebut semestinya diisi dengan kegiatan syiar yang memperkuat keimanan, bukan justru menghadirkan unsur ketakutan, simbol-simbol iblis, atau praktik yang mendekati animisme.

"Ini jelas berlawanan dengan semangat memperingati atau merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW,” kata Kiai Cholil kepada MUI Digital di Jakarta, Senin (14/9/2026). 

Dia mengingatkan bergembira dengan Maulid Nabi itu dengan mengikuti sunnah beliau, seperti halnya membaca shalawat dan membaca Alquran. 

“Karnaval yang sifatnya mendidik tentu boleh, tetapi ketika itu menjadi animisme atau sesuatu yang menakutkan, tentu sangat bertentangan dengan haflah Maulid Nabi," kata dia menegaskan.  

Kiai Cholil menilai, konsep karnaval yang menampilkan visualisasi horor dan menyimpang membuat makna spiritual perayaan Maulid Nabi menjadi hilang. 

Momen yang seharusnya dipenuhi keberkahan dan peneladanan terhadap Rasulullah SAW justru terdistorsi oleh tontonan yang jauh dari nilai-nilai keislaman.

Dalam SKNC 2026 yang viral di media sosial, pertunjukannya itu memperlihatkan para talent yang mengenakan kostum-kostum iblis yang membawa kitab berlambang mata satu (Dajjal), obor, serta penggunaan simbol pentagram terbalik yang secara universal diidentikkan dengan aliran satanic.

Hal yang paling menyita perhatian dan memicu keresahan masyarakat adalah adegan penyembelihan seekor kambing di tengah rangkaian acara pertunjukan. 

Kambing tersebut dipotong secara tidak wajar hingga kepalanya terlepas dan darahnya berceceran di lantai arena pertunjukan.

Kiai Cholil memperingatkan bahwa penyembelihan hewan dengan cara yang tampak tidak beradab dan dijadikan tontonan horor sangat menyimpang dan bertentangan dengan syariat. 

Dalam konteks memperagakan seni Islam dan keguyuban, Kiai Cholil mengingatkan jangan menyimpang menjadi tampilan setan-setan, atau menyembelih hewan dengan cara yang tidak baik, lehernya dipotong hingga terlepas dan seterusnya. 

“Itu bukan ajaran Rasulullah," ujar Kiai Cholil dengan nada prihatin.

Lebih lanjut, Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah ini mengimbau panitia penyelenggara dan masyarakat luas untuk mengembalikan tradisi peringatan Maulid Nabi sesuai dengan arahan para ulama terdahulu, sebagaimana dirumuskan oleh Imam As-Suyuthi.

Umat Islam diajak untuk mengisi peringatan Maulid Nabi dengan tradisi yang menyejukkan dan menguatkan silaturahim.

Pembacaan ayat-ayat suci Alquran, lantunan shalawat, penyampaian mauidhoh hasanah (nasihat-nasihat baik), kisah teladan Nabi, serta penyediaan hidangan makanan sebagai bentuk syukur (sedekah).

Ketua Badan Pengurus DSN MUI ini berharap panitia di berbagai daerah dapat lebih selektif, bijaksana, dan berhati-hati dalam merancang ekspresi seni budaya Islami. 

Kiai Cholil menegaskan bahwa momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW harus tetap terjaga kesuciannya, sehingga benar-benar menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT serta menguatkan persaudaraan sesama umat.

"Jangan menyimpang,” kata dia.  

Sebab, kata Kiai Cholil,  dalam konteks bagaimana memperagakan seni Islam, tentang keguyuban, jangan menyimpang menjadi setan-setan, menyembelih hewan dengan cara tidak baik, lehernya dipotong dan seterusnya.   

slot gacorhttps://kencang77-on.com/https://kencang77.net/
BAGIKAN: