Lewati ke konten utama
Selasa, 8 September 2026 / 26 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

MUI Dorong Literasi Kemanusiaan untuk Tingkatkan Kepedulian terhadap Konflik Sudan dan Somalia

3 menit baca 34 dibaca
1000568524
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital --  Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong peningkatan literasi dan edukasi masyarakat mengenai konflik kemanusiaan yang terjadi di Sudan dan Somalia. Upaya tersebut dinilai penting untuk membangun kesadaran dan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap berbagai persoalan kemanusiaan di dunia.

Hal tersebut disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional (HLNKI), Dubes Safira Machrusah, dalam keterangannya terkait pertemuan MUI dengan Asia Middle East Center (AMEC).

Safira menjelaskan, AMEC merupakan lembaga yang memiliki perhatian terhadap upaya penyelesaian konflik sekaligus memberikan dukungan di bidang pendidikan dan ekonomi bagi masyarakat yang terdampak konflik, khususnya di Sudan dan Somalia.

Baca juga: Sudan Tuduh Ethiopia dan UEA Terlibat Serangan Drone, Tarik Dubes dari Addis Ababa

Menurutnya, konflik di kedua negara tersebut memiliki persoalan yang kompleks dan telah berlangsung cukup lama. Konflik tidak hanya berkaitan dengan persoalan masyarakat, tetapi juga melibatkan kelompok dan suku serta berkaitan dengan perebutan kekuasaan, akses, dan sumber daya.

“Sebetulnya muara terakhir adalah karena soal kekuasaan, kemudian akses dan sebagainya yang itu mengakibatkan adanya konflik yang terjadi antara masing-masing masyarakat. Konflik yang terjadi di Sudan maupun di Somalia ini sudah cukup lama,” ujar Safira.

Ia menilai kondisi kemanusiaan di Sudan dan Somalia perlu mendapatkan perhatian lebih luas. Menurutnya, persoalan kemanusiaan perlu dilihat secara menyeluruh tanpa terbatas pada wilayah tertentu.

“Ketika kita ngomong humanitarian aid, soal kemanusiaan, itu bukan di salah satu tempat, tapi kita harus melihatnya secara holistik,” jelasnya.

Baca juga: AS Tolak Usulan Israel untuk Mengusir Warga Palestina dari Gaza

Lebih lanjut, Safira juga menilai masih diperlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia mengenai kondisi yang terjadi di Sudan dan Somalia. Karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun pemahaman publik melalui kampanye dan kegiatan edukasi.

“Kalau langsung kita menggalang dana nanti kan orang-orang akan nanya, meskipun mereka punya duit dan mau, ini ngapain, di Sudan ada apa, Somalia kenapa, terus kenapa kok kita harus terlibat,” katanya.

Oleh karena itu, MUI bersama lembaga yang memiliki perhatian khusus terhadap persoalan Sudan dan Somalia akan mendorong literasi publik mengenai kondisi yang terjadi di kedua negara tersebut. Edukasi tersebut diharapkan dapat membangun kesadaran dan empati masyarakat sebelum masuk pada tahap penggalangan dukungan kemanusiaan.

“Jadi tugas pertama kita MUI adalah bersama-sama memberikan literasi secara terbuka apa yang terjadi di negara mana dan kenapa Indonesia, misalnya masyarakat Indonesia, diajak untuk memberikan kepedulian yang sama terhadap negara-negara tersebut,” tutur Safira.

Dalam pertemuan tersebut, AMEC juga menyampaikan gagasan untuk menggelar kegiatan bersama MUI, baik dalam bentuk konferensi maupun diskusi publik. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperkenalkan persoalan kemanusiaan di Sudan dan Somalia kepada masyarakat Indonesia.

Safira mengatakan MUI menyambut baik rencana tersebut. Selanjutnya, pihak terkait akan menindaklanjuti rencana kerja sama melalui penyusunan proposal serta pembahasan mengenai bentuk dan waktu pelaksanaan kegiatan.

Menurut Safira, upaya memperluas kepedulian kemanusiaan merupakan bagian dari semangat untuk melihat persoalan umat secara lebih luas dan egaliter. Kepedulian tersebut, kata dia, perlu diberikan kepada negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim maupun wilayah dengan komunitas Muslim sebagai kelompok minoritas.

“Kalau bisa kepedulian kemanusiaan kita harus menyebar ke semuanya, negara-negara Islam yang mayoritas juga, atau bisa jadi ke negara-negara di mana masyarakat Islamnya itu minoritas,” tegasnya.