Lewati ke konten utama
Senin, 10 Agustus 2026 / 26 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Kiai Cholil Nafis Berkelakar tak Berani Maju Ketum PBNU, Ini Alasannya

2 menit baca 162 dibaca
KH M Cholil Nafis
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH M Cholil Nafis dalam Bahtsul Masail Pra-Muktamar Ke-35 NU yang berlangsung di Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (8/8/2026). Foto: Sadam/ MUI Digital
Bagikan:

Depok, MUI Digital— Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH M Cholil Nafis melontarkan kelakar khas kiai Nahdlatul Ulama (NU) saat ditanya mengenai maraknya bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar Ke-35 NU.

Dengan nada bergurau, Kiai Cholil mengaku tidak berani ikut mencalonkan diri karena merasa belum kompeten untuk mengemban amanah besar tersebut.

Suasana hangat dan penuh tawa itu mengemuka di sela-sela pelaksanaan Bahtsul Masail Pra-Muktamar Ke-35 NU yang berlangsung di Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (8/8/2026).

Merespons banyaknya figur yang mulai menyatakan diri siap berkontestasi memimpin PBNU, Kiai Cholil menilai hal itu sebagai bentuk rasa percaya diri dan keberanian dari para calon yang merasa memiliki kemampuan mengelola organisasi.

Baca juga: Sekjen MUI: Fatwa Tidak Hadir di Ruang Hampa, Menjawab Isu Strategis Bangsa

"Saya husnuzhan, orang-orang yang berani mencalonkan diri itu karena merasa kompeten toh. Saya ini tidak berani mencalonkan diri karena merasa tidak kompeten," ujar Kiai Cholil yang disambut tawa tawa para wartawan dan kiai yang hadir.

"Saya tidak nyalonin diri. Jadi orang yang nyalonin diri itu berarti merasa kompeten, percaya diri. Minimal merasa kompeten, soal kebukti kompetennya kan nanti diuji," tambahnya.

Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah ini kemudian mengenang kembali tradisi dan budaya kepemimpinan di tubuh Nahdlatul Ulama pada masa lalu. 

Menurutnya, dahulu para kiai justru saling menghindar dan menolak ketika ditunjuk atau didorong untuk memegang jabatan struktural PBNU.

"Dulu itu orang mau jadi Ketua Umum pada nolak-nolak. 'Saya tidak pantas, saya tidak mau.' Dulu tradisinya begitu. Kalau sekarang kan 'Saya mencalonkan diri, saya mencalonkan diri'. Ya kalau pantas, semua yang terpilih nanti pasti pantas," ungkapnya.

Baca juga: Siapa Sosok Mbah Riyan, Ulama Low Profile Asal Kudus Penyabet MUI Award yang Viral?

Lebih lanjut, Kiai Cholil menjelaskan keunikan kepemimpinan di Nahdlatul Ulama yang penuh dengan dimensi keberkahan. 

Diaa menyebut bahwa dalam tradisi NU, kepemimpinan bukanlah sekadar soal angka-angka kompetensi di atas kertas, melainkan soal trust (kepercayaan) dan amanah spiritual yang sering kali mematangkan seorang pemimpin seiring berjalannya waktu.

"Di NU itu orang yang percaya dengan berkah, kapasitasnya bisa di-up oleh Allah. Bisa saja awalnya merasa tidak pantas, begitu terpilih jadi pantas. Kepemimpinan itu diujinya dari trust orang, bukan sekadar angka-angka," kata Kiai Cholil.