Ketum MUI: Perjuangan Memikirkan Umat Harus Dilandasi Keikhlasan
JAKARTA, MUI Digital — Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar mengajak seluruh pengurus dan anggota MUI untuk mensyukuri kesempatan yang diberikan Allah SWT untuk terlibat dalam perjuangan membela agama dan memikirkan kepentingan umat Islam.
Menurutnya, tidak semua orang memperoleh kesempatan untuk menjadi bagian dari perjuangan tersebut. Karena itu, kesempatan yang dimiliki harus dimanfaatkan sebaik-baiknya agar bernilai di sisi Allah SWT.
“Oleh karena itu, marilah kita syukuri bahwa kita dalam hidup masih ada waktu, masih ada kesempatan untuk menjadi bagian dari perjuangan hidup. Ini sebuah kesempatan yang tidak dimiliki oleh semua orang,” ujarnya dalam sambutan rapat pimpinan pada Selasa, (9/6/2026) di Kantor MUI, Jakarta.
Ia menegaskan bahwa perjuangan yang dilakukan para pengurus MUI harus dilandasi keikhlasan. Sebab, amal dan pengabdian yang tercampuri kepentingan pribadi maupun kepentingan sesaat akan kehilangan nilainya di hadapan Allah SWT.
Menurutnya, seluruh aktivitas yang dilakukan di lingkungan MUI, baik yang berkaitan langsung dengan dakwah maupun bidang-bidang lainnya, pada hakikatnya merupakan bagian dari upaya memikirkan agama Allah dan kemaslahatan umat Islam.
“Ketika itu semuanya diniati untuk memikirkan agama Allah dan memikirkan amril muslimin, itu pasti akan menjadi sesuatu yang bernilai di mata Allah,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam. Hal tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari ajaran Rasulullah SAW yang menekankan kepedulian terhadap kondisi umat.
Dalam kesempatan itu, ia menyoroti berbagai tantangan yang saat ini dihadapi umat Islam, mulai dari persoalan pendidikan, penyimpangan pemahaman keagamaan, ekonomi, politik, hukum, hingga pengaruh budaya yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah penetrasi budaya yang dapat memengaruhi generasi muda dan menjauhkan mereka dari tanggung jawab terhadap masa depan umat.
“Kalau ingin melemahkan generasi muda dan perjuangan masa depan, ya generasi muda dibuai dengan kesenangan dan hawa nafsu. Akhirnya lupa membaca buku, lupa membaca sejarah, lupa tanggung jawab masa depan,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi umat Islam saat ini bukanlah sesuatu yang baru. Para nabi dan rasul terdahulu juga menghadapi berbagai ujian dan risiko dalam menjalankan perjuangan mereka.
Karena itu, ia meminta seluruh pengurus MUI untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada. Menurutnya, MUI harus terus menjadi wadah untuk memikirkan berbagai persoalan umat dan mencari solusi terbaik bagi kemaslahatan bangsa.
“Majelis Ulama ini tempat kita semuanya untuk berpikir bagaimana agama Allah ini terus berjaya di Nusantara ini, untuk memikirkan bagaimana masalah-masalah umat yang terus-menerus mendapat tantangan,” katanya.
Pada akhir sambutannya, ia juga mendorong agar MUI semakin aktif membahas masa depan pendidikan keagamaan dan pesantren melalui berbagai forum diskusi, seminar, dan halaqah yang melibatkan para pakar dan pemangku kepentingan terkait.
Ia berharap berbagai ikhtiar tersebut dapat memperkuat peran MUI dalam menjawab tantangan umat sekaligus menjaga keberlangsungan pendidikan Islam di Indonesia.
“Kita sudah berjuang, kita sudah berbuat. Berbagai aspek harus benar-benar kita pikirkan semampu-mampu kita,” pungkasnya. (Fitri Aulia Lestari/Azhar)