Lewati ke konten utama
Kamis, 8 Oktober 2026 / 26 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Ilustrasi Perang Iran AS. Foto: Chat GPT
Ilustrasi Perang Iran versus AS. Foto: Chat GPT
Berita

Kapal Induk dan 10 Ribu Pasukan AS Dikerahkan ke Timteng, Perang Iran Kembali Meletus?

Kapal Induk dan 10 Ribu Pasukan AS Dikerahkan ke Timteng, Perang Iran Kembali Meletus?

/ 26 Rabiul Akhir 1448 H 4 menit baca 315 dibaca

Washington, MUI Digital — Amerika Serikat mengerahkan kelompok tempur kapal induk ketiga ke perairan Timur Tengah yang berada di sekitar Iran, di tengah perang yang memasuki bulan kedelapan dan berlanjutnya upaya diplomatik antara Washington dan Teheran.

Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kelompok tempur kapal induk USS Theodore Roosevelt meninggalkan pangkalannya di San Diego pada Ahad lalu menuju kawasan tersebut. 

Sehari kemudian, Unit Ekspedisi Marinir Makin Island (MEU) turut bergerak dengan membawa lebih dari 2.000 Marinir.

Menurut laporan The Wall Street Journal yang dikutip Aljazeera, pengerahan kelompok tempur dan armada angkatan laut tersebut dapat menambah sekitar 9.000 hingga 10 ribu personel militer AS, termasuk pelaut dan Marinir yang ditugaskan pada kelompok tempur kapal induk serta kapal lainnya.

Pejabat tersebut mengatakan, pada akhir November mendatang, tiga kapal induk dan dua kelompok pendaratan amfibi AS akan berada di sekitar Iran. 

Konsentrasi kekuatan tersebut dinilai memberikan lebih banyak pilihan kepada Presiden AS Donald Trump apabila ia memutuskan mengambil tindakan militer.

Aljazeera melaporkan, pengerahan terbaru juga mencakup jet tempur F-35 dan akan menambah sekitar 50 ribu personel militer AS yang telah berada di kawasan Timur Tengah.

Menurut koresponden Aljazeera di Washington, Tanya Noury, yang mengutip sumber di Pentagon dan Gedung Putih, tujuan pengerahan tersebut adalah menjaga opsi militer tetap tersedia bagi Trump terlepas dari perkembangan diplomasi. Pentagon juga disebut tidak berencana menarik aset militernya meskipun tercapai kesepakatan dengan Iran.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya mengatakan pasukan AS siap bertindak apabila Trump memerintahkan serangan baru.

Amerika Serikat telah memiliki puluhan ribu personel militer di Timur Tengah yang tersebar di sejumlah pangkalan. Menurut data yang dikutip Aljazeera, sekitar 40 ribu hingga 50 ribu personel AS telah ditempatkan di kawasan tersebut sejak pertengahan 2025.

Sejak perang dengan Iran berlangsung, Washington juga meningkatkan kekuatan militernya dengan mengirim kapal perang, pesawat tempur, serta pasukan tambahan ke kawasan tersebut.

Sebelumnya, dua kelompok pendaratan amfibi, yakni Tripoli Amphibious Ready Group dan Boxer Amphibious Ready Group, telah dikerahkan bersama unit Marinir masing-masing. Keduanya secara keseluruhan membawa sekitar 4.500 Marinir dan pelaut.

Selain itu, sekitar 2.000 personel dari Pasukan Respons Cepat Divisi Lintas Udara ke-82 juga dikirim ke Timur Tengah. Dengan demikian, hampir 7.000 personel tambahan telah dikerahkan sejak perang dimulai.

Pengerahan terbaru USS Theodore Roosevelt dan Makin Island MEU kemudian menambah skala kekuatan AS di kawasan tersebut. 

Aljazeera menyebut konsentrasi pasukan dan persenjataan itu terjadi ketika Washington dan Teheran masih mempertimbangkan jalur diplomatik.

Belum jelas apakah pengerahan terbaru tersebut akan berujung pada peningkatan serangan. Namun, dalam wawancara dengan Time, Trump mengisyaratkan kemungkinan peningkatan pemboman terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada November.

Ketika ditanya mengenai rencana serangan, Trump tidak memberikan rincian. Ia mengatakan kepada Time: “Saya tidak bisa memberi tahu Anda itu karena, lihat, Anda tahu, Anda bertanya, di mana Anda akan membom?”

Sejumlah analis yang dikutip Aljazeera menilai pengerahan tambahan pasukan juga dapat menjadi bagian dari strategi negosiasi Washington terhadap Teheran. 

Dengan menempatkan kekuatan militer dalam jumlah besar di kawasan tersebut, AS tetap memiliki opsi militer ketika pembicaraan diplomatik berlangsung.

Di tengah peningkatan kekuatan militer, perundingan tidak langsung antara AS dan Iran melalui mediator masih berlangsung tanpa terobosan berarti.

Salah satu isu utama dalam pembicaraan adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi titik penting dalam konflik kedua negara.

Iran sebelumnya mengajukan rencana tujuh hari untuk membuka kembali selat tersebut dengan sejumlah syarat, termasuk pencabutan sanksi AS, pencairan aset Iran, penghentian serangan dan dilanjutkannya pembicaraan mengenai program nuklir.

Namun, pemerintahan Trump menolak proposal tersebut. Aljazeera melaporkan Washington menginginkan isu lain, termasuk program nuklir Iran, turut dibahas sebelum menyetujui persyaratan apa pun.

Perkembangan terbaru menunjukkan Selat Hormuz masih menjadi salah satu persoalan utama dalam konflik. Pada 4 Oktober, Aljazeera melaporkan Iran menyatakan selat tersebut akan tetap ditutup sampai AS menerima tujuh syarat yang diajukan Teheran. 

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga mengatakan Iran tetap serius mencari solusi diplomatik, tetapi siap mempertahankan diri jika kembali menghadapi aksi militer AS.

Dengan tiga kapal induk dan dua kelompok pendaratan amfibi yang direncanakan berada di sekitar Iran pada akhir November, peningkatan kehadiran militer AS menambah tekanan terhadap proses diplomasi yang hingga kini belum menghasilkan kesepakatan.   

BAGIKAN: