Lewati ke konten utama
Senin, 27 Juli 2026 / 12 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

JK: Indonesia Harus Ambil Peran sebagai Mediator Perdamaian Timur Tengah

2 menit baca 73 dibaca
Jusuf Kalla
JK seusai menghadiri hari ketiga Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Ahad (26/7/2026). Foto: Latifahtul Jannah/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Muhammad Jusuf Kalla (JK), mendorong Indonesia mengambil peran lebih aktif sebagai mediator perdamaian di Timur Tengah. 

Menurutnya, Indonesia memiliki modal besar sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia serta kawasan yang relatif stabil untuk memfasilitasi dialog antarnegara Islam.

JK mengatakan, situasi di Timur Tengah justru semakin mengkhawatirkan setelah harapan perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat kembali kandas.

"Semula kita bergembira bahwa sudah ada kesepakatan antara Iran dengan Amerika. Tapi buyar lagi, malah makin meluas," ujar JK seusai menghadiri hari ketiga Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Ahad (26/7/2026).

Baca juga: Di KUII 2026, Wamenko Polkam: Politik adalah Ibadah Bukan Jalan Kekayaan

Menurutnya, negara-negara di kawasan harus mengedepankan penyelesaian damai agar konflik tidak semakin meluas, terutama yang terjadi di Yaman.

"Kita harap negara-negara Arab juga berusaha untuk saling mendamaikan," katanya.

JK menilai konflik internal di Yaman tidak boleh terus berlanjut karena berpotensi memperburuk stabilitas kawasan Timur Tengah.

"Houthi sendiri juga menahan diri untuk berdamai dengan pemerintah. Jangan sampai perang internal di Yaman menimbulkan masalah tambahan di seluruh Timur Tengah," tambahnya.

Baca juga: Wamenko Polkam Kritik Peran PBB dalam Konflik Palestina Masih Belum Optimal

JK juga mengingatkan seluruh pihak, termasuk Arab Saudi, Iran, dan Amerika Serikat, agar menahan diri sehingga eskalasi konflik tidak semakin meluas.

Berangkat dari kondisi tersebut, JK menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk mengambil inisiatif perdamaian melalui jalur diplomasi.

"Indonesia sebagai negara dengan penduduk masyarakat Islam terbesar tentu juga perlu memberi inisiatif," ujarnya.

JK menegaskan bahwa penyelesaian konflik hanya dapat dicapai melalui dialog, bukan kekerasan.

"Semuanya bisa selesai kalau ada dialog, ada pengertian masing-masing," tegasnya.

Karena itu, Indonesia dinilai layak menjadi pihak yang menjembatani komunikasi antarnegara yang sedang berkonflik.

"Indonesia siap untuk menjadi, katakanlah, pendengar di antara negara-negara itu karena kita relatif lebih aman di Asia Tenggara," jelasnya.

Menurut JK, posisi Indonesia bersama negara-negara Asia Tenggara yang relatif stabil menjadi modal penting untuk mendorong terciptanya perdamaian di Timur Tengah.