Lewati ke konten utama
Minggu, 26 Juli 2026 / 11 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Di KUII 2026, Wamenko Polkam: Politik adalah Ibadah Bukan Jalan Kekayaan

3 menit baca 55 dibaca
Wamenko
Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Wamenko Polkam), Letnan Jenderal TNI (Purn) Lodewijk Freidrich saat menjadi narasumber dalam Pleno VI bertajuk "Politik dan Keamanan Nasional di Tengah Dinamika Geopolitik Internasional" pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII, Sabtu (25/7/2026). Foto: Latifahtul Jannah/ MUI Digital
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital— Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Wamenko Polkam) RI, Letjen TNI (Purn) Lodewijk F Paulus, menyatakan politik sejatinya merupakan bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara, bukan sarana untuk mengejar kekayaan maupun kekuasaan.

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII Hari ke-2 yang diselenggarakan di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Sabtu (25/7/2026).

Dalam paparannya yang mengangkat tema "Membangun Sistem Politik dan Demokrasi Substansial, yang Bermoral, Berkeadilan, serta Memberdayakan Umat dan Kepentingan Bangsa, Guna Mewujudkan Indonesia Emas 2045", Lodewijk menilai bahwa tantangan politik nasional tidak hanya berasal dari dinamika geopolitik global, tetapi juga dari kualitas praktik politik di dalam negeri.

Menurutnya, pembangunan sistem politik Indonesia harus berangkat dari paradigma yang benar mengenai hakikat politik itu sendiri.

Baca juga: Pentingnya Akselerasi Ekonomi Hijau untuk Masa Depan Indonesia Menguat di KUII VIII

"Politik adalah ibadah pengabdian, bukan jalan kekayaan atau kekuasaan," tegasnya.

Dia menjelaskan bahwa politik yang berorientasi pada pengabdian akan melahirkan kepemimpinan yang mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Sebaliknya, apabila politik hanya dipandang sebagai alat memperoleh kekuasaan, maka praktik politik transaksional dan berbagai penyimpangan akan terus berulang.

Baca juga: Marak "Ustaz AI", Waketum MUI KH M Cholil Nafis Dorong Jihad Digital di KUII VIII

Dalam kesempatan tersebut, Lodewijk juga menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi Indonesia, antara lain politik transaksional yang berbiaya tinggi, kampanye negatif dan hitam, oligarki, politik dinasti, hingga demokrasi yang dinilai masih sebatas prosedural. 

Menurutnya, berbagai persoalan tersebut menjadi pekerjaan bersama untuk membangun sistem politik yang lebih sehat dan berkeadilan.

Karena itu, dia mengajak seluruh elemen umat Islam untuk membangun paradigma politik yang menjadikan kepentingan bangsa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kepentingan umat.

"Kesadaran bahwa kepentingan bangsa dan negara adalah bagian dari kepentingan umat," ujarnya.

Selain membangun paradigma tersebut, Lodewijk mendorong pendidikan politik yang berlandaskan nilai-nilai Islam wasathiyah dan rahmatan lil 'alamin

Baca juga: Buka KUII VIII, Ketua MPR Ahmad Muzani Serukan Kebersamaan Demi Indonesia Kuat

Dia menekankan bahwa masyarakat harus didorong memilih pemimpin berdasarkan integritas, kapasitas, dan program kerja, bukan karena janji politik ataupun praktik politik uang.

Lebih lanjut, dia mengajak seluruh komponen bangsa, khususnya umat Islam, memperkuat sinergi antara partai politik, organisasi kemasyarakatan Islam, tokoh masyarakat, serta penyelenggara negara guna menghadirkan demokrasi yang membawa kemaslahatan.

Menurut Lodewijk, cita-cita Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan apabila sistem politik nasional mampu menghasilkan pemerintahan yang bermoral, transparan, berkeadilan, dan benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat.

Lodewijk mengingatkan bahwa perbaikan bangsa harus dimulai dari perbaikan kualitas politik dan partisipasi umat dalam kehidupan berbangsa.

"Tidak ada perbaikan politik tanpa perbaikan diri kita sendiri, dan tidak ada perbaikan bangsa tanpa peran aktif umat," kata dia.