Gedung Wakaf MUI Jadi Tempat Pengungsian Korban Bencana Sumatera Barat
Admin
Penulis
AGAM, MUI Digital- Bencana banjir dan longsor di Nagari Sungai Batang Kecamatan Tanjungraya Kabupaten Agam Sumatera Barat menyisakan duka mendalam. Ratusan rumah hanyut dan rusak parah. Sebanyak 4 orang warga meninggal dunia, satu orang hilang.
Ratusan keluarga korban bencana di kawasan Danau Maninjau ini mengungsi ke tempat yang terbilang aman. Salah satu tempat pengungsian adalah GedungWakaf Majelis Ulama Indonesia (MUI).
"Ada 5 KK (kepala keluarga) korban yang ditampung di rumah gadang wakaf MUI, korban lainnya ditempat di posko-posko pengungsian lainnya, "ungkap Ali Akbar Hasyemi, anggota Sahabat Wakaf MUI yang menjadi relawan MUI di Nagari Sungai Batang, kepada MUI Digital, Kamis (4/12/2025),
Ali Akbar ditugaskan dari Jakarta berangkat hari Rabu pagi, 3 Desember 2025. Ia menyampaikan bantuan dari Dewan Pimpinan Pusat MUI kepada Wali Nagari Sungai Batang, seraya melakukan pendataan serta monitoring penanganan korban bencana dan fasilitas publik yang rusak.
Nagari Sungai Batang Kecamatan Tanjungraya Kabupaten Agam masih teriaolir. Wali Nagari Sungai Batang Datuk Rajo Achsin Chaniago saat ditelepon Guntur Subagja Mahardika dari Lembaga Wakaf MUI menjelaskan wilayahnya masih terisolir dan tidak dapat diakses kendaraan roda dua maupun roda empat.
Akses dari Lubuk Basung, ibukota Kabupaten Agam terputus. Begitu pula jalur dari arah Bukittinggi menuju Maninjau tergerus galodo (air bah dan longsor). Konon, 2 kelok dari 44 kelok yang biasa dilalui kensaraan hilang terbawa longsor.
Menuju Danau Maninjau bukan perjalanan mudah. Ali Akbar melalulan perjalanan dari Bandara Internasional Minangkabau, Padang, menuju lokasi menggunakan beberapa moda transportasi. Pertama, menumpang mobil sampai perbatasan wilayah yang bisa diakses kendaraan roda 4 di Kabupaten Agam, sampai kawasan PLTA Mukomuko.
Dari situ, menyambung menumpang sepeda motor sampai jalan trans kabupaten yang terputus, yang semula menghubungkan wilayah Nagari Paninggahan, Bancah, dan Sungai Batang. Selanjutnya,menggunakan perahu fonton menyusuri Danau Maninjau hingga Nagari Sungai Batang. Di seputar Danau Maninjau ada 9 nagari.
Wali Nagari Sungai Batang mengungkapkan, dalam beberapa hari sejak bencana terjadi tidak ada bantuan bahan pokok yang masuk ke wilayahnya.
Warga Nagari Sungai Batang bergotong royong iuran untuk membeli sembako ke Lubuk Basung, ibukota Kabupaten Agam, hanya dengan akses menggunakan perahu di Danau Maninjau sampai lokasi yang bisa diakses kendaraan.
"Alhamdulillah sekarang bantuan bahan pokok sekarang sudah ada kiriman dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), cukup untuk beberapa hari,"papar Ali Akbar dari lokasi bencana.
Warga korban bencana juga membutuhkan sarana air bersih. Sumber-sumber air bersih tertutup sisa galodo (banjir air bah dan lumpur) "Hasil musyawarah Wali Nagari dengan masyarakat, bantuan dana dari MUI akan digunakan membangun sumur bor untuk air bersih,"kata Akbar.
Yang juga sangat dibutuhkan adalah bantuan genset, atau sarana energi listrik lainnya seperti pembangkit mini solar panel, karena aliran listrik terputus. "Sudah ada 3 genset dari BNPB tapi masih diperlukan lebih banyak lagi,"jelas Akbar.
Hal serupa disampaikan Ketua MUI Kecamatan Tanjungraya Yasril Efendi. Dia melaporkan kondisi Pesantren Buya Hamka di Maninjau terisolir. Pesantren membutuhkan makanan pokok, genset, dan perahu fonton untuk transportasi.
"Listrik mati total karena 10 tiang listrik menuju pesantren tumbang diterjang longsor,"lapor Yasril Efendi.
Di Nagari Sungai Batang, Lembaga Wakaf MUI (LWMUI) memiliki aset wakaf di tepi Danau Maninjau. Gedung yang dibangun di atas lahan sekitar 2.000 m2 untuk pengembangan priwisata ramah muslim di Maninjau, yang merupakan kolaborasi LWMUI dengan wakif Keluarga Hajah Fatimah Karim Amrullah - Buya AR Sutan Mansur dan Bank Indonesia (BI).
Untuk sementara selama penanganan bencana, gedung yang terdiri lima kamar guest house, ruang tengah, dan halaman itu digunakan untuk penampungan korban bencana.
Gedung Wakaf MUI tersebut berdiri kokoh di tengah bencana. Hanya bagian halaman belakang yang dibangun Amphiteater di tepi Danau Maninjau terkikis limpahan galodo sekitar 10 meter dari tepi awal danau.
Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Penanggulangan Bencana Mabroer MS memaparkan MUI menyalurkan bantuan untuk korban bencana ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ribuan dus sembako sudah dikirimkan ke lokasi bencana dan akan terus berlanjut.
Aksi ini merupakan wujud nyata kepedulian umat dan komitmen MUI dalam membantu pemulihan masyarakat yang terdampak musibah. (Guntur, ed: Muhammad Fakhuddin)