Lewati ke konten utama
Senin, 7 September 2026 / 25 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

FSDS MUI dan Lapas Narkotika Bandar Lampung Resmikan Sekolah Dai, Imam, dan Khatib bagi Warga Binaan

3 menit baca 80 dibaca
Lampung
Program Sekolah Dai, Imam, dan Khatib Warga Binaan, Kamis (3/9/2026) lalu. Program tersebut diresmikan bersamaan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Lapas Narkotika Kelas IIA Bandar Lampung dengan Aparat Penegak Hukum (APH) dan berbagai mitra strategis, serta peresmian Klinik BPJS Lapas Narkotika Kelas IIA Bandar Lampung. Foto: istimewa
Bagikan:

Bandar Lampung, MUI Digital— Upaya pembinaan keagamaan bagi warga binaan terus diperkuat. Forum Silaturahim Dai Standardisasi (FSDS) Majelis Ulama Indonesia (MUI), MUI Provinsi Lampung bersama Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Bandar Lampung resmi meluncurkan Program Sekolah Dai, Imam, dan Khatib Warga Binaan, Kamis (3/9/2026) lalu. 

Program tersebut diresmikan bersamaan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Lapas Narkotika Kelas IIA Bandar Lampung dengan Aparat Penegak Hukum (APH) dan berbagai mitra strategis, serta peresmian Klinik BPJS Lapas Narkotika Kelas IIA Bandar Lampung.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Lapas Narkotika Kelas IIA Bandar Lampung itu menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara lembaga pemasyarakatan dan lembaga dakwah guna meningkatkan kualitas pembinaan kepribadian warga binaan.

Ketua Komisi Dakwah MUI Provinsi Lampung, Dr KH Rosyidi, menyambut baik lahirnya program tersebut. Menurutnya, dakwah harus mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga binaan yang tengah menjalani proses pembinaan dan perbaikan diri.

"Dakwah tidak mengenal batas ruang,” kata dia, dalam keterangannya kepada MUI Digital, Senin (7/9/2026). 

Baca juga: AS Tolak Usulan Israel untuk Mengusir Warga Palestina dari Gaza

Dia menyebut, warga binaan juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan keagamaan yang baik. Kami berharap program ini dapat menjadi sarana membentuk pribadi yang lebih religius, berakhlak, dan siap kembali menjadi bagian dari masyarakat.

Dia menjelaskan, Program Sekolah Dai, Imam, dan Khatib dirancang sebagai wadah pembelajaran keislaman yang sistematis dan berkelanjutan. Para peserta akan mendapatkan pembinaan mengenai aqidah, ibadah, akhlak, fiqih praktis, retorika dakwah, teknik menjadi imam salat, hingga praktik penyampaian khutbah.

Ketua FSDS MUI Chapter Lampung, Ustạdz Sukirman, menjelaskan bahwa program tersebut tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pembentukan karakter dan keterampilan sosial warga binaan

Pihaknya ingin melahirkan warga binaan yang tidak hanya memahami agama secara baik, tetapi juga mampu menjadi imam, khatib, dan dai yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungannya. 

“Ini merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk menghadirkan pembinaan yang berdampak nyata," kata Sukirman.

Baca juga: Prof Niam Optimis Wajib Halal Oktober Berdampak Positif, Minta Semua Pihak Saling Dukung

Dia menambahkan, para peserta yang mengikuti program akan mendapatkan pendampingan langsung dari para dai yang tergabung dalam FSDS MUI Lampung. 

Dengan metode pembelajaran yang terstruktur, kata dia, peserta diharapkan mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh baik selama berada di dalam lapas maupun setelah kembali ke tengah masyarakat.

Dia mengatakan Program ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap tujuan sistem pemasyarakatan yang menekankan aspek pembinaan dan rehabilitasi. 

Melalui pendekatan keagamaan, kata dia, warga binaan diharapkan mampu meningkatkan kesadaran spiritual, memperbaiki perilaku, serta memiliki bekal moral yang kuat untuk menjalani kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.

Peluncuran Sekolah Dai, Imam, dan Khatib mendapat apresiasi dari berbagai pihak karena dinilai sebagai langkah inovatif dalam membangun sumber daya manusia yang berkarakter dan berakhlak mulia. 

Selain memberikan bekal keagamaan, program ini juga membuka ruang bagi warga binaan untuk mengembangkan potensi diri dan menumbuhkan rasa percaya diri.

Dengan kolaborasi antara FSDS MUI Lampung dan Lapas Narkotika Kelas IIA Bandar Lampung, diharapkan program ini mampu melahirkan kader-kader dakwah baru yang tidak hanya menjadi teladan di lingkungan lapas, tetapi juga mampu berkontribusi positif bagi masyarakat setelah menyelesaikan masa pembinaannya.

Program tersebut menjadi bukti bahwa proses pemasyarakatan tidak semata-mata berorientasi pada penegakan hukum, tetapi juga pada upaya memanusiakan manusia melalui pendidikan, pembinaan, dan pemberdayaan yang berkelanjutan.