Di KUII VIII, Wantim MUI Serukan Empat Agenda Strategis Umat Menuju Indonesia Emas 2045
Jakarta, MUI Digital — Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) menyerukan empat agenda strategis umat Islam dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan dan global menuju Indonesia Emas 2045.
Empat agenda tersebut mencakup penguatan ukhuwah dan moderasi beragama, kedaulatan ekonomi, pengembangan sumber daya manusia berbasis sains dan teknologi, serta kepedulian terhadap geopolitik dan kemanusiaan global.
Hal itu diserukan langsung oleh Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI, KH Zainut Tauhid Sa’adi, dalam sambutannya pada Pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, empat agenda tersebut penting menjadi perhatian umat Islam di tengah dinamika geopolitik global yang penuh ketidakpastian, ancaman krisis pangan dan energi, serta pesatnya disrupsi teknologi digital.
“Menghadapi situasi ini dan dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045, Dewan Pertimbangan MUI menggarisbawahi empat ajakan strategis bagi seluruh peserta Kongres sebagaimana tema yang kita angkat dalam Kongres Umat Islam Indonesia ke-8 ini, ‘Umat Bersatu, Bangsa Berdaulat, Negara Kuat’,” ujarnya.
Pertama, Kiai Zainut menyerukan penguatan ukhuwah dan moderasi beragama atau wasathiyah Islam. Menurutnya, perbedaan yang ada di tengah umat harus menjadi kekuatan untuk menjaga persatuan, bukan justru menjadi sumber perpecahan.
“Perbedaan pandangan harus dikelola sebagai khazanah kekuatan, bukan perpecahan. Umat Islam harus hadir di garda terdepan sebagai perekat persatuan, penyejuk suasana, dan garda penjamin stabilitas nasional,” tegasnya.
Kedua, memperkuat kedaulatan ekonomi nasional dengan menjalankan amanat Pasal 33 UUD 1945. Kiai Zainut menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam harus dikelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Baca juga: KUII VIII Jadi Forum MUI dan Ormas Islam Evaluasi Arah Pembangunan Nasional
Dia juga menyerukan dukungan terhadap penegakan hukum yang adil tanpa pandang bulu dan tidak tebang pilih, pemberantasan korupsi, pencegahan kebocoran anggaran, serta pemberantasan praktik monopoli dan oligarki.
“Penegakan hukum dan efisiensi anggaran adalah syarat mutlak agar kekayaan nasional dapat terdistribusi secara adil melalui konsolidasi ekonomi dan kekuatan syariah, ketahanan pangan dan juga ketahanan energi serta pemberdayaan UMKM serta distribusi zakat, wakaf, infak, dan sedekah,” ujarnya.
Ketiga, Kiai Zainut mendorong pengembangan sumber daya manusia berbasis sains, teknologi, dan etika digital. Penguasaan terhadap perkembangan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan moral dan akhlak generasi Muslim.
“Kita harus melahirkan generasi Muslim masa depan yang unggul dalam penguasaan sains dan teknologi canggih, namun tetap berakar kuat pada benteng moral, etika bernegara, dan menjunjung tinggi akhlakul karimah,” tuturnya.
Keempat, umat Islam Indonesia didorong memperkuat kepedulian terhadap geopolitik dan kemanusiaan global, terutama dengan terus mengambil bagian dalam upaya menciptakan perdamaian dunia dan memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
"Umat Islam Indonesia harus terus memainkan peran aktif dalam menciptakan perdamaian dunia, menolak segala bentuk penjajahan serta mengawal perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina secara konsisten dan istiqamah,” katanya.
Dalam sambutannya, Kiai Zainut juga menegaskan bahwa penyelenggaraan KUII VIII memiliki bobot sejarah yang penting. Selain menjadi forum permusyawaratan umat Islam untuk menentukan arah perjuangan keumatan dan kebangsaan, momentum tersebut juga bertepatan dengan setengah abad pengkhidmatan MUI bagi persatuan dan kemajuan bangsa.
Sebagai komponen mayoritas pendiri bangsa, Kiai Zainut menegaskan bahwa umat Islam harus berada di depan dan menghadirkan peran nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Sebagai komponen mayoritas pendiri bangsa, keberadaan umat Islam tidak punya pilihan, harus berada di depan. Secara jumlah kita memang pada posisi yang cukup besar, namun kita juga harus menghadirkan peran-peran di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.
Eks Menteri Agama itu pun berharap, KUII VIII dapat menghasilkan rumusan yang mencerahkan dan memberikan manfaat nyata bagi umat.
“Semoga musyawarah ini menghasilkan risalah dan taujihat yang mencerahkan serta membawa maslahat yang dapat dirasakan manfaatnya untuk seluruh umat Indonesia,” pungkasnya.