Lewati ke konten utama
Sabtu, 26 September 2026 / 14 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Asrorun
Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Ni'am Sholeh. Foto: Sadam/ MUI Digital
Berita

Hikmah Kiai Ni’am: Berilmu Harus Disertai Kejernihan Hati dan Adab

Hikmah Kiai Ni’am: Berilmu Harus Disertai Kejernihan Hati dan Adab

/ 14 Rabiul Akhir 1448 H 4 menit baca 225 dibaca

Jakarta, MUI Digital— Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Ni’am Sholeh, menyatakan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kebersihan rohani bagi setiap penuntut ilmu. 

Prof Ni’am, begitu akrab disapa, menjelaskan bahwa keberadaan ilmu pada diri seseorang tidak hanya diukur dari seberapa penuh otaknya dengan wawasan, melainkan juga harus disertai dengan kejernihan hati agar ilmu tersebut membawa keberkahan dan kemaslahatan.

Pesan tersebut disampaikan Prof Ni’am saat mengisi pengajian rutin mingguan yang digelar oleh Pondok Pesantren An-Nahdlah. 

Pengajian yang membedah Kitab Nashaihul Ibad ini berlangsung secara hibrida pada Sabtu (26/9/2026) pagi, diikuti langsung oleh santri serta jamaah dari berbagai pelosok Indonesia melalui platform Zoom.

Dalam tausiyahnya, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengutip bait hikmah dari ulama besar Tabi'in, Imam Al-Hasan Al-Bashri: “Man la adaba lahu, la 'ilma lahu” (barang siapa yang tidak memiliki adab, maka tidak ada ilmu baginya yang diakui).

"Ada atau tidak adanya ilmu seseorang bukan hanya diukur oleh penuhnya otak, melainkan harus disertai dengan jernihnya hati. Kalau otaknya penuh tapi hatinya gelap, maka yang terjadi adalah ilmunya digunakan untuk kepentingan maksiat," ujar Prof Ni’am.

Prof Ni’am menyoroti fakta di era digital saat ini, di mana banyak orang mengejar kecanggihan ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis semata-mata demi kepentingan keduniaan dan materi, namun mengabaikan landasan adab serta moralitas.

Prof Ni’am memberikan contoh nyata tentang seseorang yang memiliki keahlian tinggi di bidang teknologi informasi (IT).

Tanpa dibimbing oleh adab dan kebersihan hati, keahlian tinggi tersebut rentan disalahgunakan untuk tindakan yang merugikan publik, seperti memfasilitasi platform judi online hingga melakukan peretasan (hacking) pada sistem keuangan.

"Kecanggihan ilmu pengetahuan minus adab, la 'ilma lahu, dianggap tidak ada ilmunya. Sekalipun dibayar tinggi, sudah dijamin orang tersebut tidak akan merasa tenang dalam hidupnya karena akan selalu membayangi ketakutan dan penyesalan," ujar pengasuh Ponpes An-Nahdlah ini.

Lebih lanjut, Prof Ni’am menjelaskan mekanisme kejiwaan manusia saat terjerumus ke dalam kesalahan. Pada tahap awal, hati nurani manusia melalui nafsu lawwamah akan memberikan bisikan penyesalan dan rasa bersalah. 

Namun, jika kemaksiatan dan penipuan terus-menerus dilakukan tanpa tobat, sensitivitas moral tersebut perlahan akan sirna.

"Kemaksiatan akan menyebabkan noda yang menutupi hati nurani,” kata dia.  

Dia menyebut semakin tebal noda hitam itu, qalbu akan tertutup hingga menjadi hati yang mati (qalbun mayyit). Akibatnya, ada orang yang tega melakukan kejahatan secara terang-terangan bahkan memamerkannya di media sosial tanpa rasa malu.

Sebagai solusi, Prof Ni’am mengingatkan kembali tradisi pengajaran para kiai di pesantren dan ajaran Rasulullah SAW mengenai konsep al-adabu qablal 'ilmi (adab terlebih dahulu sebelum ilmu).

Prof Ni’am memaparkan bahwa di dalam ajaran Islam, orang tua memiliki kewajiban dasar untuk memperbaiki nama dan membina adab anak-anak mereka sebelum mengajarkan Alquran dan ilmu pengetahuan lainnya. 

Dia menambahkan, pembiasaan adab sederhana, seperti berdoa sebelum aktivitas, menghormati orang tua dan guru, hingga tutur kata yang santun harus ditanamkan sejak dini.

Dia mengatakan, adab juga tercermin dari ucapan keseharian dan kemampuan menjaga lisan, termasuk di media sosial. Di era digital ini sangat mudah terjadi ghibah dan ujaran kebencian. 

“Orang yang beriman hendaknya memilih untuk berkata yang baik atau diam," kata Prof Ni’am.

Prof Ni’am berpesan kepada generasi muda agar terus menginternalisasi al-akhlaq al-karimah dalam kehidupan sehari-hari, serta mengimbau kaum dewasa dan para profesional untuk senantiasa meneladankan adab dalam relasi sosial maupun pekerjaan.

Pengajian rutin yang berlangsung setiap Sabtu pukul 05.15–06.00 WIB ini tidak hanya menjadi sarana pengetahuai keagamaan bagi para santri Ponpes An-Nahdlah, tetapi juga diikuti secara konsisten oleh ribuan jamaah dari latar belakang amil zakat, alumni IPNU, alumni UIN, pegiat Kementerian Agama, hingga insan BUMN dari berbagai daerah.

BAGIKAN: