Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Di Hadapan Cendekiawan Muslim, JK Berpesan Umat Islam Harus Kuasai Teknologi dan Ekonomi

3 menit baca 469 dibaca
Jk UIN
Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2004–2009 dan 2014–2019, H M Jusuf Kalla (JK) didampingi Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Asep Saepudin Jahar (kiri) dalam acara International Seminar and The 15th Annual General Meeting The Asian Islamic Universities Association (AIUA) yang berlangsung di Auditorium Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (23/06/2026). Foto: istimewa
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital— Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2004–2009 dan 2014–2019, H M Jusuf Kalla (JK), menyatakan bahwa kekuatan umat Islam di masa depan tidak akan pernah maksimal jika hanya bertumpu pada aspek keagamaan semata.

Berbicara di hadapan ratusan delegasi internasional, tokoh bangsa ini mendesak adanya pergeseran paradigma dalam dunia pendidikan Islam agar lebih serius menguasai kemajuan teknologi dan kemandirian ekonomi.

Hal tersebut disampaikan Jusuf Kalla saat memberikan sesi keynote address dalam acara International Seminar and The 15th Annual General Meeting The Asian Islamic Universities Association (AIUA) yang berlangsung di Auditorium Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (23/06/2026).

“Kekuatan kita tidak akan maksimal jika hanya bertumpu pada aspek agama saja tanpa kemajuan teknologi dan ekonomi. Ekonomi yang kuat adalah fondasi bagi keberlangsungan dakwah dan sosial. Kita harus belajar dari model pendidikan yang mampu menyandingkan agama dengan kemajuan sains," ujar Jusuf Kalla.

Dia juga menambahkan bahwa tanpa penguasaan teknologi yang matang serta semangat kewirausahaan (entrepreneurship), akan sulit bagi suatu negara atau peradaban untuk mencapai kemajuan yang nyata dan berdaya saing global.

Baca juga: Niat Puasa Asyura’, Lengkap Disertai Dalil Kesunnahan dan Tata Cara Pelaksanaannya

Dalam forum dunia akademis Islam rumpun Asia tersebut, Jusuf Kalla juga memberikan sebuah refleksi teologis yang menarik.

Dia mengajak para pemimpin perguruan tinggi Islam memaknai kembali filosofi doa populer umat Islam, yakni “Robbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah” (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat).

Menurut JK, doa tersebut harus diimplementasikan sebagai dorongan nyata bagi umat Islam untuk mengejar dan meraih kebaikan serta kebahagiaan duniawi terlebih dahulu melalui inovasi, sains, dan kemajuan ekonomi. Kebaikan di dunia itulah yang nantinya akan menjadi modal utama untuk mencapai kebahagiaan di akhirat.

Lebih lanjut, dalam konstelasi global yang kian kompleks, JK mengingatkan bahwa kampus-kampus Islam di Asia harus mampu menyuarakan perdamaian dunia. 

Baca juga: Wasekjen MUI Ingatkan Kritik Pemerintah Melalui Demo Boleh, Asalkan...

Namun, diplomasi pendidikan dan perdamaian tersebut hanya akan didengar jika dibangun di atas basis kekuatan intelektual dan kemandirian ekonomi yang kokoh.

Pandangan tajam Jusuf Kalla tersebut mendapat respons positif dari Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Presiden AIUA, Prof Asep Saepudin Jahar. 

Prof Asep, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa institusi pendidikan Islam modern saat ini memang harus berani melakukan transformasi besar dengan menghapus dikotomi antara ilmu agama dan sains.

Baca juga: MUI: Jika Anggota Keluarga Terindikasi LGBT, Rangkul dan Jangan Dihukum Fisik

“UIN Jakarta berkomitmen melahirkan lulusan yang tidak hanya mendalami ilmu keagamaan secara mendalam, tetapi juga menguasai teknologi dan memiliki semangat kewirausahaan yang moderat, humanis, serta solutif terhadap problematika global,” jelas Prof Asep.

Prof Asep menambahkan, semangat penguatan ekonomi dan inovasi teknologi yang didorong oleh Jusuf Kalla sangat sejalan dengan visi transformasi UIN Jakarta yang saat ini sedang berada dalam tahap akhir menuju Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH).

Sebagai informasi, forum AIUA 2026 ini dihadiri oleh sekitar 150 hingga 200 delegasi dari 40 perguruan tinggi Islam yang berasal dari tujuh negara di Asia, termasuk Thailand, Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Pertemuan tahunan ke-15 ini dijadwalkan berlangsung hingga 25 Juni 2026 untuk merumuskan Rencana Strategis AIUA 2026–2028.