Saat Jamaah Haji Indonesia Tiba di Madinah
Ibnu Mufti
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Ketika jamaah haji tiba di Madinah, lalu turun dari bus untuk menuju hotel tempat mereka menginap, hal pertama yang mereka tanyakan adalah: “Ke mana arah menuju Masjid Nabawi?” Pertanyaan inilah yang selalu saya temui saat saya diberi amanah menjadi petugas haji di Madinah.
Lelahnya perjalanan panjang naik pesawat
rute Indonesia-Madinah (bagi jamaah haji gelombang satu) yang menghabiskan
waktu sekitar sembilan jam, seolah hilang oleh kerinduan ingin segera melaksanakan shalat
di Masjid Nabawi.
Setelah jamaah selesai dengan persoalan pembagian kamar, segera terlihat mereka berbondong-bondong menuju masjid. Saking semangatnya, bahkan mungkin belum sempat mandi, karena yang penting bagi mereka bisa segera melihat langsung Masjid Nabawi dan melaksanakan ibadah shalat di dalamnya.
Baca juga: Menikmati Syahdunya Raudhah 'Taman Surga' di Nabawi: Lokasi Doa yang Diijabah
Entah sesampainya di Madinah saat sedang terik-teriknya matahari dengan suhu panasnya yang membakar kulit ataupun di tengah malam saat waktu enak-enaknya tidur, tak menghentikan jamaah haji untuk segera menunaikan ibadah shalat di Masjid Nabawi.
Mereka membawa rindu berat dari Indonesia,
berkunjung ke masjid di mana Nabi mendakwahkan Islam dan diterima dengan tangan
terbuka oleh penduduk Madinah.
Bagaimanapun juga, shalat di Masjid Nabawi memiliki keutamaan 1000 kali shalat dibandingkan dengan shalat di masjid selainnya, kecuali Masjidil Haram.
Rasulullah SAW bersabda:
صَلَاةٌ فِي
مَسْجِدِيْ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيْمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ
“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada seribu shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)
Baca juga: Proses Pembangunan Masjid Nabawi dan Fungsinya yang Vital Awal Islam
Selain itu, ketika jamaah haji sampai di
pelataran Masjid Nabawi, mereka akan melihat kubah hijau, di mana di bawah
kubah hijau itulah jasad mulia Rasulullah SAW dimakamkan.
Mereka bisa menziarahi dengan melintas di
depan makam Rasulullah SAW dan mengucapkan salam. Atau kalau berkunjung ke raudhah
(“taman” atau pelataran sekitar makamnya), maka makam Nabi persis berada di
sampingnya.
Nikmat yang tak terkira, rasanya campur
aduk karena bahagia yang benar-benar menyeruak di seluruh tubuh. Jamaah haji
akan merasakan atmosfer bagaimana kerinduan terhadap Rasulullah terobati. Yang
biasanya dibatasi oleh jarak yang jauh, sekarang begitu dekat, fisik dan hati
seolah berhadapan langsung dengan Rasulullah.
Walaupun Rasulullah sudah “wafat”, tapi
saat kita berkunjung ke makam Rasulullah seolah kita menziarahi Rasulullah dalam
keadaan beliau masih hidup.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ زَارَنِي
بَعْدَ مَمَاتِيْ فَكَأَنَّمَا زَارَنِيْ فِي حَيَاتِيْ
“Siapa yang menziarahiku setelah matiku, seakan dia telah manziarahiku pada waktu aku masih hidup.” (HR Daruquthni, Thabrani, dan Baihaqi)
Baca juga: Umar Ibnu Khattab, Pribadi Hasil Tempaan Rasulullah SAW
Dalam kitab Hikmah at-Tasyri’ wa
Falsafatuhu karya Syekh Ali Ahmad al-Jurjawi (wafat 1380 H), disebutkan
bahwa salah satu hikmah mengunjungi makam Rasulullah adalah Anda dapat berdiri
di hadapannya dalam kondisi tunduk (khidmat) karena beliau adalah perantara
agung bagi datangnya nikmat Islam dan menapaki petunjuk jalan yang lurus serta
kenikmatan akhirat yang abadi.
Sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan kepada perantara tersebut (Muhammad), Allah mensyariatkan untuk melakukan ziarah ke makam Rasulullah yang mulia dan raudhah yang diberkahi dan merupakan salah satu taman surga.
Baca juga: Ketika Nama “Muhammad” Telah Dikenal dan Dipakai oleh Bangsa Arab Sebelum Fajar Kenabian
Lalu saat jamaah haji Indonesia sudah selesai melaksanakan rangkaian manasik haji dan kembali lagi ke tanah air, saya yakin seratus persen mereka akan merindukan Madinah dan suasananya. Madinah
adalah kota Nabi yang menyejukkan hati, sebuah kota yang menjadi saksi sejarah
bagaimana Islam didakwahkan di sana.
Hingga hari ini, kita yang berada di Indonesia juga merasakan sentuhan lembut dakwah Islam itu. Karena itu, patut kiranya berharap, semoga kita diberi kesempatan untuk berkunjung ke Madinah sebagai jamaah haji dan menjadi bagian dari orang-orang yang kelak mendapatkan syafaat Rasulullah SAW. Amin.