5 Keutamaan Menghadiri Peringatan Maulid Nabi Berdasarkan Penjelasan Ulama
Jakarta, MUI Digital — Bulan Rabiul Awal memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam lantaran menjadi bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid yang lazim diselenggarakan pada 12 Rabiul Awal pun telah menjadi tradisi keagamaan yang mengakar kuat di tengah kehidupan masyarakat muslim di banyak negara, khususnya di Indonesia.
Dalam praktiknya, peringatan Maulid tidak
hanya berlangsung dalam satu hari. Di sejumlah daerah, rangkaian kegiatan
diselenggarakan selama beberapa hari, bahkan sepanjang bulan Rabiul Awal.
Majelis Maulid biasanya diisi dengan pembacaan riwayat kehidupan Rasulullah
SAW, shalawat, dzikir, doa, sedekah, hingga hidangan makanan bagi para jamaah.
Berbagai kegiatan itu menjadi salah satu
cara umat Islam dalam mengekspresikan rasa syukur sekaligus kecintaan kepada
Rasulullah SAW. Merujuk sejumlah literatur keislaman, dijumpai keterangan
mengenai berbagai keutamaan yang dapat diperoleh dari mengagungkan dan
menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi.
Berikut ini lima keutamaan menghadiri dan
memuliakan peringatan Maulid Nabi yang penulis rangkum menurut keterangan para
ulama:
1. Dikelilingi rahmat dan doa para malaikat
Keutamaan pertama berkaitan dengan turunnya
rahmat Allah. Tempat yang digunakan untuk membaca Maulid Nabi akan dikelilingi
para malaikat. Para malaikat tersebut juga mendoakan orang-orang yang berada di
dalam majelis itu.
Hal ini menggambarkan bahwa majelis Maulid
bukan hanya sebagai ruang pertemuan antarsesama muslim, tetapi juga sebagai
majelis yang menjadi sebab turunnya rahmat dan keridhaan Allah. Terlebih,
peringatan Maulid umumnya diisi dengan berbagai amal kebaikan seperti bacaan dzikir,
shalawat, doa, dan mengingat perjalanan kehidupan Rasulullah.
مَا مِنْ بَيْتٍ أَوْ مَسْجِدٍ أَوْ
مَحَلَّةٍ قُرِئَ فِيهِ مَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِلَّا حَفَّتْ الْمَلَائِكَةُ ذَلِكَ الْبَيْتَ أَوِ الْمَسْجِدَ أَوِ
الْمَحَلَّةَ وَصَلَّتْ الْمَلَائِكَةُ عَلَى أَهْلِ ذَلِكَ الْمَكَانِ وَعَمَّهُمُ
اللهُ تَعَالَى بِالرَّحْمَةِ وَالرِّضْوَانِ
“Tidaklah Maulid Nabi SAW dibacakan di
suatu rumah, masjid, atau suatu tempat, melainkan para malaikat akan
mengelilingi rumah, masjid, atau tempat itu. Para malaikat juga turut mendoakan
orang-orang yang berada di tempat itu, sementara Allah Ta’ala melimpahkan
kepada mereka rahmat dan keridaan-Nya.” (Abu Bakar
bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah At-Thalibin [Beirut:
Dar Al-Kutub Ilmiyah], vol. 3, h. 608)
Karenanya, menghadiri Maulid dapat menjadi momentum untuk memperbanyak dzikir dan shalawat sembari mengharapkan limpahan rahmat Allah.
Baca juga: Maulid Nabi, Momentum Tebar Spirit Keteladanan Muhammad SAW
2. Terhindar dari marabahaya dan bencana
Keutamaan berikutnya adalah keberkahan
berupa perlindungan dari berbagai marabahaya. Bacaan Maulid Nabi di sebuah
rumah bisa menjadi sebab adanya perlindungan Allah bagi penghuni rumah tersebut
dari ragam musibah serta marabahaya mulai dari kekeringan, wabah, kebakaran,
banjir, hingga berbagai gangguan lainnya.
Selain keselamatan secara lahiriah, Allah
juga akan memberikan padanya perlindungan dari kebencian, kedengkian, dan
pandangan buruk orang lain.
مَا مِنْ مُسْلِمٍ قُرِئَ فِي بَيْتِهِ
مَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا رَفَعَ اللهُ
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْقَحْطَ وَالْوَبَاءَ وَالْحَرْقَ وَالْغَرَقَ
وَالْآفَاتِ وَالْبَلِيَّاتِ وَالْبُغْضَ وَالْحَسَدَ وَعَيْنَ السُّوْءِ وَاللُّصُوْصَ
عَنْ أَهْلِ ذَلِكَ الْبَيْتِ، فَإِذَا مَاتَ هَوَّنَ اللهُ عَلَيْهِ جَوَابَ
مُنْكَرٍ وَنَكِيْرٍ وَيَكُوْنُ فِيْ مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيْكٍ مُقْتَدِرٍ
“Tidaklah Maulid Nabi SAW dibacakan di
rumah seorang Muslim, melainkan Allah SWT akan menjauhkan dari penghuni rumah
tersebut kekeringan, wabah, kebakaran, tenggelam, berbagai musibah dan bencana,
kebencian, kedengkian, pandangan mata yang buruk, serta gangguan pencuri. Apabila
orang itu meninggal dunia, maka Allah akan memudahkan baginya dalam menjawab
pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir. Ia pun akan berada di tempat yang penuh
kemuliaan di sisi Sang Raja Yang Mahakuasa.” (Abu
Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah At-Thalibin
[Beirut: Dar Al-Kutub Ilmiyah], vol. 3, h. 608)
Dengan demikian, penjelasan di atas dapat dipahami sebagai dorongan untuk menjadikan majelis Maulid sebagai ruang untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah. Lantaran, perlindungan dan keselamatan pada hakikatnya tetap berada dalam kekuasaan-Nya.
Baca juga: 3 Amalan yang Dianjurkan di Bulan Maulid, Lengkap dengan Dalil dan Penjelasannya
3. Dikumpulkan bersama golongan orang-orang
mulia
Kecintaan terhadap Rasulullah SAW tidak
hanya diekspresikan melalui bacaan shalawat maupun kisah perjalanan hidup
beliau semata. Dalam tradisi Maulid, kecintaan dapat diwujudkan dengan membantu
penyelenggaraan majelis Maulid, seperti menyediakan makanan, mengundang para
jamaah, serta memberikan pelayanan terbaik bagi mereka yang hadir.
Orang yang mempersiapkan berbagai kebutuhan
peringatan Maulid sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah kelak akan
dikumpulkan bersama golongan mulia bersama para nabi dan orang-orang saleh,
serta mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah pada Hari Kiamat.
مَنْ هَيَّأَ طَعَامًا لِأَجْلِ
قِرَاءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَمَعَ
إِخْوَانًا وَأَوْقَدَ سِرَاجًا وَلَبِسَ جَدِيدًا وَتَبَخَّرَ وَتَعَطَّرَ
تَعْظِيْمًا لِمَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حَشَرَهُ اللهُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ الْفِرْقَةِ الْأُوْلَى مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَكَانَ فِي
أَعْلَى عِلِّيِّيْنَ
“Barang siapa menyiapkan makanan untuk
keperluan pembacaan Maulid Nabi SAW, mengumpulkan saudara-saudaranya,
menyalakan penerangan, mengenakan pakaian baru, menggunakan wewangian, dan
berhias sebagai bentuk penghormatan terhadap kelahiran Nabi SAW. Maka Allah
akan mengumpulkannya pada Hari Kiamat nanti bersama golongan utama dari para
nabi. Serta akan ditempatkan di derajat yang sangat tinggi di surga.” (Abu
Bakar bin Syatha Muhammad Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah At-Thalibin
[Beirut: Dar Al-Kutub Ilmiyah], vol. 3, h. 608)
Keterangan di atas sekaligus menunjukkan bahwa memuliakan Maulid dapat dilakukan melalui partisipasi nyata. Menyediakan hidangan makanan dan membantu berlangsungnya majelis Maulid bisa bernilai kebaikan tatkala dilandasi niat untuk memuliakan Rasulullah dan berbagi dengan sesama.
Baca juga: Apakah Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW?
4. Masuk surga tanpa hisab
Keutamaan lainnya yang dijelaskan ulama
ialah orang yang mengagungkan kelahiran Rasulullah SAW dan menjadi sebab
terselenggaranya pembacaan Maulid akan memperoleh anugerah berupa wafat dalam
kondisi beriman dan masuk surga tanpa hisab.
مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ سَبَبًا لِقِرَاءَتِهِ لَا يَخْرُجُ مِنَ
الدُّنْيَا إِلَّا بِالْإِيْمَانِ وَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Barang siapa mengagungkan Maulid Nabi
SAW dan menjadi sebab terselenggaranya pembacaan Maulid, maka ia tidak akan
meninggalkan dunia (wafat) kecuali dalam keadaan beriman. Dan akan masuk surga
tanpa melalui hisab.” (Ahmad bin Ali Ibn Hajar
Al-Haitami, An-Ni’mah al-Kubra ’ala al-‘Alam fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam
[Istanbul: Maktabah Al-Haqiqah], h. 8)
Uraian perihal keutamaan ini selayaknya
menjadi pendorong untuk mengisi peringatan Maulid dengan amal-amal yang semakin
mendekatkan diri kepada Allah.
Pengagungan terhadap Rasulullah sejatinya tidak hanya diwujudkan secara seremonial belaka, namun juga bisa melalui kesungguhan mengikuti ajaran dan meneladani akhlaknya.
Baca juga: Bulan Rabiul Awal, Momentum Refleksikan Sikap Toleran dan Kepemimpinan
5. Meraih keberkahan dan ampunan Allah
SWT
Di samping rangkaian dzikir dan shalawat,
hidangan makanan juga menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari tradisi
Maulid di tengah masyarakat. Hidangan tersebut, selain menjadi jamuan bagi
jamaah, juga menjadi bentuk amal sedekah serta bentuk kebersamaan.
Orang yang menikmati hidangan itu
disebutkan dapat memperoleh keberkahan dan ampunan Allah. Sementara, orang yang
meminum air yang disajikan dalam majelis Maulid digambarkan akan memperoleh
cahaya dan limpahan rahmat dalam hatinya, sekaligus dibersihkan dari sifat
dengki dan berbagai penyakit batin lainnya.
مَا مِنْ شَخْصٍ قَرَأَ مَوْلِدَ
النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِلْحٍ أَوْ بُرٍّ أَوْ شَيْءٍ
آخَرَ مِنَ الْمَأْكُولَاتِ، إِلَّا ظَهَرَتْ فِيْهِ الْبَرَكَةُ وَفِي كُلِّ
شَيْءٍ وَصَلَ إِلَيْهِ مِنْ ذَلِكَ الْمَأْكُولِ فَإِنَّهُ يَضْطَرِبُ وَلَا
يَسْتَقِرُّ حَتَّى يَغْفِرَ اللهُ لِآكِلِهِ. وَإِنْ قُرِئَ مَوْلِدُ النَّبِيِّ
عَلَى مَاءٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْ ذَلِكَ الْمَاءِ دَخَلَ قَلْبَهُ أَلْفُ نُورٍ
وَرَحْمَةٍ وَخَرَجَ مِنْهُ أَلْفُ غِلٍّ وَعِلَّةٍ وَلَا يَمُوتُ ذَلِكَ
الْقَلْبُ يَوْمَ تَمُوْتُ الْقُلُوْبُ
“Tidaklah seseorang membacakan Maulid
Nabi SAW pada garam, gandum, atau makanan lainnya, melainkan keberkahan akan
tampak pada makanan itu dan pada setiap sesuatu yang terkena atau tercampur
dengannya. Makanan itu tidak akan berhenti bergerak hingga Allah mengampuni
orang yang memakannya. Jika Maulid Nabi dibacakan pada air, maka siapa pun yang
meminum air tersebut, akan masuk ke dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat,
serta keluar darinya seribu kedengkian dan penyakit hati. Hati itu juga tidak
akan mati pada hari ketika hati-hati manusia mengalami kematian.” (Ahmad
bin Ali Ibn Hajar Al-Haitami, An-Ni’mah al-Kubra ’ala al-‘Alam fi Maulidi
Sayyidi Waladi Adam [Istanbul: Maktabah Al-Haqiqah], h. 6)
Sebagai catatan, menghadiri majelis Maulid
semestinya tidak berhenti pada kehadiran secara fisik atau sekadar mengikuti
rangkaian acaranya. Pasalnya, nilai terpenting dari majelis tersebut justru
terletak pada tumbuhnya rasa cinta dan penghormatan kepada Rasulullah.
Kecintaan itu kemudian diwujudkan dalam meningkatnya ketaatan kepada Allah,
memperbanyak amal saleh, serta semakin bersungguh-sungguh meneladani dan
menjalankan ajaran Nabi dalam kehidupan sehari-hari.
Demikianlah lima keutamaan menghadiri dan memuliakan peringatan Maulid Nabi sebagaimana dijelaskan dalam berbagai keterangan ulama. Wallahu a‘lam bis shawab.