Lewati ke konten utama
Minggu, 4 Oktober 2026 / 22 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Sekjen MUI Abu Dhabi
Silaturahim Peneliti Senior Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian Dunia Dr Muhammad Mahbub bin Bayyah, yang merupakan cucu dari ulama Syekh Abdullah bin Bayyah bersama Mantan Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Islam Dr Muhammad Sholahuddin Al-Mustawi. Kunjungan silaturahim tersebut juga dirangkaikan dalam Simposium Ilmiah bertajuk "Pembentukan Fatwa dan Fikih Realitas Menurut Al-Allamah Abdullah bin Bayyah" yang digelar di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta, Sabtu (3/10/2026). Foto: Sadam/ MUI Digital
Berita

Sekjen MUI Sebut Pemikiran Syekh Bin Bayyah Arusutamakan Islam Wasathiyah

Sekjen MUI Sebut Pemikiran Syekh Bin Bayyah Arusutamakan Islam Wasathiyah

/ 22 Rabiul Akhir 1448 H 3 menit baca 319 dibaca

Jakarta, MUI Digital— Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya  Amirsyah Tambunan, menilai corak pemikiran ulama besar asal Uni Emirat Arab (UEA), Syekh Abdullah bin Bayyah, telah menjadi arus utama dalam gerakan Islam Wasathiyah (moderasi Islam) di era modern.

Hal tersebut disampaikannya saat menyambut kunjungan silaturahim Peneliti Senior Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian Dunia Dr Muhammad Mahbub bin Bayyah, yang merupakan cucu dari ulama Syekh Abdullah bin Bayyah bersama Mantan Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Islam Dr Muhammad Sholahuddin Al-Mustawi. 

Kunjungan silaturahim tersebut juga dirangkaikan dalam Simposium Ilmiah bertajuk "Pembentukan Fatwa dan Fikih Realitas Menurut Al-Allamah Abdullah bin Bayyah" yang digelar di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta, Sabtu (3/10/2026).

Buya Amirsyah menyampaikan bahwa metodologi hukum (manhaj) yang dikembangkan oleh Ketua Dewan Fatwa UEA berusia 91 tahun tersebut memiliki keunggulan spesifik karena berakar kuat pada realitas, mudah beradaptasi, dan konsisten berorientasi pada perdamaian.

Dia menyebut pemikiran Syeikh Abdullah bin Bayyah menjadi pilar penting arus utama Islam Wasathiyah karena mampu mengharmoniskan antara teks suci (zhahir nushush) dan konteks zaman melalui nalar yang sehat. 

“Beliau menegaskan bahwa moderasi bukanlah sekadar kompromi, melainkan metode pemahaman Islam yang utuh dan kontekstual," ujar Buya Amirsyah.

Lebih lanjut, Sekjen MUI menyoroti empat pilar utama pemikiran Syeikh Bin Bayyah yang memperkokoh gerakan Wasathiyah global. 

Pertama, kalibrasi antara indikasi tekstual dan realitas kontemporer (fiqh al-waqi') yang mampu menjauhkan umat dari sikap ekstrem kaku (ifrath) maupun liberalisme yang mengabaikan syariat (tafrith).

Kedua, orientasi pada tujuan hukum Islam (maqashid al-syari'ah) yang mengedepankan keadilan, kemaslahatan, dan kasih sayang (rahmah).

Ketiga, gagasan inklusif mengenai fikih minoritas (fiqh al-aqalliyyat) yang memberikan solusi hukum fleksibel bagi komunitas Muslim di negara-negara Barat agar dapat berintegrasi secara damai tanpa kehilangan identitas keimanan. 

Keempat, penolakan tegas terhadap gerakan radikalisme dan budaya pengkafiran (takfir).

Dia mengatakan, sebagai Presiden Forum Perdamaian Abu Dhabi, Syeikh Bin Bayyah menunjukkan bahwa Islam Wasathiyah menolak keras budaya takfir. 

“Kedamaian adalah syarat mutlak agar peradaban Islam dan kemaslahatan umat dapat tumbuh subur," tambah Buya Amirsyah.

Dalam simposium tersebut, Sekjen MUI juga menggarisbawahi pandangan moderat Syeikh Bin Bayyah terkait fikih politik (fiqh al-siyasah), di mana sistem pemerintahan dipahami sebagai ranah kebijakan dinamis yang berorientasi pada kemaslahatan bangsa, bukan bagian dari inti teologi yang kaku.

BAGIKAN: