Lewati ke konten utama
Jumat, 9 Oktober 2026 / 27 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Aksara Alquran
Buya Amirsyah saat membuka acara Training For Trainer (TFT) Metode Baca Tulis Hafal Quran Gerakan Dala yang diselenggarakan oleh Lembaga Wakaf MUI di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2026). Foto: Sadam/ MUI Digital
Berita

Sekjen MUI Ajak Seluruh Elemen Berkolaborasi Tekan Buta Aksara Alquran

Sekjen MUI Ajak Seluruh Elemen Berkolaborasi Tekan Buta Aksara Alquran

/ 27 Rabiul Akhir 1448 H 3 menit baca 139 dibaca

Jakarta, MUI Digital— Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Amirsyah Tambunan, mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah, serta lembaga keagamaan untuk memperkuat kolaborasi demi menekan angka buta aksara Alquran di Indonesia yang saat ini masih tergolong sangat tinggi.

Hal tersebut disampaikan Buya Amirsyah saat membuka acara Training For Trainer (TFT) Metode Baca Tulis Hafal Quran Gerakan Dala yang diselenggarakan oleh Lembaga Wakaf MUI di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2026).

Buya Amirsyah menggarisbawahi data prihatin dari hasil penelitian Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta yang menunjukkan bahwa angka buta aksara Alquran di Indonesia mencapai 72,25 persen dari total populasi Muslim. 

Hal ini menandakan ada lebih dari 170 juta umat Islam yang masih terbata-bata atau belum mampu membaca kitab suci Alquran dengan baik dan benar sesuai kaidah ilmu tajwid.

"Angka 72 persen itu masih sangat tinggi. Karena itu, target kita harus terukur. Dalam kurun waktu lima tahun ke depan kita targetkan turun lima persen, dan dalam sepuluh tahun bisa turun hingga ten persen atau bahkan lebih. Supaya apa? Supaya gerakan pengentasan buta aksara Alquran ini memiliki tolok ukur capaian yang jelas," ujar Buya Amirsyah.

Untuk mencapai target penurunan tersebut, Buya Amirsyah menekankan bahwa kunci utamanya terletak pada kekuatan sinergi dan kolaborasi lintas sektor. 

Menurutnya, program semulia apa pun tidak akan sanggup dijalankan sendirian oleh satu lembaga mengingat besarnya populasi umat yang harus dijangkau di seluruh penjuru Tanah Air. 

Buya Amirsyah menilai, jalur pendidikan formal seperti pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi memang telah berkontribusi besar, tetapi belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat hingga ke pelosok pedesaan secara menyeluruh.

Dia menyebut sebaik apa pun dan semulia apa pun program ini, tidak bisa dikerjakan sendiri. Umat Islam sangat banyak. Oleh karena itu, butuh kolaborasi dan sinergi bersama organisasi masyarakat, lembaga pendidikan, hingga pemerintah. 

“Jangan sampai kita biarkan umat kita terus-menerus tidak bisa membaca dan memahami Alquran," kata dia menegaskan.

Menurut Buya Amirsyah, pogram pengentasan buta aksara Alquran ini diposisikan sebagai gerakan nasional yang bertujuan mulia untuk memuliakan umat Islam. 

Sasaran utamanya mencakup pembimbingan bagi anak-anak, remaja, hingga orang dewasa agar dapat membaca huruf hijaiyah secara lancar.

Selain itu, gerakan ini juga berfokus pada penguatan literasi keagamaan sejak dini dengan memanfaatkan berbagai metode pembelajaran cepat dan praktis yang memungkinkan peserta didik menguasai bacaan dalam waktu singkat.

Melalui kegiatan Training For Trainer angkatan pertama ini, Lembaga Wakaf MUI berkomitmen mencetak para pelatih dan tenaga pengajar berkualitas yang siap diterjunkan ke lapangan.

Buya Amirsyah pun meminta agar pelatihan semacam ini terus dilakukan secara berkesinambungan dan masif.

Sekjen MUI juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menyatukan tekad dan melipatgandakan ikhtiar demi membebaskan masyarakat dari buta aksara Alquran. 

"Ini adalah usaha yang sangat mulia dari Majelis Ulama Indonesia bersama seluruh ormas dan lembaga keagamaan. Mari kita perkuat semangat dan ikhtiar bersama demi memuliakan umat dan membumikan Alquran di Tanah Air," tutur dia. 

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads