Sejarah Baru, Raja Salman Resmi Beri Ruang Perempuan di Kompetisi Alquran Internasional
Dhea Oktaviana
Penulis
Muhammad Fakhruddin
Editor
Riyadh, MUI Digital - Arab Saudi kembali mencatat langkah bersejarah dalam dunia Islam.
Dilansir Saudigazette, Senin (12/5/2026) disebutkan bahwa Raja Salman bin Abdulaziz, resmi menyetujui penambahan kategori khusus perempuan dalam Kompetisi Alquran Internasional Raja Abdulaziz ke-46 untuk hafalan, tilawah, dan juga tafsir Alquran.
Keputusan penting ini menjadi titik balik dalam sejarah panjang kompetisi bergengsi yang digelar di Masjidil Haram, Makkah, sejak tahun 1399 Hijriyah.
Saat ini perempuan akan mendapat ruang lebih luas untuk tampil dan bersaing di ajang Alquran tingkat internasional yang tentunya akan menjadi sorotan dunia, khususnya dunia Islam.
Persetujuan Raja Salman ini diberikan berdasarkan rekomendasi dari Menteri Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan, Syekh Abdullatif Al-Sheikh, yang juga bertindak sebagai pengawas umum kompetisi Alquran lokal dan internasional.
Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa Arab Saudi terus mendorong inklusivitas serta memperluas partisipasi generasi muda Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, dalam syiar Alquran di tingkat global.
Baca juga: Arab Saudi Punya Program Spesial untuk Gali Potensi Talenta Nasional
Tak hanya menambah kategori baru, keputusan tersebut juga mencakup penyelenggaraan upacara penutupan kompetisi yang dijadwalkan berlangsung pada 6 Rabiul Awwal 1448 Hijriyah.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Al-Sheikh mengungkapkan rasa terimakasih yang mendalam kepada Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman atas dukungan besar mereka terhadap berbagai program yang berkaitan dengan pelayanan Alquran dan penyebaran nilai-nilainya ke seluruh dunia.
Baca juga: Pertemuan Erdogan dan Pangeran Faisal di Ankara: Kesepakatan Apa yang Disiapkan Turki–Saudi?
Menurutnya, penambahan kategori perempuan bukan sekadar perubahan teknis dalam perlombaan, melainkan cerminan pandangan besar kepemimpinan Saudi terhadap posisi perempuan sebagai pilar fundamental dalam pembangunan masyarakat.
Kebijakan ini juga menunjukkan komitmen kerajaan untuk mempererat hubungan generasi muda dengan Alquran, mendorong mereka menghafal, memahami, dan mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.