Perang Iran Picu Polarisasi Muslim di Filipina, Ancam Persatuan Bangsamoro
A Fahrur Rozi
Penulis
Admin
Editor
Manila, MUI Digital – Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga memunculkan perdebatan di kalangan komunitas Muslim di berbagai negara, termasuk Filipina.
Perbedaan pandangan terhadap konflik tersebut bahkan dinilai mulai memengaruhi dinamika sosial dan keagamaan umat Islam di negara Asia Tenggara itu.
Dalam artikel opini yang dimuat Aljazeera, dikutip MUI Digital pada Ahad (30/5/2026), penulis Nadhera Mohammad Qassem menyoroti munculnya polarisasi di tengah komunitas Muslim Filipina, khususnya di wilayah Bangsamoro, akibat beragam narasi yang berkembang mengenai perang Iran.
Menurutnya, sejumlah perbedaan pandangan politik internasional mulai dibingkai sebagai perbedaan keagamaan, sehingga berpotensi mengganggu persatuan umat Islam.
Qassem menjelaskan, perdebatan yang muncul sesungguhnya tidak dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan teologis.
Menurutnya, konflik tersebut mencerminkan eratnya hubungan antara politik dan agama dalam membentuk pandangan masyarakat terhadap isu-isu global.
Dia menulis, meskipun para ulama Islam terlibat dalam benturan narasi ini, persoalan yang terjadi bukanlah semata-mata perdebatan teologis. “Ini merupakan manifestasi dari keterkaitan yang erat antara politik dan agama,” kata dia.
Dia menjelaskan, dalam konteks Bangsamoro, ketika otoritas pusat masih rapuh, pengaruh politik dan kerangka teologis dari luar semakin masuk ke dalam diskursus lokal dan membentuk cara pandang masyarakat terhadap konflik internasional.
Qassem melanjutkan, masyarakat Muslim Bangsamoro saat ini tengah berada dalam fase penting pembangunan identitas politik dan sosial pascakonflik. Karena itu, perpecahan yang dipicu oleh isu-isu geopolitik luar negeri berpotensi mengganggu proses konsolidasi yang sedang berlangsung.
Baca juga: Utang AS Bertambah Lebih dari 406 Miliar Dolar Sejak Perang dengan Iran Dimulai
Sejak dekade 1970-an, kata dia, umat Islam di Filipina selatan telah berjuang untuk memperoleh hak menentukan nasib sendiri. Saat ini mereka sedang menjalani masa transisi yang kompleks dan membutuhkan identitas kolektif yang kuat.
“Polarisasi yang semakin dalam di antara para ulama justru melemahkan pembentukan identitas bersama dalam situasi politik yang masih rapuh," ujar dia.
Artikel yang ditulisnya itu kemudian menyoroti fenomena saling memberi label negatif di antara kelompok-kelompok yang berbeda pandangan mengenai konflik Iran.
Menurutnya, perbedaan sikap politik tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghakimi atau mendiskreditkan sesama Muslim.
Qassem mengingatkan bahwa komunitas Muslim Filipina perlu membangun sikap yang berakar pada ajaran Islam, pengalaman sejarah mereka sendiri, serta kepentingan masyarakat setempat, bukan semata-mata mengikuti narasi politik yang berkembang di luar negeri.
Baca juga: UEA Bantah Kunjungan Rahasia Netanyahu di Tengah Konflik Iran
Dia mengingatkan, komunitas Muslim Bangsamoro tidak boleh terjebak dalam narasi-narasi yang memecah belah. Mereka harus membangun pandangan berdasarkan ajaran Islam, sejarah perjuangan mereka sendiri, dan identitas yang telah dibentuk melalui pengalaman panjang menghadapi ketidakadilan.
“Wacana yang memecah belah mengenai isu-isu luar negeri dapat merusak kohesi sosial dan menghambat terbangunnya masa depan yang bersatu serta mampu menentukan nasibnya sendiri," tulisnya.
Fenomena yang terjadi di Filipina menunjukkan bahwa konflik geopolitik global dapat berdampak hingga ke komunitas-komunitas Muslim di berbagai belahan dunia. Karena itu, penguatan literasi informasi, sikap moderat, serta komitmen terhadap ukhuwah Islamiyah menjadi hal penting agar perbedaan pandangan politik tidak berkembang menjadi perpecahan di tengah umat.