Lewati ke konten utama
Jumat, 16 Oktober 2026 / 5 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Masruroh
Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata Kementerian Pariwisata RI, Masruroh. Foto: Fitri/ MUI Digital
Berita

Kemenpar Perkuat Digitalisasi untuk Promosikan Pariwisata Ramah Muslim Indonesia

Kemenpar Perkuat Digitalisasi untuk Promosikan Pariwisata Ramah Muslim Indonesia

/ 5 Jumadil Awal 1448 H 3 menit baca 127 dibaca

Jakarta, MUI Digital – Kementerian Pariwisata Republik Indonesia memperkuat pemanfaatan teknologi digital untuk mempromosikan pariwisata ramah Muslim Indonesia. 

Langkah ini dilakukan melalui pengembangan platform pemasaran digital, penyediaan informasi destinasi dan layanan ramah Muslim, serta pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memudahkan wisatawan merencanakan perjalanan.

Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata Kementerian Pariwisata RI, Masruroh, mengatakan transformasi digital menjadi kebutuhan utama dalam pemasaran pariwisata, terutama untuk menjangkau wisatawan di tengah persaingan global.

Hal tersebut disampaikannya susai menjadi narasumber  pada talkshow bertajuk From Click to Trip: Membangun Ekosistem Pariwisata Ramah Muslim yang Berdaya Saing dan Berkelanjutan, hasil kolaborasi Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) bersama Bank Indonesia dalam rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026, di Jakarta International Convention Center (JICC), Kamis (15/10/2026).

“Digital itu sudah sesuatu yang memang harus. Tanpa ada di dunia digital, kita itu jadi tidak ada. Jadi, kalau kita mau ada di pasar, kita harus ada di digital,” ujar Masruroh.

Ia menjelaskan, Kementerian Pariwisata terus mengarahkan strategi pemasaran dari yang sebelumnya berfokus pada promosi luring (offline) menuju pemanfaatan kanal daring (online) secara lebih luas. 

Strategi tersebut diwujudkan melalui situs resmi pemasaran pariwisata Indonesia, Indonesia.travel, yang menyediakan laman khusus pariwisata ramah Muslim.

Melalui laman tersebut, wisatawan dapat mengakses informasi mengenai layanan ramah Muslim di berbagai destinasi, acara yang diminati wisatawan Muslim, kawasan halal, hingga paket wisata yang ramah bagi wisatawan Muslim.

Menurut Masruroh, penyediaan informasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memudahkan wisatawan menemukan destinasi dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Kementerian Pariwisata juga terus memperbarui konten serta meningkatkan keterlibatan pengguna (engagement) pada platform tersebut.

Selain melalui situs web, Kementerian Pariwisata mengembangkan pemanfaatan kecerdasan buatan melalui Maya, sebuah layanan pendamping perjalanan (travel companion) yang dapat membantu wisatawan memperoleh informasi mengenai pariwisata Indonesia, termasuk destinasi dan layanan ramah Muslim.

Masruroh menyebut pemanfaatan teknologi digital dan AI turut mendukung daya saing Indonesia dalam pemeringkatan pariwisata Muslim global. 

Menurutnya, inovasi digital menjadi salah satu aspek yang diperhitungkan dalam upaya meningkatkan posisi Indonesia di tengah persaingan dengan negara-negara lain.

Dia menambahkan, strategi digital juga diarahkan untuk menjangkau segmen wisatawan Muslim usia muda yang semakin akrab dengan teknologi. 

Promosi digital tidak hanya menyasar wisatawan mancanegara, tetapi juga wisatawan domestik agar semakin tertarik menjelajahi beragam destinasi di Indonesia.

“Strategi kita selain mendatangkan wisatawan luar negeri, Muslim luar negeri yang memang jumlahnya juga sudah besar, kita juga menahan wisatawan Indonesia supaya jangan keluar negeri terus. Kita di Indonesia itu juga banyak sekali daya tarik yang mereka suka,” jelasnya.

Lebih lanjut, Masruroh menegaskan bahwa pengembangan pariwisata ramah Muslim bukan berarti membatasi pemasaran pariwisata Indonesia hanya kepada wisatawan Muslim. 

Kementerian Pariwisata tetap mempromosikan kekayaan alam, budaya, kuliner, dan fesyen Indonesia, sembari memastikan tersedianya layanan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan Muslim.

Menurutnya, pasar wisatawan Muslim potensial tidak hanya berasal dari negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim, seperti Malaysia dan negara-negara Timur Tengah, tetapi juga dari negara-negara lain, termasuk Jepang, Prancis, Inggris, dan Singapura.

“Jadi, kita selain men-tapping dari negara-negara Islam, juga dari negara-negara lain yang memiliki wisatawan Muslim,” ungkapnya.

Melalui strategi tersebut, Kementerian Pariwisata berharap platform digital dapat semakin efektif memperkenalkan destinasi Indonesia kepada pasar global, meningkatkan daya tarik wisata domestik, serta memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan pariwisata ramah Muslim dunia. 

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads