Lewati ke konten utama
Kamis, 1 Oktober 2026 / 19 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Siti Marifah
Ketua MUI Bidang PRK, Dr Siti Ma'rifah dalam Seminar Penguatan Institusi Pendidikan yang Ramah Anak di Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak R1, Jakarta pada Rabu (30/9/2026). Foto: Irma/ MUI Digital
Berita

Cegah Kekerasan di Sekolah, KPRK MUI Dorong Penguatan Institusi Pendidikan Ramah Anak

Cegah Kekerasan di Sekolah, KPRK MUI Dorong Penguatan Institusi Pendidikan Ramah Anak

/ 18 Rabiul Akhir 1448 H 3 menit baca 92 dibaca

Jakarta, MUI Digital— Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI menggelar Seminar Penguatan Institusi Pendidikan yang Ramah Anak sebagai bagian dari rangkaian kegiatan menyongsong Konferensi Muslimah Indonesia yang akan berlangsung pada November mendatang.

Kegiatan yang dilaksanakan di Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak R1, Jakarta pada Rabu (30/9/2026) ini menjadi rangkaian pertama yang dilaksanakan KPRK dengan melibatkan pimpinan sekolah, lembaga pendidikan, pesantren, serta perwakilan KPRK dari seluruh Indonesia. Seminar ini membahas persoalan kekerasan yang masih terjadi di lingkungan institusi pendidikan.

Ketua MUI Bidang PRK, Dr Siti Ma'rifah, mengatakan persoalan kekerasan di lembaga pendidikan masih menjadi perhatian bersama. 

Menurutnya, kasus kekerasan tidak hanya terjadi di wilayah pelosok, tetapi juga ditemukan di kota-kota besar, termasuk di lembaga pendidikan yang selama ini dinilai memiliki fasilitas dan lingkungan pendidikan yang baik.

“Baru-baru ini, yang sangat fenomenal, terjadi juga di sekolah atau lembaga pendidikan yang boleh dikatakan elite. Artinya, kekerasan di lembaga pendidikan ini juga terjadi, baik di pelosok maupun di kota besar,” ujar Siti Ma'rifah.

Karena itu, melalui kegiatan tersebut KPRK mendorong adanya langkah bersama untuk mewujudkan institusi pendidikan yang benar-benar ramah anak. Menurutnya, upaya tersebut tidak dapat dilakukan hanya oleh pihak sekolah, tetapi membutuhkan keterlibatan orang tua, pemerintah, dan masyarakat.

“Kita merumuskan langkah-langkah bersama karena untuk mewujudkan sekolah yang ramah anak ini tentu tidak bisa hanya dari pihak sekolah. Kemudian juga orang tua, pemerintah, dan partisipasi masyarakat,” katanya.

Dia berharap hasil pertemuan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui aksi nyata, termasuk dalam pengembangan standar operasional prosedur (SOP) yang dapat diterapkan di sekolah-sekolah.

Sekolah ramah anak diharapkan tidak hanya berorientasi pada pencegahan kekerasan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya karakter dan akhlakul karimah di lingkungan pendidikan.

Pihaknya berharap dari hasil pertemuan ini nanti juga ada tindak lanjut atau aksi di dalam pengembangan SOP yang diberlakukan di sekolah-sekolah, agar sekolah yang ramah anak ini menjadi hal yang wajib dilaksanakan. 

“Jadi, tidak hanya anti kekerasan, tetapi bagaimana budaya karakter, akhlakul karimah ini bisa diterapkan di sekolah-sekolah,” tuturnya.

Selain seminar tentang institusi pendidikan yang ramah anak, KPRK juga akan melanjutkan rangkaian kegiatannya dengan literasi digital pada 24 Oktober mendatang.

Kegiatan tersebut akan mengangkat isu yang berkaitan dengan perkembangan dunia digital, termasuk arus pornografi dan pornoaksi serta peran media sosial dalam pembentukan karakter anak.

“Nanti kegiatan yang kedua di tanggal 24 Oktober, literasi mengenai digital. Karena tadi juga ada terkait yang disinggung, arus pornografi, pornoaksi, dan juga media sosial tentu mengambil peranan di dalam pembangunan karakter anak,” jelasnya.

Sementara itu, rangkaian kegiatan berikutnya akan dilaksanakan pada November dalam rangka Konferensi Muslimah Indonesia. Pada kegiatan tersebut, KPRK akan mengangkat literasi ekonomi dan keuangan syariah sebagai bagian dari rangkaian agenda yang telah disiapkan. 

BAGIKAN: