Buya Anwar Abbas di Maestro Summit 2026: Seni Sangat Dihormati dalam Islam
Jakarta, MUI Digital – Seni memiliki tempat yang sangat dihormati dalam Islam. Namun, seni juga perlu memiliki arah yang jelas untuk membawa manusia semakin dekat kepada Allah SWT.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Buya Anwar Abbas saat memberikan Pembekalan Guru Bangsa dalam rangkaian Maestro Summit 2026: Multaqa Seniman dan Budayawan Muslim Se-Indonesia ke-2 di Pesantren Modern Daar El-Qolam, Gintung, Banten, Sabtu (18/7/2026).
Dalam pembekalannya, Buya Anwar, begitu akrab disapa, mengingatkan tidak semua bentuk seni memiliki arah yang sama.
Ia membedakan seni berdasarkan nilai yang dibawanya, yakni seni yang mendekatkan manusia kepada Allah dan seni sekuler yang justru menjauhkan manusia dari-Nya.
“Seni dalam Islam sangat dihormati, tetapi ada dua kategori seni: seni yang mendekatkan dan seni yang sekuler, yang menjauhkan kita dari Allah. Ada seni yang indah, yang memosisikan diri lebih tinggi dari Tuhan,” ujarnya.
Baca juga: Sekjen MUI: Gagasan Penguatan UMKM APKLI Jadi Masukan Strategis di KUII VIII
Buya Anwar pun mengutip ungkapan Buya Hamka yang menggambarkan pentingnya keseimbangan antara ilmu, agama, dan seni dalam kehidupan manusia.
Menurut Buya Anwar, seni merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Ada yang berperan sebagai seniman dan ada pula yang menikmati hasil karya seni.
“Dengan ilmu hidup akan lebih mudah, dengan agama hidup akan menjadi terarah, dan dengan seni hidup akan menjadi indah,” ujarnya mengutip Buya Hamka.
Ia juga menyinggung banyaknya persoalan yang masih dihadapi Indonesia. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi bagian dari realitas bangsa yang perlu mendapat perhatian. “Negeri ini sangat banyak masalah,” katanya.
Baca juga: Maestro Summit 2026 Pertemukan Ulama, Seniman, dan Budayawan untuk Perkuat Dakwah Kebudayaan
Karena itu, Buya Anwar mendorong Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI untuk memberikan perhatian terhadap karya-karya seni yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk lirik dan syair, dengan melihatnya dari perspektif nilai-nilai agama.
“LSBPI-MUI perlu melihat lirik dan syair-syair yang ada di negeri ini dan menilainya dari sisi nilai agama kita,” katanya memberikan pesan.
Maestro Summit (Multaqa Seniman dan Budayawan Muslim Se-Indonesia ke-2)dirangkaikan dengan Pra-Kongres Umat Islam Indonesia VIII serta Rapat Koordinasi Nasional LSBPI-MUI.
Kegiatan yang berlangsung pada 18–19 Juli 2026 ini diselenggarakan di Pesantren Modern Daar El-Qolam (Darul Qalam), Gintung, Banten, dengan mengangkat tema:
"Arah Baru Budaya Indonesia: Budaya Islam sebagai Kekuatan Dakwah, Akar Persatuan, dan Kemajuan Bangsa."
Acara ini menjadi momentum penting dalam mempertemukan para ulama dengan insan seni dan budaya untuk memperkuat peran kebudayaan sebagai media dakwah, pembinaan karakter bangsa, serta pengokoh persatuan nasional.
Dari kalangan seniman, budayawan, sastrawan, dan tokoh publik tampak hadir Neno Warisman, Fatin Hamama, Oki Setiana Dewi, Habiburrahman El-Shirazy, Ahmadun Yosi Herfanda, Sutardji Calzoum Bachri, Aguk Irawan, Rhoma Irama, Dwiki Dharmawan, Jose Rizal Manua, serta banyak tokoh lainnya yang selama ini dikenal aktif mengembangkan seni dan budaya yang bernafaskan nilai-nilai Islam.
Forum ini diharapkan mampu melahirkan gagasan-gagasan strategis mengenai arah pembangunan kebudayaan Indonesia yang berpijak pada nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Selain menjadi ajang silaturahim lintas profesi, kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi antara ulama, cendekiawan, seniman, budayawan, dan generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman, terutama di era digital dan globalisasi budaya.
Panitia berharap hasil Rakornas dan Multaqa ini dapat melahirkan berbagai rekomendasi yang akan menjadi kontribusi nyata bagi Pra-Kongres Umat Islam Indonesia VIII, sekaligus memperkuat peran seni dan budaya sebagai instrumen dakwah yang santun, memperkokoh akhlak bangsa, mempererat persatuan umat, serta mendorong lahirnya peradaban Indonesia yang maju dan bermartabat.