Hari Santri: Belajar Kehidupan, Mengabdi kepada Sesama
Hari Santri: Belajar Kehidupan, Mengabdi kepada Sesama
Oleh: Dr Andy Hadiyanto
Dosen PAI UNJ dan Ketua Umum Asosiasi Dosen PAI Indonesia
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Setiap 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri untuk mengenang Resolusi Jihad 1945, ketika para ulama menyerukan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa ini mengingatkan kita pada peran ulama dan santri dalam sejarah bangsa.
Namun demikian, selain mengenang perjuangan masa lalu, di sini ada pertanyaan yang layak kita renungkan: apa makna menjadi santri bagi kehidupan hari ini? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat kembali hakikat belajar dan pengabdian yang membentuk tradisi kesantrian.
Dalam tradisi pendidikan Nusantara, dikenal konsep “cantrik”, yakni murid yang belajar melalui hubungan langsung dengan guru dan menjalani kehidupan di bawah bimbingannya. Konsep ini menyiratkan proses transmisi ilmu melalui relasi langsung antara guru dan murid, yang tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi berlanjut pada transformasi diri menjadi sikap dan tindakan yang bermakna serta berdampak bagi kehidupan.
Jadi, dalam konsep tersebut, ilmu tidak sekadar dipahami, tetapi dihidupi. Guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga memberi teladan, sementara murid belajar mengolah apa yang diterimanya menjadi bagian dari cara berpikir dan bertindak.
Proses belajar seperti itu tidak hanya berlangsung melalui apa yang disampaikan guru. Pengalaman, perjumpaan dengan orang lain, dan persoalan sehari-hari turut memperkaya pemahaman seseorang.
Dari sana, ia belajar membaca kenyataan, mengenali keterbatasan diri, dan memperluas cara pandangnya. Belajar pun tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan ruang pendidikan atau menyelesaikan masa studinya. Selama kehidupan terus menghadirkan hal-hal baru, selalu ada kesempatan untuk belajar.
Keluasan ruang belajar itu sejalan dengan keluasan ilmu Allah. Ilmu tidak terbatas pada apa yang lazim disebut ilmu agama dalam pengertian syariat, tetapi juga mencakup alam semesta, kehidupan manusia, sejarah, bahasa, masyarakat, dan berbagai gejala yang dapat ditelaah melalui penelitian serta pengalaman.
Alquran berulang kali mengajak manusia memperhatikan langit dan bumi serta mengambil pelajaran dari perjalanan umat manusia. Alam dan kehidupan bukan sekadar latar tempat manusia menjalani hidup, melainkan juga sumber pengetahuan yang perlu dibaca dan dipahami. Karena itu, seorang santri semestinya memiliki rasa ingin tahu yang luas dan kesediaan untuk terus menggali ilmu dari berbagai bidang.
Mempelajari ilmu alam dapat menumbuhkan kekaguman terhadap keteraturan ciptaan sekaligus kesadaran akan keterbatasan manusia. Mempelajari sejarah mengajarkan bahwa kejayaan tidak berlangsung selamanya dan setiap tindakan memiliki akibat.
Lalu, ilmu sosial membantu kita memahami mengapa kemiskinan dan ketimpangan terjadi, sedangkan ilmu kesehatan mengajarkan pentingnya menjaga kehidupan manusia. Begitu seterusnya menyangkut berbagai ilmu lainnya. Bahkan, perjumpaan dengan orang yang berbeda pandangan dapat menjadi pelajaran tentang kerendahan hati. Semua itu memperluas wawasan dan mempertajam kepekaan kita dalam memahami kehidupan.
Namun, banyaknya pengetahuan belum tentu membuat seseorang lebih bijaksana. Pengetahuan perlu diolah menjadi pemahaman, lalu digunakan untuk membaca persoalan dan mencari jalan keluar.
Seseorang mungkin mengetahui banyak hal tentang kejujuran, tetapi kehidupanlah yang menguji apakah ia mampu bersikap jujur ketika menghadapi kepentingan pribadi. Seseorang dapat memahami teori tentang kemiskinan, tetapi kepeduliannya diuji ketika berhadapan dengan orang yang membutuhkan pertolongan. Kehidupan bukan hanya tempat menerapkan ilmu, melainkan juga ruang yang memperkaya dan mengoreksi pemahaman kita.
Proses belajar semacam itu membutuhkan keterbukaan dan kerendahan hati. Guru tetap penting sebagai pembimbing, tetapi pelajaran juga dapat datang melalui buku, penelitian, pengalaman kerja, percakapan, bahkan kegagalan.
Orang yang sungguh-sungguh belajar bukanlah orang yang merasa telah mengetahui segalanya, melainkan orang yang menyadari masih banyak hal yang belum dipahaminya. Kesediaan bertanya dan menerima koreksi merupakan bagian dari kedewasaan intelektual. Dan dengan sikap demikian, belajar menjadi perjalanan yang terus berlangsung, bukan sekadar tahapan yang harus diselesaikan.
Pengetahuan yang luas juga perlu tercermin dalam pembentukan karakter. Hidup bersama orang lain menuntut kesabaran, kemampuan mendengarkan, dan kesediaan menghargai perbedaan. Mengemban tanggung jawab mengajarkan ketekunan, sementara mengabdi kepada masyarakat menumbuhkan kepekaan terhadap kebutuhan di luar kepentingan diri sendiri.
Nilai-nilai tersebut tidak tumbuh hanya karena seseorang mampu menjelaskannya. Nilai itu perlu dilatih dan diwujudkan dalam keseharian. Di sinilah ilmu penting bertransformasi menjadi sikap, dan sikap menemukan maknanya melalui tindakan yang membawa dampak bagi orang lain.
Hubungan guru dan murid memiliki peran penting dalam proses tersebut. Guru memberikan pengetahuan, teladan, dan arahan, sedangkan murid datang dengan kesadaran untuk mengembangkan kapasitas dirinya. Hubungan ini bukan sekadar pertemuan antara orang yang mengetahui dan orang yang belum mengetahui, melainkan proses yang memungkinkan pengetahuan membentuk cara berpikir dan bertindak.
Guru yang baik tidak menjadikan murid bergantung selamanya kepadanya, tetapi membantunya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, terbuka, dan sanggup menghadapi persoalan kehidupan.
Pesantren memiliki peran penting dalam memelihara tradisi belajar dan pembentukan diri. Kehidupan bersama, kedekatan dengan guru, kedisiplinan, dan kebiasaan mengabdi menyediakan pengalaman yang berharga.
Namun, nilai kesantrian tidak harus berhenti di lingkungan pesantren. Di kampus, laboratorium, sekolah, kantor, sawah, rumah sakit, maupun ruang pengabdian masyarakat, seseorang dapat terus belajar dari ilmu dan kenyataan yang dihadapinya. Yang penting bukan semata-mata tempatnya, melainkan kesungguhan untuk mencari pengetahuan, memperbaiki diri, dan menggunakan kemampuan bagi kebaikan bersama.
Seorang dokter tidak cukup menguasai ilmu medis. Ia juga perlu memahami pasien sebagai manusia. Seorang akademisi bukan hanya dituntut menghasilkan penelitian, tetapi juga memastikan bahwa pengetahuannya memberi sumbangan bagi masyarakat. Petani terus belajar membaca tanah, cuaca, dan perubahan lingkungan. Sementara pengusaha perlu memahami dampak keputusan ekonominya terhadap pekerja dan masyarakat.
Dalam setiap profesi, ilmu berjumpa dengan persoalan nyata. Semangat kesantrian hidup ketika seseorang terus belajar menjalankan tanggung jawabnya dengan bijaksana dan menjadikan keahliannya bermanfaat bagi sesama.
Pemahaman tentang belajar dan pengabdian ini memberi makna lebih dalam pada “Resolusi Jihad”. Pada 22 Oktober 1945, para ulama tidak menjadikan pengetahuan dan kesadaran kebangsaan sebagai sesuatu yang terpisah dari kenyataan. Ketika kemerdekaan menghadapi ancaman, tanggung jawab terhadap tanah air diwujudkan dalam seruan dan perjuangan nyata. Sejarah tersebut memperlihatkan bagaimana nilai yang diyakini dapat menggerakkan tindakan, bahkan pengorbanan, demi kepentingan bersama.
Bentuk perjuangan pada masa kini tentu berbeda. Kita menghadapi persoalan pendidikan, kemiskinan, kerusakan lingkungan, korupsi, kesenjangan, dan perpecahan sosial. Menghadapinya membutuhkan penguasaan ilmu yang beragam, kemampuan membaca masalah secara jernih, serta kemauan bekerja melampaui kepentingan pribadi.
Semangat Hari Santri dapat diwujudkan oleh guru yang memperbaiki mutu pembelajaran, peneliti yang tekun mencari solusi, pejabat yang menjaga amanah, atau warga yang merawat lingkungan dan membantu sesamanya. Pengabdian tidak selalu hadir dalam peristiwa besar. Sering kali ia tumbuh melalui pekerjaan sehari-hari yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Menjadi santri berarti bersedia terus belajar dari keluasan ilmu Allah dan keragaman kehidupan. Tidak ada seorang pun yang mampu menguasai seluruh pengetahuan, dan tidak ada tahap kehidupan yang membuat proses belajar selesai.
Semakin luas wawasan seseorang, semestinya semakin besar pula kesadarannya akan hal-hal yang belum diketahui. Ilmu membantu kita memahami dunia dengan lebih baik, sementara pengalaman menolong kita mengenali tanggung jawab yang menyertainya. Belajar dan mengabdi bertemu ketika pengetahuan tidak berhenti sebagai milik pribadi, tetapi menjadi kekuatan untuk memperbaiki kehidupan.
Selamat Hari Santri kepada seluruh insan yang terus belajar, memperluas wawasan, menempa diri, dan mengamalkan nilai-nilai kehidupan di tengah dinamika zaman. Semoga semangat kesantrian tumbuh di mana pun orang menuntut ilmu dan menjalankan tanggung jawabnya.
Menjadi santri bukan hanya tentang mempelajari ilmu, melainkan juga tentang kesediaan untuk menjadikan seluruh kehidupan sebagai ruang belajar, menggali keluasan ilmu Allah, serta mengubah pengetahuan menjadi sikap dan tindakan yang bermakna dan berdampak bagi sesama.