Lewati ke konten utama
Jumat, 31 Juli 2026 / 16 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Bangunlah, lalu Berilah Peringatan!

5 menit baca 37 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Bangunlah, lalu Berilah Peringatan!
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Bayangkan sebuah struktur sosial Makkah di awal abad ke-7. Islam belum memiliki barisan prajurit, belum memegang tampuk kekuasaan politik, apalagi menjanjikan kekuatan ekonomi.

Ketika itu, jumlah pengikutnya bisa dihitung dengan jari, bahkan sebagian besarnya adalah mustadh’afin, kaum lemah yang tertindas. Sementara di sekeliling mereka, berdiri kokoh hegemoni oligarki Quraisy yang menguasai panggung politik, jalur perdagangan, hingga narasi keagamaan.

Secara kalkulasi matematis-materi, menyuarakan kebenaran dalam kondisi sesempit itu adalah tindakan yang mustahil, bahkan terkesan destruktif. Namun, justru di titik ketimpangan yang paling ekstrem itulah, sebuah perintah yang menggetarkan jiwa diturunkan. Allah SWT berfirman:

قُمۡ فَأَنذِرۡ

Bangunlah, lalu berilah peringatan!” (QS. Al-Muddatsir: 2)

Lantas, mengapa Allah SWT menurunkan perintah untuk mengambil posisi konfrontatif di saat umat Islam terkesan “lemah” belum memiliki “modal” fisik sama sekali?

Perintah “Qum fa-andzir” (Bangunlah, lalu berilah peringatan!) adalah sebuah hentakan kesadaran bahwa perubahan sejarah tidak pernah dimulai dari dominasi materi, melainkan dari keberanian narasi dan kekuatan keyakinan.

Jika Rasulullah SAW menunggu hingga umat Islam menjadi mayoritas atau memiliki peralatan lengkap baru bergerak, gerakan dakwah akan terjebak dalam “kelumpuhan psikologis” (melumpuhkan rasa takut). Melalui perintah ini, Allah mengajarkan bahwa penggerak mentalitas tidak boleh disandera oleh keterbatasan fisik.

Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW berdiri di Bukit Shafa. Beliau tidak membawa pasukan atau pedang terhunus. Modal utamanya adalah “kejujuran reputasi” (Al-Amin) dan kebenaran iman.

Dalam satu kesempatan, Nabi pernah bertanya pada para pemuka Quraisy: “Jika kukatakan ada pasukan kuda di balik bukit ini, akankah kalian percaya?” Mereka semua menjawab tanpa ragu: “Kami tidak pernah melihat kamu berdusta.”

Keberanian untuk berdiri dan bersuara itulah yang meruntuhkan kemapanan narasi syirik Quraisy. Beliau mendobrak zaman bukan dengan akumulasi modal, melainkan dengan keteguhan prinsip.

Baca juga: Menyelami Pesan Tersembunyi di Balik Surat Al-Muddatstsir

Mendobrak Mental Kerdil

Hari ini, tidak sedikit gerakan dakwah yang terhenti sebelum melangkah. Alasannya klasik: belum punya modal besar, belum ada koneksi, atau kalah kelas dari dai yang sudah lama berkecimpung.

Pesan “Qum fa-andzir” hadir untuk mendobrak jiwa-jiwa yang kerdil. Di era digital saat ini, ideologi kebaikan, integritas, dan narasi berkeadilan mampu melompati dominasi modal finansial, asalkan disuarakan dengan tajam, berani, dan konsisten.

Lalu, dalam menjawab tantangan zaman yang kian kompleks, fungsi peringatan (andzir) hari ini tidak lagi cukup disampaikan melalui mimbar retoris semata. Memperingatkan dan menyeimbangkan kekuatan oligarki, keserakahan ekonomi, serta hegemoni pemikiran modern menuntut pembangunan kekuatan nyata di berbagai sektor kehidupan.

Dalam sektor intelektual, perlu dibangun komitmen untuk meluruskan kebijakan publik. Tidak lain, orientasinya adalah menuntut lahirnya para teknokrat, ilmuwan, dan pemikir berkelas dunia yang menguasai sains, teknologi, serta narasi kritis.

Dalam sektor ekonomi, harus dipahami bahwa kemerdekaan menyuarakan kebenaran sangat ditentukan oleh kemandirian finansial. Artinya, umat ​​yang bergantung secara ekonomi akan sulit berdiri tegak melawan ketidakadilan di hadapan para pemilik modal.

Dalam sektor politik dan strategi, juga perlu dibangun komitmen yang lurus dan benar. Sebab, berada di ruang-ruang pengambilan keputusan penting untuk memastikan lahirnya tata kelola yang adil, memiliki posisi tawar (bargaining power) yang diperhitungkan, serta membawa kepemimpinan yang berwibawa.

Baca juga: Manifestasi Tawakal Fase Makkah

Menata Hati Pejuang Dakwah

Dalam perjalanan menggemakan “Qum fa-andzir”, tantangan, pengampunan, dan penolakan adalah sunnatullah. Allah SWT memahami betul gejolak batin yang dialami para pengemban risalah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

كِتٰبٌ اُنْزِلَ اِلَيْكَ فَلَا يَكُنْ فِيْ صَدْرِكَ حَرَجٌ مِّنْهُ لِتُنْذِرَ بِهٖ وَذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ

“(Inilah) Kitab yang diturunkan kepadamu (Muhammad); maka janganlah kamu sesak dada karenanya, agar kamu memberi peringatan dengan (Kitab) itu dan menjadi pelajaran bagi orang yang beriman.” (QS. Al-A’raf: 2) 

Melalui ayat tersebut, serta ayat 97 surat Al-Hijr, dan ayat 35 surat Al-Ahqaf, Allah menenteramkan hati Rasul-Nya dan para dai penggantinya. Ditegaskan agar tidak membiarkan dada menjadi sempit atau putus asa karena penolakan. Tugas aktivis dakwah hanyalah “al-balaagh” (menyampaikan) dan “at-tadzkir” (mengingatkan) dengan hati yang sabar dan teguh.

Mengingatkan tersebut menyangkut prinsip-prinsip kebaikan dan keburukan yang pada dasarnya telah diakui oleh fitrah dan akal sehat manusia. Lalu dilanjutkan dengan menjelaskan kemaslahatan di balik perintah dan bahaya di balik larangan.

Selain itu, mengingatkan tersebut juga berkaitan dengan hal-hal yang sudah diketahui namun sering dilupakan karena kelalaian manusia, sehingga perlu diulang secara berkesinambungan agar terpatri kuat dalam tindakan.

Konsep ini menjadi pijakan penting dalam pendidikan keluarga. Para orang tua dan pendidik tidak boleh jera dalam mengambil keputusan untuk terus mengingatkan anak-anak dan peserta didiknya agar selalu belajar, berakhlak mulia, dan berpegang teguh pada kebaikan.

Baca juga: Menghadirkan Kepatuhan Syariah dalam Tata Kelola Zakat Nasional

Antara Keimanan dan Kebebalan

Keagungan Alquran sebagai “dzikrul lil ’alamin” (peringatan bagi seluruh alam) hanya akan berdampak jika disambut oleh hati yang siap. Allah SWT berfirman:

فَذَكِّرْ اِنْ نَّفَعَتِ الذِّكْرٰى

Oleh sebab itu berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat.” (QS. Al-A’la: 9)

Hanya jiwa yang memiliki iman, rasa takut (khasyyah), dan ketundukan kepada Allah yang mampu menyerap manfaat dari setiap nasihat, (QS. Al-A’la: 10). Imam Ibnu Katsir menegaskan, bahwa hanya hati yang beriman yang dapat mengambil manfaat dari setiap peringatan.

Jiwa yang beriman tidak akan memandang siapa yang menyampaikan teguran, melainkan melihat kebenaran yang dibawanya. Dalam cakupan terkecil; suami mau mendengarkan nasihat istri (dan sebaliknya), anak menghormati petuah orang tua, murid memahami teguran guru, dan pemimpin mendengarkan omongan rakyatnya.

Sebaliknya, menyikapi peringatan dengan kesombongan adalah sinyal bahaya yang mengancam keimanan. Tanpa kesiapan iman, peringatan sebanyak apa pun tidak akan mempan, bagaikan menanam di atas tanah yang tandus dan gersang.

Allah berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang kafir itu sama saja, kamu beri peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman.” (QS. Al-Baqarah: 6)

Bukankah sejarah telah mengabadikan kehancuran tokoh-tokoh besar seperti Fir’aun, Qarun, hingga kaum ’Ad dan Tsamud. Mereka tidak dihancurkan karena kurangnya peringatan, melainkan karena kesombongan yang menutup rapat pintu hati mereka dari kebenaran.

Baca juga: Mengapa Sukses Besar Selalu Dimulai dari Sabar dan Hijrah?

Dari sini kita belajar dan mengambil hikmah, perintah “Qum fa-andzir” adalah sebuah penegasan bahwa keberadaan kita di dunia bukanlah untuk menjadi penonton pasif di tengah arus sejarah. Keterbatasan modal, jumlah, ilmu, pengalaman, maupun sarana di awal langkah bukanlah alasan untuk menunda suatu gerakan dakwah.

Rasulullah SAW telah memberi teladan. Beliau memulainya dari keteguhan iman, kerapian barisan spiritual, hingga akhirnya mampu mengubah peta peradaban dunia.

Selanjutnya, patut diajukan satu pertanyaan bagi kita hari ini: Di sektor mana kita akan mengambil peran untuk bangkit, memberikan peringatan dan menggerakkan perubahan? Bersegeralah untuk bangkit, lalu berilah peringatan!

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.