Bangunlah, lalu Berilah Peringatan!
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Bayangkan sebuah struktur sosial Makkah di awal abad ke-7. Islam belum memiliki barisan prajurit, belum memegang tampuk kekuasaan politik, apalagi menjanjikan kekuatan ekonomi.
Ketika itu, jumlah
pengikutnya bisa dihitung dengan jari, bahkan sebagian besarnya adalah mustadh’afin,
kaum lemah yang tertindas. Sementara di sekeliling mereka, berdiri kokoh
hegemoni oligarki Quraisy yang menguasai panggung politik, jalur perdagangan,
hingga narasi keagamaan.
Secara kalkulasi
matematis-materi, menyuarakan kebenaran dalam kondisi sesempit itu adalah
tindakan yang mustahil, bahkan terkesan destruktif. Namun, justru di titik
ketimpangan yang paling ekstrem itulah, sebuah perintah yang menggetarkan jiwa
diturunkan. Allah SWT berfirman:
قُمۡ فَأَنذِرۡ
“Bangunlah,
lalu berilah peringatan!” (QS. Al-Muddatsir: 2)
Lantas, mengapa
Allah SWT menurunkan perintah untuk mengambil posisi konfrontatif di saat umat
Islam terkesan “lemah” belum memiliki “modal” fisik sama sekali?
Perintah “Qum fa-andzir”
(Bangunlah, lalu berilah peringatan!) adalah sebuah hentakan kesadaran bahwa
perubahan sejarah tidak pernah dimulai dari dominasi materi, melainkan dari
keberanian narasi dan kekuatan keyakinan.
Jika Rasulullah SAW
menunggu hingga umat Islam menjadi mayoritas atau memiliki peralatan lengkap
baru bergerak, gerakan dakwah akan terjebak dalam “kelumpuhan psikologis” (melumpuhkan
rasa takut). Melalui perintah ini, Allah mengajarkan bahwa penggerak mentalitas
tidak boleh disandera oleh keterbatasan fisik.
Lihatlah
bagaimana Rasulullah SAW berdiri di Bukit Shafa. Beliau tidak membawa pasukan
atau pedang terhunus. Modal utamanya adalah “kejujuran reputasi” (Al-Amin)
dan kebenaran iman.
Dalam satu
kesempatan, Nabi pernah bertanya pada para pemuka Quraisy: “Jika kukatakan
ada pasukan kuda di balik bukit ini, akankah kalian percaya?” Mereka semua
menjawab tanpa ragu: “Kami tidak pernah melihat kamu berdusta.”
Keberanian untuk berdiri dan bersuara itulah yang meruntuhkan kemapanan narasi syirik Quraisy. Beliau mendobrak zaman bukan dengan akumulasi modal, melainkan dengan keteguhan prinsip.
Baca juga: Menyelami Pesan Tersembunyi di Balik Surat Al-Muddatstsir
Mendobrak
Mental Kerdil
Hari ini, tidak sedikit gerakan dakwah yang terhenti sebelum melangkah. Alasannya klasik: belum punya modal besar, belum ada koneksi, atau kalah kelas dari dai yang sudah lama berkecimpung.
Pesan “Qum fa-andzir”
hadir untuk mendobrak jiwa-jiwa yang kerdil. Di era digital saat ini, ideologi
kebaikan, integritas, dan narasi berkeadilan mampu melompati dominasi modal
finansial, asalkan disuarakan dengan tajam, berani, dan konsisten.
Lalu, dalam menjawab
tantangan zaman yang kian kompleks, fungsi peringatan (andzir) hari ini
tidak lagi cukup disampaikan melalui mimbar retoris semata. Memperingatkan dan
menyeimbangkan kekuatan oligarki, keserakahan ekonomi, serta hegemoni pemikiran
modern menuntut pembangunan kekuatan nyata di berbagai sektor kehidupan.
Dalam sektor intelektual,
perlu dibangun komitmen untuk meluruskan kebijakan publik. Tidak lain, orientasinya
adalah menuntut lahirnya para teknokrat, ilmuwan, dan pemikir berkelas dunia
yang menguasai sains, teknologi, serta narasi kritis.
Dalam sektor ekonomi, harus dipahami bahwa kemerdekaan menyuarakan kebenaran sangat ditentukan oleh
kemandirian finansial. Artinya, umat yang bergantung secara ekonomi akan
sulit berdiri tegak melawan ketidakadilan di hadapan para pemilik modal.
Dalam sektor politik dan strategi, juga perlu dibangun komitmen yang lurus dan benar. Sebab, berada di ruang-ruang pengambilan keputusan penting untuk memastikan lahirnya tata kelola yang adil, memiliki posisi tawar (bargaining power) yang diperhitungkan, serta membawa kepemimpinan yang berwibawa.
Baca juga: Manifestasi Tawakal Fase Makkah
Menata Hati
Pejuang Dakwah
Dalam perjalanan
menggemakan “Qum fa-andzir”, tantangan, pengampunan, dan penolakan
adalah sunnatullah. Allah SWT memahami betul gejolak batin yang dialami para
pengemban risalah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
كِتٰبٌ اُنْزِلَ اِلَيْكَ
فَلَا يَكُنْ فِيْ صَدْرِكَ حَرَجٌ مِّنْهُ لِتُنْذِرَ بِهٖ وَذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ
“(Inilah)
Kitab yang diturunkan kepadamu (Muhammad); maka janganlah kamu sesak dada
karenanya, agar kamu memberi peringatan dengan (Kitab) itu dan menjadi
pelajaran bagi orang yang beriman.” (QS. Al-A’raf: 2)
Melalui ayat tersebut,
serta ayat 97 surat Al-Hijr, dan ayat 35 surat Al-Ahqaf, Allah menenteramkan
hati Rasul-Nya dan para dai penggantinya. Ditegaskan agar tidak membiarkan
dada menjadi sempit atau putus asa karena penolakan. Tugas aktivis dakwah
hanyalah “al-balaagh” (menyampaikan) dan “at-tadzkir”
(mengingatkan) dengan hati yang sabar dan teguh.
Mengingatkan
tersebut menyangkut prinsip-prinsip kebaikan dan keburukan yang pada dasarnya
telah diakui oleh fitrah dan akal sehat manusia. Lalu dilanjutkan dengan
menjelaskan kemaslahatan di balik perintah dan bahaya di balik larangan.
Selain itu, mengingatkan
tersebut juga berkaitan dengan hal-hal yang sudah diketahui namun sering
dilupakan karena kelalaian manusia, sehingga perlu diulang secara
berkesinambungan agar terpatri kuat dalam tindakan.
Konsep ini menjadi pijakan penting dalam pendidikan keluarga. Para orang tua dan pendidik tidak boleh jera dalam mengambil keputusan untuk terus mengingatkan anak-anak dan peserta didiknya agar selalu belajar, berakhlak mulia, dan berpegang teguh pada kebaikan.
Baca juga: Menghadirkan Kepatuhan Syariah dalam Tata Kelola Zakat Nasional
Antara
Keimanan dan Kebebalan
Keagungan Alquran
sebagai “dzikrul lil ’alamin” (peringatan bagi seluruh alam) hanya akan
berdampak jika disambut oleh hati yang siap. Allah SWT berfirman:
فَذَكِّرْ اِنْ نَّفَعَتِ
الذِّكْرٰى
“Oleh sebab
itu berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat.” (QS. Al-A’la:
9)
Hanya jiwa yang
memiliki iman, rasa takut (khasyyah), dan ketundukan kepada Allah yang
mampu menyerap manfaat dari setiap nasihat, (QS. Al-A’la: 10). Imam Ibnu Katsir
menegaskan, bahwa hanya hati yang beriman yang dapat mengambil manfaat dari
setiap peringatan.
Jiwa yang beriman
tidak akan memandang siapa yang menyampaikan teguran, melainkan melihat
kebenaran yang dibawanya. Dalam cakupan terkecil; suami mau mendengarkan
nasihat istri (dan sebaliknya), anak menghormati petuah orang tua, murid
memahami teguran guru, dan pemimpin mendengarkan omongan rakyatnya.
Sebaliknya,
menyikapi peringatan dengan kesombongan adalah sinyal bahaya yang mengancam
keimanan. Tanpa kesiapan iman, peringatan sebanyak apa pun tidak akan mempan, bagaikan
menanam di atas tanah yang tandus dan gersang.
Allah berfirman,
yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang kafir itu sama saja, kamu beri
peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman.” (QS. Al-Baqarah: 6)
Bukankah sejarah telah mengabadikan kehancuran tokoh-tokoh besar seperti Fir’aun, Qarun, hingga kaum ’Ad dan Tsamud. Mereka tidak dihancurkan karena kurangnya peringatan, melainkan karena kesombongan yang menutup rapat pintu hati mereka dari kebenaran.
Baca juga: Mengapa Sukses Besar Selalu Dimulai dari Sabar dan Hijrah?
Dari sini kita belajar
dan mengambil hikmah, perintah “Qum fa-andzir” adalah sebuah penegasan
bahwa keberadaan kita di dunia bukanlah untuk menjadi penonton pasif di tengah
arus sejarah. Keterbatasan modal, jumlah, ilmu, pengalaman, maupun sarana di
awal langkah bukanlah alasan untuk menunda suatu gerakan dakwah.
Rasulullah SAW telah
memberi teladan. Beliau memulainya dari keteguhan iman, kerapian barisan
spiritual, hingga akhirnya mampu mengubah peta peradaban dunia.
Selanjutnya, patut diajukan satu pertanyaan bagi kita hari ini: Di sektor mana kita akan mengambil peran untuk bangkit, memberikan peringatan dan menggerakkan perubahan? Bersegeralah untuk bangkit, lalu berilah peringatan!