Lewati ke konten utama
Jumat, 21 Agustus 2026 / 8 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Khutbah

Khutbah Jumat: Pentingnya Keadilan Para Pemimpin

4 menit baca 29 dibaca
Admin

Oleh: Admin

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Khutbah Jumat: Pentingnya Keadilan Para Pemimpin
Ilustrasi seorang hakim memimpin sidang dengan jujur dan adil. Foto: Pinterest
Bagikan:

Oleh: Dr KH Ahmad Suja’i Mughni, MM, Ketua 1 MUI Kota Tangerang

الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَّهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

قَالَ تَعَالَى: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ).

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى أَسَاسُ الْعَدْلِ وَمِفْتَاحُ الصَّلَاحِ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Setiap bangsa mendambakan kemerdekaan. Namun, kemerdekaan sejati bukan sekadar bebas dari penjajahan fisik, melainkan bebas dari ketidakadilan, penindasan, dan kesewenang-wenangan. Dalam pandangan Islam, kemerdekaan sejati hanya dapat terwujud apabila keadilan ditegakkan, khususnya oleh para pemimpin.

Islam memandang kepemimpinan sebagai amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Seorang pemimpin tidak hanya diminta untuk berkuasa, tetapi dituntut untuk berlaku adil kepada seluruh rakyat tanpa membedakan suku, status, maupun kepentingan pribadi.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Marilah kita perhatikan perihal menyangkut keadilan sebagai berikut:

Pertama, keadilan sebagai ruh kemerdekaan.Dalam pandangan Islam, kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Kemerdekaan tanpa keadilan hanya akan melahirkan penjajahan bentuk baru, di mana yang kuat menindas yang lemah.

Allah SWT berfirman dalam surat An-Nahl ayat 90:

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Ayat ini menegaskan bahwa perintah pertama Allah kepada manusia, terutama para pemegang urusan (pemimpin), adalah berlaku adil. Adil bukan berarti sama rata, melainkan meletakkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan hak kepada pemiliknya tanpa diskriminasi.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Kedua, pemimpin adil adalah naungan Allah. Kemerdekaan sejati tercapai saat masyarakat merasa aman karena pemimpinnya takut kepada Allah. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira dalam sebuah hadis shahih, beliaun bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللّٰهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: ... الإِمَامُ الْعَادِلُ .....

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: … (salah satunya adalah) Pemimpin yang adil....” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa tingginya derajat pemimpin yang mampu menjaga keadilan di tengah godaan kekuasaan yang luar biasa.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Ketiga, pesan sahabat dan ulama. Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah memberikan nasihat emas terkait keberlangsungan sebuah bangsa. Beliau menegaskan: “Sebuah negara yang kafir bisa bertahan jika ia adil, namun sebuah negara yang beriman (muslim) akan hancur jika ia zalim.”

Kalimat ini mengandung makna mendalam bahwa keadilan adalah hukum alam (sunnatullah) untuk stabilitas sebuah bangsa. Jika pemimpin bertindak adil, maka rakyat akan merasa merdeka secara batiniah. Mereka merdeka dari rasa takut, merdeka dari kelaparan, dan merdeka dari perlakuan semena-mena.

Keempat, implementasi keadilan dalam berbangsa. Setiap pemimpin yang membawa kemerdekaan sejati adalah mereka yang mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, kelompok atau golongan; mereka yang menjaga lisan dan tindakan dari perbuatan korupsi yang merampas hak rakyat; dan mereka yang mendengarkan keluh kesah masyarakat paling bawah.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90)

Ayat ini menegaskan bahwa keadilan adalah perintah langsung dari Allah, bukan pilihan, apalagi sekadar slogan. Tanpa keadilan, kemerdekaan hanya menjadi kata-kata, sementara rakyat tetap terbelenggu oleh ketimpangan dan ketidakpastian.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللّٰهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil kelak berada di atas mimbar-mimbar cahaya di sisi Allah.” (HR Muslim)

Hadis ini menunjukkan kemuliaan kedudukan pemimpin yang adil, baik dalam keputusan dan kebijakan maupun dalam memperlakukan rakyatnya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sejarah mencatat bahwa kehancuran suatu bangsa sering kali bermula dari rusaknya keadilan para pemimpin. Ketika hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas, ketika kepentingan pribadi dan golongan mengalahkan kepentingan rakyat, maka saat itulah kemerdekaan sejati sirna.

Namun, jamaah sekalian, keadilan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemimpin. Rakyat pun memiliki kewajiban menjaga keadilan, dengan tidak berbuat zalim, tidak menyebarkan kebencian, serta tidak mendukung kezaliman dalam bentuk apa pun.

Kemerdekaan sejati lahir ketika pemimpinnya menjalankan amanah dengan jujur; ketika hukum ditegakkan tanpa pandang bulu; dan ketika rakyat dapat hidup aman, sejahtera, dan bermartabat.

Jika keadilan hilang, maka sejatinya kita masih terjajah, meskipun negeri ini telah merdeka secara administratif.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita dukung terciptanya keadilan ini mulai dari unit terkecil, yakni kepemimpinan dalam diri sendiri dan keluarga. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada bangsa kita pemimpin-pemimpin yang jujur, amanah, dan adil, sehingga kemerdekaan yang kita nikmati saat ini benar-benar membawa keberkahan dan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mari kita tegakkan keadilan dalam diri kita sendiri, dalam rumah tangga kita, hingga pada akhirnya Allah SWT menghadirkan pemimpin-pemimpin yang adil di tengah-tengah kita.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga negeri kita, Indonesia, dan menjadikannya negeri yang “Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafur”—negeri yang subur, makmur, adil, dan senantiasa berada dalam ampunan Allah SWT. Amiin ya Rabbal ‘Alamin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآ يَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.