Khutbah Jumat: Pentingnya Keadilan Para Pemimpin
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: Dr KH Ahmad Suja’i Mughni, MM, Ketua 1 MUI Kota Tangerang
الَسَّلامُ
عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ
شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَّهْدِهِ اللّٰهُ
فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا
اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
قَالَ تَعَالَى:
(يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا
تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ).
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ
التَّقْوَى أَسَاسُ الْعَدْلِ وَمِفْتَاحُ الصَّلَاحِ.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Setiap bangsa
mendambakan kemerdekaan. Namun, kemerdekaan sejati bukan sekadar bebas dari
penjajahan fisik, melainkan bebas dari ketidakadilan, penindasan, dan
kesewenang-wenangan. Dalam pandangan Islam, kemerdekaan sejati hanya dapat
terwujud apabila keadilan ditegakkan, khususnya oleh para pemimpin.
Islam memandang
kepemimpinan sebagai amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan
Allah. Seorang pemimpin tidak hanya diminta untuk berkuasa, tetapi dituntut
untuk berlaku adil kepada seluruh rakyat tanpa membedakan suku, status, maupun
kepentingan pribadi.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita
perhatikan perihal menyangkut keadilan sebagai berikut:
Pertama, keadilan sebagai ruh kemerdekaan.Dalam
pandangan Islam, kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai
pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Kemerdekaan tanpa keadilan hanya akan
melahirkan penjajahan bentuk baru, di mana yang kuat menindas yang lemah.
Allah SWT berfirman
dalam surat An-Nahl ayat 90:
إِنَّ
اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ
وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah
menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum
kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.
Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
Ayat ini menegaskan
bahwa perintah pertama Allah kepada manusia, terutama para pemegang urusan
(pemimpin), adalah berlaku adil. Adil bukan berarti sama rata, melainkan
meletakkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan hak kepada pemiliknya tanpa
diskriminasi.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Kedua, pemimpin adil adalah naungan Allah.
Kemerdekaan sejati tercapai saat masyarakat merasa aman karena pemimpinnya
takut kepada Allah. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira dalam sebuah hadis shahih,
beliaun bersabda:
سَبْعَةٌ
يُظِلُّهُمُ اللّٰهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: ... الإِمَامُ
الْعَادِلُ .....
“Ada tujuh golongan
yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan
kecuali naungan-Nya: … (salah satunya adalah) Pemimpin yang adil....” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan
betapa tingginya derajat pemimpin yang mampu menjaga keadilan di tengah godaan
kekuasaan yang luar biasa.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Ketiga, pesan sahabat dan ulama. Sahabat Ali bin Abi
Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah memberikan nasihat emas terkait
keberlangsungan sebuah bangsa. Beliau menegaskan: “Sebuah negara yang kafir
bisa bertahan jika ia adil, namun sebuah negara yang beriman (muslim) akan
hancur jika ia zalim.”
Kalimat ini mengandung
makna mendalam bahwa keadilan adalah hukum alam (sunnatullah) untuk stabilitas
sebuah bangsa. Jika pemimpin bertindak adil, maka rakyat akan merasa merdeka
secara batiniah. Mereka merdeka dari rasa takut, merdeka dari kelaparan, dan
merdeka dari perlakuan semena-mena.
Keempat, implementasi keadilan
dalam berbangsa. Setiap pemimpin yang membawa kemerdekaan sejati adalah mereka
yang mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, kelompok atau
golongan; mereka yang menjaga lisan dan tindakan dari perbuatan korupsi yang
merampas hak rakyat; dan mereka yang mendengarkan keluh kesah masyarakat paling
bawah.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Allah Ta‘ala
berfirman:
إِنَّ
اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah
menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90)
Ayat ini menegaskan
bahwa keadilan adalah perintah langsung dari Allah, bukan pilihan, apalagi
sekadar slogan. Tanpa keadilan, kemerdekaan hanya menjadi kata-kata, sementara
rakyat tetap terbelenggu oleh ketimpangan dan ketidakpastian.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ
الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللّٰهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ
“Sesungguhnya
orang-orang yang berlaku adil kelak berada di atas mimbar-mimbar cahaya di sisi
Allah.” (HR Muslim)
Hadis ini menunjukkan
kemuliaan kedudukan pemimpin yang adil, baik dalam keputusan dan kebijakan maupun dalam memperlakukan rakyatnya.
Ma’asyiral
Muslimin rahimakumullah,
Sejarah mencatat bahwa
kehancuran suatu bangsa sering kali bermula dari rusaknya keadilan para
pemimpin. Ketika hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas, ketika kepentingan
pribadi dan golongan mengalahkan kepentingan rakyat, maka saat itulah
kemerdekaan sejati sirna.
Namun, jamaah sekalian,
keadilan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemimpin. Rakyat pun memiliki
kewajiban menjaga keadilan, dengan tidak berbuat zalim, tidak menyebarkan
kebencian, serta tidak mendukung kezaliman dalam bentuk apa pun.
Kemerdekaan sejati
lahir ketika pemimpinnya menjalankan amanah dengan jujur; ketika hukum
ditegakkan tanpa pandang bulu; dan ketika rakyat dapat hidup aman, sejahtera,
dan bermartabat.
Jika keadilan hilang,
maka sejatinya kita masih terjajah, meskipun negeri ini telah merdeka secara
administratif.
Ma’asyiral
Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita dukung
terciptanya keadilan ini mulai dari unit terkecil, yakni kepemimpinan dalam
diri sendiri dan keluarga. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada bangsa kita
pemimpin-pemimpin yang jujur, amanah, dan adil, sehingga kemerdekaan yang kita
nikmati saat ini benar-benar membawa keberkahan dan kemaslahatan bagi seluruh
rakyat Indonesia.
Mari kita tegakkan
keadilan dalam diri kita sendiri, dalam rumah tangga kita, hingga pada akhirnya
Allah SWT menghadirkan pemimpin-pemimpin yang adil di tengah-tengah kita.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga negeri kita, Indonesia, dan menjadikannya negeri yang “Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafur”—negeri yang subur, makmur, adil, dan senantiasa berada dalam ampunan Allah SWT. Amiin ya Rabbal ‘Alamin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآ يَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ
عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ
الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ،
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ
عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ
عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ
وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى
آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم
ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ
وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ
وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً
وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.