Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Tuntunan Ibadah

Amalkan Bacaan Ini pada Hari Asyura’, Faedahnya Dijauhkan dari Marabahaya dan Diberi Umur Panjang

5 menit baca 295 dibaca
Amalkan Bacaan Ini pada Hari Asyura’
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital —  Hari Asyura’, pada tanggal 10 Muharram merupakan salah satu hari yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Pada hari tersebut, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berbagai amalan ibadah, seperti puasa, berdzikir, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Hari Asyura’ diyakini sebagai waktu yang penuh keberkahan dan curahan rahmat, sehingga sangat dianjurkan untuk diisi dengan berbagai bentuk ketaatan dan amal saleh. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quddus al-Makki asy-Syafi’i (wafat 1335 H) dalam karyanya:

وَمِنَ الْمَطْلُوبِ فِي يَوْمِهِ أَيْضًا أَنْ يَشْغَلَهُ بِالتَّضَرُّعِ وَالْإِبْتِهَالِ، سِيَّمَا بِالْحَسْبَلَةِ وَالتَّسْبِيحِ فَإِنَّ فِيهِمَا فَائِدَةً عَظِيمَةً وَعَائِدَةً فَخِيمَةً

“Termasuk amalan yang dianjurkan pada hari Asyura’ adalah menyibukkan diri dengan berdoa, merendahkan diri, dan bermunajat kepada Allah, terutama dengan memperbanyak bacaan hasbalah (ḥasbunallāh wa ni’mal wakīl) dan tasbih. Sebab, di dalamnya terdapat manfaat yang besar dan keutamaan yang agung.” (Kanzun Najah wa As-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 83)

Baca juga: 3 Doa Hari Asyura’ yang Diamalkan Ulama, Lengkap Disertai Tulisan Latin, Terjemah, dan Keterangan Keutamaannya

Di antara bacaan doa dan dzikir yang dianjurkan untuk diamalkan pada Hari Asyura’ adalah membaca kalimat hasbalah sebanyak tujuh puluh kali.

Menurut keterangan para ulama, orang yang mengamalkannya akan memperoleh perlindungan dari berbagai keburukan sepanjang tahun tersebut.

Adapun lafaz bacaannya adalah sebagai berikut:

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Hasbunallāhu wa ni’mal wakīl, ni’mal maulā wa ni’man nashīr.

Artinya: “Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung. Dia sebaik-baik Penolong dan sebaik-baik Pembela.”

Keterangan di atas dinukil oleh Syekh Abdul Hamid Quddus al-Makki dari Syekh Ali bin Muhammad bin Abdurrahman al-Ajhuri al-Maliki (wafat 1066 H) dalam kitabnya. Ia menjelaskan sebagai berikut:

فَقَدْ ذَكَرَ الْعَلَّامَةُ الدِّيرَبِيُّ فِي فَوَائِدِهِ، وَسَيِّدِي مُحَمَّدُ الْأَمِيرُ الصَّغِيرُ فِي رِسَالَتِهِ فِي الْفَضَائِلِ الْعَاشُورِيَّةِ نَقْلًا عَنِ الْعَلَّامَةِ الْأَجْهُورِيِّ: أَنَّ مَنْ قَالَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ: حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ، سَبْعِينَ مَرَّةً كَفَاهُ اللَّهُ تَعَالَى شَرَّ ذَلِكَ الْعَامِ

“Sungguh, Syekh Ahmad ad-Dairabi dalam kitab Al-Fawā’id-nya, dan Syekh Muhammad al-Amir ash-Shaghir dalam risalahnya tentang keutamaan-keutamaan Asyura’, dengan menukil dari Ali al-Ajhuri, menyebutkan bahwa: Barang siapa membaca pada hari Asyura’: Hasbunallāhu wa ni‘mal wakīl, ni‘mal maulā  wa ni‘man naṣīr. Sebanyak tujuh puluh kali, maka Allah Ta’ala akan menjaganya dari berbagai keburukan pada tahun itu.” (Kanzun Najah wa As-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 83)

Baca juga: Puasa Sunnah Muharram: Keutamaan, Tata Cara Mengamalkan, dan Hikmahnya

Disebutkan pula bahwa Syekh Ali al-Ajhuri al-Maliki juga menyebutkan anjuran membaca hasbalah dengan sedikit lafaz berbeda yang kemudian disertai dengan doa khusus. Adapun lafaz bacaannya adalah sebagai berikut:

حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Ḥasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl, ni‘mal maulā  wa ni‘man naṣīr

Artinya: “Cukuplah Allah bagiku dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung. Dia adalah sebaik-baik Pemelihara dan sebaik-baik Penolong.”

Setelah membaca dzikir ini sebanyak tujuh puluh kali, seseorang dianjurkan membaca doa khusus sebanyak tujuh kali.

Adapun doa yang dianjurkan dibaca sebanyak tujuh kali setelah dzikir tersebut ialah sebagai berikut:

سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ الْمِيزَانِ، وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ، وَمَبْلَغَ الرِّضَا، وَزِنَةَ الْعَرْشِ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَى مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ، وَعَدَدَ كَلِمَاتِهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا، أَسْأَلُكَ السَّلَامَةَ كُلَّهَا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيُّ الْعَظِيمِ، وَهُوَ حَسْبِي وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ، وصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى نَبِيِّنَا خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَجْمَعِينَ

Subḥānallāhi mil’al-mīzān, wa muntahal-‘ilmi, wa mablaghar-ridhā, wa zinatal-‘arsy. Lā malja’a wa lā manjā minallāhi illā ilaih. Subḥānallāhi ‘adadasy-syaf‘i wal-watr, wa ‘adada kalimātihit-tāmmāti kullihā. As’alukas-salāmata kullahā biraḥmatika yā arḥamar-rāḥimīn. Wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil-‘aliyyil-‘adhīm, wa huwa ḥasbī wa ni‘mal-wakīl, ni‘mal-maulā wa ni‘man-naṣīr. Wa shallallāhu ta‘ālā ‘alā nabiyyinā khairi khalqihī sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihī wa shaḥbihī wa sallama ajma‘īn.

“Mahasuci Allah sepenuh timbangan amal, sejauh batas ilmu, sebesar keridaan, dan seberat Arasy. Tiada tempat berlindung dan tiada jalan keselamatan dari Allah kecuali kepada-Nya. Mahasuci Allah sebanyak bilangan yang genap dan yang ganjil, serta sebanyak seluruh kalimat-Nya yang sempurna. Aku memohon kepada-Mu segala keselamatan dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Dia adalah Dzat yang mencukupiku dan sebaik-baik Pelindung; Dia adalah sebaik-baik Pemelihara dan sebaik-baik Penolong. Semoga Allah Ta‘ala melimpahkan salawat dan salam kepada nabi kami, sebaik-baik makhluk-Nya, junjungan kami Rasulullah Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabat beliau.” (Kanzun Najah wa As-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 84)

Baca juga: Hakikat di Balik Syariat Doa

Dalam sebagian keterangan disebutkan bahwa amalan tersebut memiliki faedah besar, yakni orang yang mengamalkannya pada Hari Asyura’ tidak akan meninggal dunia pada tahun itu atas izin Allah. Akan tetapi, orang yang telah dekat ajalnya tidak akan diberi taufik untuk mengamalkannya.

وَقَالَ الْأَجْهُورِيُّ أَيْضًا: ذَكَرَ السَّيِّدُ الْمَدْعُوُّ غَوْثُ اللَّهِ فِي كِتَابِ الْجَوَاهِرِ: أَنَّ مَنْ قَالَ فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ سَبْعِينَ مَرَّةً: حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ، وَقَالَ فِيهِ هَذَا الدُّعَاءَ سَبْعَ مَرَّاتٍ لَمْ يَمُتْ تِلْكَ السَّنَةَ، وَمَنْ دَنَا أَجَلُهُ لَمْ يُوَفَّقْ لِقِرَاءَتِهِ

“Syekh Ali al-Ajhuri juga berkata: Sayyid Ghautsullah dalam kitab Al-Jawāhir menyebutkan bahwa barang siapa pada Hari Asyura’ membaca sebanyak tujuh puluh kali: Ḥasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl, ni‘mal maulā  wa ni‘man naṣīr. Lalu ia membaca doa berikut sebanyak tujuh kali, maka ia tidak akan meninggal dunia pada tahun itu. Adapun orang yang ajalnya telah dekat, maka ia tidak akan diberi taufik untuk membacanya.” (Kanzun Najah wa As-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 80)

Demikianlah amalan yang dianjurkan oleh para ulama pada hari Asyura’ berikut faedahnya. Di sini perlu digarisbawahi, bahwa hakikatnya amalan ini merupakan sarana untuk memperbanyak berdzikir, memperkuat tawakal, dan memohon perlindungan kepada Allah. Sehingga tidak perlu diragukan lagi khasiatnya.

Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kepada kita semua keselamatan, menjauhkan kita dari berbagai marabahaya, serta melimpahkan keberkahan umur yang panjang. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.