Lewati ke konten utama
Rabu, 28 Oktober 2026 / 17 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
1000615218
Berita

Sekjen MUI: Film Buya Hamka Bukan Sekadar Tontonan, tetapi Tuntunan

Sekjen MUI: Film Buya Hamka Bukan Sekadar Tontonan, tetapi Tuntunan

/ 17 Jumadil Awal 1448 H 3 menit baca 154 dibaca

Jakarta, MUI Digital --  Film Buya Hamka sekuel ketiga menghadirkan pelajaran tentang ketangguhan, perjuangan, dan keteladanan yang relevan bagi kehidupan masyarakat. Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Amirsyah Tambunan, menilai kisah hidup Buya Hamka dalam film tersebut dapat menjadi tuntunan, terutama bagi generasi muda dalam membentuk karakter dan bagi umat Islam dalam menjaga kemabruran haji.

Hal itu disampaikan Buya Amirsyah usai menonton film Buya Hamka bersama keluarga besar MUI di Plaza Senayan XXI, Studio 2, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026).

“Keistimewaannya banyak sebenarnya, tapi paling tidak ada dua,” ujar Buya Amirsyah mengawali ulasannya mengenai film tersebut.

Keistimewaan pertama, menurutnya, terletak pada proses pembentukan karakter Buya Hamka yang tidak terlepas dari peran keluarga dan lingkungan masyarakat. Dukungan ayah, ibu, serta masyarakat membentuk pribadi Buya Hamka menjadi sosok yang tangguh, ulet, dan memiliki semangat perjuangan.

“Pertama, bagaimana keluarga, ayah dan ibunya, masyarakatnya, membentuk kepribadian Buya Hamka yang tangguh, ulet, penuh semangat, penuh jihad, untuk menjadi seorang pahlawan,” tuturnya.

Selanjutnya, Buya Amirsyah menilai perjalanan hidup Buya Hamka menjadi pelajaran bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk membangun karakter yang kuat. Ia pun mengajak generasi muda menjadikan Buya Hamka sebagai salah satu teladan dalam membentuk kepribadian dan menghadapi tantangan kehidupan.

“Wahai para generasi muda, jadikan salah satu tokoh yang betul-betul membentuk kepribadian kita, yaitu Buya Hamka,” pesannya.

Lebih lanjut, Ia juga menyoroti latar belakang kehidupan Buya Hamka yang tumbuh dalam kondisi serba kekurangan. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam memahami proses pembentukan karakter seorang tokoh yang kemudian memberikan kontribusi bagi masyarakat.

“Karena Buya Hamka lahir dari situasi dan kondisi yang serba kekurangan. Itu penting, saya kira, untuk membentuk karakter generasi muda kita,” ungkapnya.

Selain pembentukan karakter, keistimewaan kedua berkaitan dengan perjalanan Buya Hamka ke Makkah. Selain menunaikan ibadah haji, perjalanan tersebut menjadi bagian dari proses menuntut ilmu dan membentuk keteladanan yang dapat dipetik oleh umat Islam.

“Yang ke-2, bagaimana Buya Hamka merantau berjalan ke Mekah. Kemudian dia belajar,” katanya.

Dari kisah tersebut, Buya Amirsyah mengingatkan pentingnya menjaga kemabruran haji sepanjang hayat. Ia mengajak calon jemaah haji maupun mereka yang telah kembali ke Tanah Air untuk menjadikan ibadah haji sebagai momentum memperkuat komitmen dalam melakukan kebaikan.

“Maka itu saya pesankan kepada calon jemaah haji, atau para jemaah haji yang sudah pulang ke Tanah Air, jadikan ini sebagai bagian dari tuntunan bahwa ada istilah mempertahankan haji mabrur sepanjang hayat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pelaksanaan ibadah haji pada masa Buya Hamka membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang tidak ringan. Namun, nilai ibadah tersebut tidak berhenti ketika rangkaian ritual selesai, melainkan perlu tercermin dalam keteladanan dan perilaku sehari-hari.

“Karena di saat beliau menunaikan ibadah haji, tidak mudah. Sangat sulit, sangat bekerja keras, menumpahkan segala kekuatan,” jelasnya.

Buya Amirsyah menegaskan, keteladanan Buya Hamka dalam kehidupan dapat menjadi pengingat bahwa kemabruran haji perlu dibuktikan melalui konsistensi dalam berbuat baik.

“Tapi Hamka membuktikan haji mabrurnya dengan keteladanan yang beliau tampilkan,” pungkasnya.

Melalui film Buya Hamka sekuel ketiga, masyarakat dapat mengambil pelajaran bahwa keteladanan seorang tokoh tidak hanya dikenang melalui perjalanan hidupnya, tetapi juga melalui nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kisah Buya Hamka menjadi pengingat pentingnya membangun karakter yang tangguh, terus belajar, dan menjaga kebaikan sepanjang hayat. 

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads