Lewati ke konten utama
Rabu, 28 Oktober 2026 / 17 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
1000615170
Berita

Film Buya Hamka Jadi Tuntunan di Tengah Krisis Keteladanan

Film Buya Hamka Jadi Tuntunan di Tengah Krisis Keteladanan

/ 17 Jumadil Awal 1448 H 3 menit baca 117 dibaca

Jakarta, MUI Digital -- Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Seni Budaya, Erick Yusuf, mengajak masyarakat menjadikan film Buya Hamka sebagai sarana untuk mengenal dan meneladani sosok ulama besar yang memiliki keteladanan dalam berbagai bidang kehidupan.

Menurut Erick, Buya Hamka bukan hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga seniman, pemimpin, ayah, dan guru. Sosoknya mencerminkan keteladanan multidimensional yang relevan dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini, terutama di tengah krisis karakter dan kepemimpinan.

“Buya Hamka ini betul-betul kalau kita lihat, keteladanan itu lengkap ada di Buya Hamka,” ujar Erick saat memberikan tanggapan setelah menyaksikan film Buya Hamka sekuel ketiga bersama keluarga besar MUI di Plaza Senayan XXI, Studio 2, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026).

Ia menilai, film tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat untuk kembali menemukan figur teladan yang mampu memberikan harapan bagi masa depan bangsa.

Erick juga menyebut film Buya Hamka sebagai karya spektakuler, baik dari sisi penggarapan cerita maupun pemilihan aktor. Menurutnya, film tersebut tidak sekadar menyajikan hiburan, tetapi juga membawa pesan pendidikan dan nilai-nilai kehidupan.

“Ini film yang baik, film yang bukan hanya tontonan, tapi tuntunan,” katanya.

Erick menjelaskan, produksi film Buya Hamka berawal dari inisiatif MUI pada masa kepemimpinan Prof. Din Syamsuddin. Gagasan tersebut kemudian mendapat respons dari pihak Starvision, termasuk Parwez, serta dukungan dari Navin melalui Falcon Pictures hingga menghasilkan karya yang dapat dinikmati masyarakat.

Ia mengatakan, inisiatif tersebut berangkat dari harapan agar industri perfilman Indonesia tidak hanya menghasilkan film hiburan, tetapi juga mengangkat kisah tokoh-tokoh yang memiliki nilai edukatif dan keteladanan bagi generasi muda.

“Dulu MUI ingin bahwa produser-produser ayo jangan hanya membuat film-film hiburan, tetapi juga yang edukatif. Angkat tokoh ketua MUI pertama, Buya Hamka, yang menjadi teladan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Erick berharap penayangan film tersebut dapat mendorong lahirnya generasi penerus yang memiliki karakter, jiwa kepemimpinan, dan semangat pengabdian seperti Buya Hamka.

“Di masa sekarang kita krisis keteladanan, kita krisis karakter, krisis kepemimpinan. Saya kira Buya Hamka ini memberikan sebuah harapan,” ujar Erick.

Selain itu, Ia juga mengajak masyarakat untuk mendukung penayangan film tersebut dengan menonton bersama pada hari pertama penayangan yang dijadwalkan pada 19 November. Menurutnya, dukungan penonton penting agar film tersebut dapat bertahan lebih lama di bioskop dan menjangkau lebih banyak kalangan, terutama anak muda dan keluarga.

Erick menambahkan, keberhasilan sebuah film juga berkaitan dengan dukungan masyarakat terhadap industri perfilman. Dengan adanya apresiasi dan dukungan penonton, peluang untuk mengangkat tokoh-tokoh nasional lainnya ke layar lebar akan semakin terbuka.

“Karena itu, saya mengimbau masyarakat untuk menonton film ini dan mengadakan nonton bareng di mana-mana, agar nantinya kita bisa membuat film tentang tokoh-tokoh lain yang tidak kalah hebatnya,” ujar Erick.

Erick berharap, melalui film ini, masyarakat tidak hanya mengenal Buya Hamka sebagai tokoh sejarah, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai keteladanannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads