Lewati ke konten utama
Sabtu, 29 Agustus 2026 / 16 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Sekjen MUI Apresiasi Peran Nahdlatul Ulama Merawat Tradisi Pesantren dan Pembaruan Bangsa

2 menit baca 129 dibaca
Sekjen Maestro
Sekjen MUI, Buya Amirsyah Tambunan dalam Maestro Summit: Multaqa Seniman dan Budayawan Muslim Se-Indonesia ke-2, yang digelar di Pesantren Modern Daar El-Qolam, Gintung, Banten, Sabtu (18/7/2026). Foto: Istimewa
Bagikan:

JOMBANG, MUI Digital— Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Amirsyah Tambunan menyampaikan apresiasi mendalam atas peran Nahdlatul Ulama (NU) dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Kehadiran NU dinilai tak hanya konsisten merawat tradisi keislaman berbasis pesantren, tetapi juga menjadi pilar pembaruan bangsa. 

Hal tersebut disampaikan Buya Amirsyah seusai menghadiri pembukaan Muktamar ke-35 NU yang dibuka secara resmi oleh Presiden RI Prabowo Subianto di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026).

Buya Amirsyah menegaskan bahwa NU memiliki tempat khusus dalam sejarah peradaban Indonesia. Menurutnya, kekuatan basis massa tradisional yang dirawat NU melalui pendidikan pesantren mampu berjalan seiring dengan arus modernisasi zaman.

​"NU dan Muhammadiyah adalah dua organisasi besar yang menjadi penyeimbang dan pelopor pergerakan kemerdekaan hingga usia bangsa mencapai 81 tahun merdeka. Keduanya merupakan pasangan yang sangat berjasa buat bangsa Indonesia," ujar Buya Amirsyah dalam keterangan yang diterima MUI Digital, Jumat (28/8/2026). 

Buya Amirsyah mengibaratkan sinergi antara NU dan Muhammadiyah bagaikan dua sayap burung Garuda yang saling melengkapi. Dalam dinamika kebangsaan, NU hadir menjaga akar budaya dan tradisi (kultural), sementara Muhammadiyah bergerak pada manajemen organisasi modern dan pembaruan.

​"Dua sayap ini memiliki prinsip yang sama kuatnya untuk menjaga keseimbangan. Burung Garuda tidak akan bisa terbang jika hanya mengandalkan satu sayap. Keduanya harus mengepak secara serasi, seimbang, dan seirama agar Indonesia bisa terbang tinggi mencapai kejayaannya," tuturnya.

Lebih lanjut, Buya Amirsyah mengingatkan bahwa persatuan kedua organisasi Islam terbesar ini memiliki akar keilmuan yang erat sejak dulu, mengingat para pendiri yakni KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan ini berguru pada guru yang sama saat menimba ilmu di Mekah.

​Oleh karena itu, MUI terus mendorong agar penguatan umat dan pertahanan tradisi kebangsaan ini tetap bernaung di dalam wadah kebersamaan.

​"Bangsa yang utuh bagaikan NU dan Muhammadiyah yang tidak terpisahkan. Keduanya terus memperkuat umat dan bangsa melalui tentad besar wadah Majelis Ulama Indonesia," kata Buya Amirsyah.