Lewati ke konten utama
Minggu, 26 Juli 2026 / 11 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Pentingnya Akselerasi Ekonomi Hijau untuk Masa Depan Indonesia Menguat di KUII VIII

3 menit baca 91 dibaca
Silvy
Pleno VII bertajuk "Tantangan dan Agenda Pertumbuhan dan Ketahanan Ekonomi yang Berkeadilan, Inklusif, dan Berkelanjutan" pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Sabtu (25/7/2026). Foto Latifahtul/ MUI Didigal
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital –  Penguatan ekonomi hijau (green economy) dinilai menjadi salah satu kunci menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia agar tetap berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan di tengah tantangan global. 

Hal tersebut mengemuka dalam Pleno VII bertajuk "Tantangan dan Agenda Pertumbuhan dan Ketahanan Ekonomi yang Berkeadilan, Inklusif, dan Berkelanjutan" pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Sabtu (25/7/2026).

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Prof Sylvia Veronica Nalurita Purnama Siregar, mengatakan pembangunan ekonomi tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga harus memperhatikan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan generasi mendatang.

Baca juga: Pemerintah Dorong KUII VIII Perkuat Ekonomi Syariah Jadi Motor Pertumbuhan Nasional

"Berkelanjutan itu bagaimana suatu pembangunan bisa memenuhi kebutuhan generasi kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya," ujarnya.

Menurut Prof Sylvia, berbagai risiko global saat ini semakin didominasi persoalan lingkungan dan sosial, terutama perubahan iklim. Karena itu, konsep ekonomi hijau menjadi pendekatan yang harus diperkuat dalam kebijakan pembangunan nasional.

"Ekonomi hijau berusaha mengimbangkan, bukan hanya fokus di aspek ekonomi saja, tapi juga aspek lingkungan dan sosial," katanya.

Baca juga: MUI Berharap Presiden Prabowo Subianto Bisa Hadir di Penutupan KUII VIII

Dia menambahkan, nilai-nilai ekonomi hijau juga selaras dengan ajaran Islam yang mengajarkan agar manusia tidak berlebihan dalam memanfaatkan sumber daya serta menjaga amanah terhadap lingkungan.e

Sementara itu, Deputi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN, Ferry Irawan, menegaskan bahwa Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan ekonomi, mulai dari ketidakpastian global, pelemahan kelas menengah, hingga penurunan daya beli masyarakat. Menurutnya, dibutuhkan strategi pertumbuhan baru agar ekonomi nasional tetap tangguh.

Dalam paparannya, Ferry menyebut pemerintah mendorong penguatan sektor-sektor prioritas seperti pertanian, manufaktur, ekonomi digital, dan energi sebagai mesin pertumbuhan baru.

Dia juga menilai pengembangan ekonomi syariah dapat menjadi salah satu pilar penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Paparan Ferry tersebut, menurut Prof Sylvia, perlu diselaraskan dengan agenda pembangunan berkelanjutan. 

Baca juga: Di KUII VIII, MUI Gandeng UI Kembangkan Artificial Intelligence untuk Kemajuan Bangsa

Penguatan sektor prioritas dan industrialisasi harus berjalan seiring dengan upaya menekan emisi, meningkatkan efisiensi sumber daya, serta memperluas penggunaan pembiayaan hijau agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lintas generasi.

Prof Sylvia menegaskan bahwa mewujudkan ekonomi berkelanjutan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan kolaborasi dunia usaha, perguruan tinggi, media, organisasi keagamaan, dan masyarakat.

"Semua orang punya tanggung jawab. Sebagai institusi keagamaan, kita juga punya peranan besar karena masyarakat memandang tokoh agama sebagai teladan, memberikan edukasi, termasuk dalam pemanfaatan zakat, infak, sedekah, dan wakaf," kata dia.