Lewati ke konten utama
Minggu, 26 Juli 2026 / 11 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Pemerintah Dorong KUII VIII Perkuat Ekonomi Syariah Jadi Motor Pertumbuhan Nasional

3 menit baca 103 dibaca
ba0ac141-0afb-4b14-8d90-b5cd3a5255f8
Bagikan:

JAKARTA, MUI Digital – Ekonomi syariah diproyeksikan memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. 

Potensi tersebut perlu terus didorong melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, termasuk umat Islam.

Hal itu disampaikan oleh Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dr Ferry Irawan, dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (25/7/2026).

Ferry menjelaskan, di tengah kinerja ekonomi nasional yang tetap positif, industri keuangan syariah juga menunjukkan pertumbuhan yang stabil.

Ia menyebut pangsa pasar perbankan syariah telah mencapai sekitar 7,3 persen, sementara sektor keuangan syariah nonbank berada di kisaran 5 persen.

"Misalnya untuk perbankan syariah ini total asetnya itu market share-nya di sekitar 7,3 persen. Kemudian untuk yang non-bank ini juga di sekitar 5 persen. Jadi pertumbuhan ekonomi secara nasional ini juga diikuti dengan kontribusi yang cukup signifikan, cukup penting dan terus tumbuh dari industri keuangan syariah," ujarnya.

Meski demikian, menurut Ferry, masih terdapat ruang yang sangat besar untuk meningkatkan kontribusi ekonomi syariah terhadap perekonomian nasional.

Ia mengungkapkan, berdasarkan publikasi State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2024–2025, Indonesia saat ini berada di peringkat keempat ekonomi syariah dunia, di bawah Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

"Ini mungkin yang sama-sama perlu kita cermati bagaimana di Kongres Umat Islam 2026 ini kita bisa terus mendorong ekonomi syariah kita di Indonesia itu bisa terus meningkat. Kalau ditarget, pemerintah sendiri sampai dengan akhir 2029 itu target yang pertama," jelasnya.

Ferry menilai, posisi tersebut belum mencerminkan besarnya potensi Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. 

Karena itu, pemerintah menargetkan peningkatan peringkat ekonomi syariah nasional dalam beberapa tahun ke depan.

Ia menjelaskan bahwa sejumlah subsektor telah menunjukkan daya saing yang baik, seperti modest fashion, media dan rekreasi halal, serta industri makanan halal. 

Namun, sektor keuangan syariah masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diperkuat.

"Baru kemudian tadi ada yang jadi PR mungkin yang Islamic finance. Mungkin nanti kita bisa diskusi. Bagaimana kita bisa mendorong Islamic finance. Di beberapa kesempatan kami di kantor Menko juga untuk diversifikasi instrumen, juga mendorong penerbitan instrumen sukuk atau obligasi berbasis Islam untuk daerah," terang dia. 

Menurut Ferry, pemerintah saat ini juga tengah mendorong diversifikasi instrumen pembiayaan syariah, termasuk pengembangan sukuk daerah sebagai salah satu alternatif pembiayaan pembangunan.

Selain itu, pemerintah juga memperkuat kelembagaan untuk memperluas inklusi keuangan syariah dan menyediakan berbagai skema pembiayaan bagi masyarakat yang ingin berwirausaha.

Ia optimistis, apabila seluruh potensi ekonomi syariah dapat dikembangkan secara optimal melalui sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan umat Islam, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemimpin ekonomi syariah dunia.

"Kalau kita bisa terus kembangkan berbagai potensi yang ada di umat, saya yakin tadi target untuk naik di peringkat yang lebih baik lagi, bahkan satu itu akan sangat mungkin," kata Ferry optimis.