Lewati ke konten utama
Rabu, 19 Agustus 2026 / 6 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Google Ads
Berita

Laporan Ungkap Separuh Lebih Warga Israel yang Eksodus Menolak Kembali

5 menit baca 172 dibaca
Bendera Israel- Photo by engin akyurt on Unsplash
Bendera Israel- Photo by engin akyurt on Unsplash
Bagikan:

Tel Aviv, MUI Digital- Di saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berulang kali membanggakan keberhasilan pemerintahannya dan mengklaim telah mengubah wajah Timur Tengah, data migrasi justru menunjukkan gambaran yang jauh berbeda.

Semakin banyak warga Israel memilih meninggalkan negaranya, sementara jumlah mereka yang kembali terus merosot.

Laporan Pusat Penelitian dan Informasi Knesset yang dikutip surat kabar Israel Maariv, diikuti p Aljazeera, Selasa (18/8/2026)  menunjukkan bahwa jumlah warga Israel yang kembali ke negaranya anjlok 53 persen dalam beberapa tahun terakhir.

Dari sekitar 8.000 orang pada 2020, jumlahnya tinggal sekitar 3.800 orang pada 2024. Angka tersebut merupakan yang terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Penurunan mulai terlihat pada 2023 dan terus berlanjut ketika Israel memasuki periode perang dan ketegangan keamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa dekade terakhir.

Yang membuat data tersebut semakin mencolok bukan hanya jumlah warga Israel yang meninggalkan negaranya, tetapi juga semakin sedikitnya mereka yang bersedia kembali.

Sejak 2022, jumlah warga Israel yang meninggalkan negara itu secara permanen meningkat secara signifikan.

Akibatnya, neraca migrasi Israel berubah menjadi negatif sepanjang 2022–2024, dengan pengurangan bersih sekitar 140 ribu orang.

Laporan lain yang dikutip Financial Times bahkan memperkirakan sekitar 150 ribu warga Israel meninggalkan Israel dalam tiga tahun terakhir.

Fenomena ini tergolong tidak biasa dalam sejarah Israel, yang selama puluhan tahun justru berusaha menarik orang-orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia untuk tinggal di negara tersebut.

Kini, arah arus migrasi mulai berubah. Israel yang selama ini dipromosikan sebagai tempat “paling aman” bagi orang Yahudi justru menghadapi persoalan ketika sebagian warganya memilih membangun kehidupan di luar negeri.

Perang Mempercepat Krisis Gelombang kepergian tersebut tidak muncul dalam ruang hampa. Menurut laporan Financial Times, arus keluar mulai meningkat setelah krisis politik internal yang dipicu rencana pemerintahan Netanyahu untuk melakukan reformasi sistem peradilan pada awal 2023.

Situasinya kemudian berubah drastis setelah 7 Oktober 2023, ketika serangan Hamas memicu perang besar di Gaza. Perang yang semula berpusat di Gaza kemudian berkembang menjadi konflik regional yang melibatkan berbagai front.

Israel menghadapi ancaman keamanan dari sejumlah arah, sementara perang berkepanjangan menimbulkan tekanan ekonomi, sosial, dan politik di dalam negeri.

Bagi sebagian warga Israel, kondisi tersebut menjadi alasan untuk menunda kepulangan atau bahkan memilih tetap tinggal di luar negeri.

Laporan Knesset menyebut kondisi keamanan dan sosial Israel sebagai salah satu faktor yang membuat warga Israel di luar negeri semakin ragu untuk kembali.

Sulit Pulang ke Negeri Sendiri Ironisnya, warga Israel yang ingin kembali pun menghadapi berbagai hambatan.

Mereka yang telah lama tinggal di luar negeri dan berhenti membayar iuran asuransi nasional dapat diwajibkan menunggu hingga enam bulan sebelum memperoleh layanan kesehatan pemerintah.

Alternatifnya, mereka harus membayar sekitar 16.860 shekel. Namun, menurut Maariv, sekitar 94 persen warga Israel yang masuk dalam masa tunggu pada periode 2022–2024 tidak membayar biaya tersebut.

Akibatnya, mereka harus menunggu antara dua hingga enam bulan tanpa memperoleh jaminan kesehatan pemerintah.

Masalah lainnya adalah pekerjaan. Sebagian warga yang kembali kesulitan mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang dianggap layak.

Proses pengurusan status pasangan yang bukan warga Israel juga dapat berlangsung sangat lama, bahkan mencapai lima hingga tujuh tahun. Semua persoalan tersebut membuat keputusan untuk pulang menjadi semakin berat.

Data migrasi ini menjadi semakin penting karena menyangkut kelompok usia produktif. Lebih dari separuh warga yang kembali ke Israel pada 2024–2025 berada dalam rentang usia 28–60 tahun, yang merupakan kelompok usia kerja.

Artinya, persoalan migrasi tidak hanya menyangkut individu yang telah pensiun atau warga lanjut usia. Israel juga menghadapi persoalan mempertahankan penduduk usia produktif yang menjadi salah satu fondasi ekonomi negara.

Sekitar 70 persen warga yang kembali sebelumnya telah tinggal di luar negeri selama lebih dari lima tahun. Hampir sepertiga bahkan baru kembali setelah berada di luar negeri selama satu dekade atau lebih.

Cermin perubahan

Amerika Serikat menjadi salah satu contoh paling jelas. Jumlah warga Israel yang kembali dari Amerika Serikat turun tajam, dari sekitar 3.700 orang pada 2020 menjadi hanya 1.500 orang pada 2024.

Pada periode 2024–2025, sekitar 45 persen warga yang kembali ke Israel berasal dari Amerika Serikat dan 5 persen dari Kanada. Data tersebut menunjukkan bahwa bahkan dari negara yang selama ini menjadi salah satu pusat utama diaspora Yahudi, arus kembali ke Israel mengalami pelemahan.

 Ketua Komite Knesset untuk Imigrasi, Integrasi, dan Diaspora, Gilad Kariv, mengatakan bahwa dirinya telah memperingatkan mengenai potensi gelombang besar warga Israel yang meninggalkan negara tersebut.

“Kami telah berulang kali meminta agar ditunjuk seseorang yang menangani fenomena ini secara menyeluruh,” ujarnya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa persoalan migrasi mulai dipandang sebagai masalah strategis di tingkat politik Israel, bukan lagi sekadar keputusan pribadi sebagian warga.

Sebab, jika semakin banyak warga pergi sementara semakin sedikit yang kembali, persoalannya bukan hanya kehilangan jumlah penduduk.

Israel juga berpotensi kehilangan tenaga kerja, sumber daya manusia, keahlian, dan modal yang dibutuhkan untuk menopang perekonomian dalam jangka panjang.

Di sinilah paradoks yang muncul. Netanyahu berbicara tentang kemenangan, kekuatan Israel, dan perubahan tatanan Timur Tengah.

Namun, di dalam negeri, data menunjukkan persoalan yang berbeda: semakin banyak warga memilih pergi, sementara jumlah mereka yang kembali justru jatuh lebih dari separuh.

Krisis tersebut juga berlangsung ketika Israel menghadapi tekanan ekonomi, konflik berkepanjangan, polarisasi politik, serta ketidakpastian keamanan.

Karena itu, angka migrasi menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kondisi Israel dari sisi yang berbeda. Bukan dari pidato para pemimpin, melainkan dari keputusan warga biasa tentang satu pertanyaan sederhana: Apakah mereka masih ingin tinggal di Israel, dan apakah mereka masih ingin kembali?

Data beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa jawabannya semakin tidak mudah bagi pemerintah Israel.  

Google Ads
Google Ads