Lewati ke konten utama
Rabu, 8 Juli 2026 / 22 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Konferensi Bergengsi Israel Tak Persoalkan Perang Multifront, Malah Hanya Soroti Dampak Politiknya Saja

4 menit baca 134 dibaca
Bendera Israel- Photo by engin akyurt on Unsplash
Bendera Israel- Photo by engin akyurt on Unsplash
Bagikan:

 Jakarta, MUI Digital – Tokoh-tokoh utama oposisi Israel dinilai menawarkan perubahan dalam gaya kepemimpinan, tetapi tidak membawa perbedaan mendasar dalam kebijakan luar negeri dibanding pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Penilaian tersebut mengemuka setelah sejumlah pemimpin oposisi menyampaikan pandangannya dalam Konferensi Herzliya, forum tahunan bergengsi yang membahas isu keamanan dan strategi nasional Israel.

Dikutip MUI Digital dari Aljazeera, Rabu (8/7/2026), mantan Kepala Staf Militer Israel Gadi Eisenkot, mantan Perdana Menteri Yair Lapid, dan mantan Perdana Menteri Naftali Bennett tidak banyak mengkritik perang Israel di Gaza, Lebanon, maupun Iran.

Kritik mereka lebih diarahkan pada cara Netanyahu menjalankan perang serta kedekatannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dalam pidatonya, Bennett menilai pemerintah Israel belum berhasil mencapai tujuan militernya. Ia menyebut Hamas kembali memperkuat persenjataan di Gaza selatan, Hizbullah masih menjadi ancaman di Lebanon, sementara rezim Iran tetap bertahan.

Sementara itu, Eisenkot menuding Netanyahu melebih-lebihkan ancaman nuklir Iran, meski tetap mendukung secara prinsip operasi militer Israel di Gaza, Lebanon, dan Iran.

Lapid juga menyoroti semakin besarnya isolasi diplomatik yang dihadapi Israel. Menurutnya, citra Israel di mata dunia memburuk dan negara itu semakin dipandang sebagai pihak yang ekstrem oleh banyak pemimpin internasional.

Baca juga: Iran Masih Miliki Kemampuan Militer di Tengah Negosiasi dengan AS

Meski demikian, Netanyahu tetap mempertahankan retorika kerasnya. Dalam wawancara dengan media Israel Channel 14, ia menegaskan bahwa konflik yang dihadapi negaranya tidak akan berakhir dalam waktu dekat dan menekankan pentingnya mempertahankan kekuatan militer Israel demi kelangsungan hidup negara tersebut.

Anggota parlemen Israel dari Partai Hadash, Aida Touma-Sliman, menilai tidak terdapat perbedaan substansial antara oposisi dan pemerintahan Netanyahu dalam isu kebijakan luar negeri.

Menurutnya, Eisenkot, Lapid, dan Bennett pada dasarnya mendukung operasi militer Israel di Gaza, Lebanon, maupun Iran. Perbedaan mereka hanya terletak pada cara pelaksanaan perang, bukan pada tujuan atau kebijakan dasarnya.

Touma-Sliman juga menilai sebagian besar politisi Israel tetap mendukung pendekatan militer dan hanya mengkritik Netanyahu karena dianggap terlalu bergantung pada kebijakan Amerika Serikat.

Pandangan serupa disampaikan sosiolog Israel Yehouda Shenhav-Shahrabani. Ia mengatakan bahwa ketiga tokoh oposisi tersebut mencerminkan pandangan mayoritas masyarakat Israel saat ini yang semakin bergeser ke arah politik sayap kanan sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Baca juga: Perang Iran Dinilai Ubah Lanskap Energi Global, Berdampak Panjang Lantas Siapa Untung?

Menurutnya, mereka mendukung operasi militer terhadap Iran dan Lebanon, tetapi tidak menawarkan solusi politik yang berarti, termasuk dalam hubungan dengan pemerintah Lebanon maupun penyelesaian konflik Palestina.

Ia juga menyoroti masih adanya penolakan dari sebagian besar oposisi untuk melibatkan partai-partai yang mewakili warga Palestina di Israel dalam pemerintahan, sehingga menunjukkan belum adanya perubahan mendasar dalam pendekatan politik mereka.

Para analis menilai serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 menjadi titik balik yang membentuk hampir seluruh dinamika politik Israel.

Peristiwa yang menewaskan lebih dari seribu warga Israel dan menyebabkan ratusan orang disandera tersebut terus memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap isu keamanan nasional.

Bagi banyak warga Israel, peristiwa itu dipandang sebagai trauma nasional yang mengubah persepsi terhadap ancaman di kawasan.

Presiden Mitvim–Israel Institute for Regional Foreign Policies, Nimrod Goren, mengatakan bahwa meskipun banyak warga Israel kini memiliki pandangan yang lebih konservatif dalam isu keamanan, hal itu tidak selalu berarti mereka mendukung Netanyahu.

Baca juga: Kritik Muncul terhadap Tim Negosiasi AS dalam Pembicaraan dengan Iran

Menurutnya, tokoh-tokoh oposisi masih berusaha menawarkan alternatif terhadap gaya kepemimpinan Netanyahu yang sangat personal, meskipun kebijakan keamanan mereka tetap menekankan pentingnya kekuatan militer.

Goren menilai tantangan terbesar bagi pemerintahan Israel berikutnya adalah menyeimbangkan pendekatan militer dengan diplomasi.

Ia berpendapat bahwa keamanan tetap menjadi prioritas utama setelah serangan 7 Oktober, namun dialog, perjanjian politik, dan upaya perdamaian tidak boleh diabaikan apabila Israel ingin menciptakan stabilitas jangka panjang di kawasan.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa meskipun terdapat persaingan politik menjelang pemilu Israel, perbedaan antara pemerintahan Netanyahu dan oposisi lebih banyak terlihat pada gaya kepemimpinan dibandingkan perubahan arah kebijakan luar negeri maupun strategi keamanan negara tersebut.