Lewati ke konten utama
Jumat, 7 Agustus 2026 / 23 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Kiai Imam Jazuli: Kiai Ma'ruf Berorganisasi Tak Sekadar Ikut-ikutan, Tapi Bermodal Landasan Intelektual

2 menit baca 177 dibaca
40265598-b561-4125-abb6-308c5efc9e61
Bagikan:

JAKARTA, MUI Digital-- Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli, menilai buku "Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin" memiliki kontribusi penting dalam mengubah pola pikir (mindset) warga Nahdliyīn. 

Buku ini dinilai berhasil membuka kesadaran umat bahwa ber-NU harus berlandaskan pada kesadaran intelektual dan ideologis yang kuat, bukan sekadar tradisi turun-temurun.

Pandangan tersebut disampaikan KH Imam Jazuli saat menjadi narasumber bedah buku karya Hj. Siti Haniatunnisa dan H. Muhammad Zainal Arifin di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (5/8/2026) malam.

​"Buku ini sangat menarik karena membuka kesadaran kita tentang pentingnya mindset. Ber-NU tidak boleh hanya karena ikut-ikutan atau faktor keluarga, tetapi harus berlandaskan pada kesadaran intelektualitas dan ideologis melalui fikrah, manhaj, dan harakah," ujar KH Imam Jazuli di hadapan ratusan tokoh keagamaan.

Kiai Imam Jazuli menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam saat ini, seperti keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan. Menurutnya, masalah tersebut sering kali berakar dari fikrah yang keliru, yakni cara berpikir fatalistik yang menjauhkan umat dari roh Islam yang berkemajuan.

Melalui buku ini, lanjutnya, KH Ma'ruf Amin mengajak warga NU untuk membangun fikrah yang benar, sebuah cara berpikir moderat (tawassuṭḥ) yang tetap memegang teguh turāṡ (tradisi keilmuan ulama) namun dibaca secara kontekstual, bukan tekstualis apalagi statis.

​"Hari ini di komunitas kita, teks seolah menjadi barang mati yang dianggap paten dan sulit diinterpretasikan. Padahal, semangat luar biasa dari buku Kiai Ma'ruf ini adalah semangat iṣlāḥ (perbaikan) dan tajdīd (pembaruan) untuk mengajak kita keluar dari kejumudan," tegasnya.

​Ia juga menambahkan bahwa manhaj dan harakah Nahdhiyyah menuntut warga NU untuk responsif terhadap realitas zaman, termasuk dalam beradaptasi dengan era digitalisasi dan transformasi teknologi.

Acara peluncuran buku setebal lebih dari 600 halaman tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar. Kegiatan ini menjadi momen krusial menjelang gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026 mendatang.

Hadir pula jajaran tokoh nasional lain, di antaranya Sekjen Kemenag RI Prof Kamaruddin Amin, Wakil Ketua Baznas RI KH Zainut Tauhid Sa'adi, Ketua DPW PKB Jawa Tengah Gus Yusuf, Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis dan KH Marsudi Syuhud, Ketua Kopnus Syariah Abdul Kholid Soleh, Wasekjend MUI Bidang Dakwah KH Arif Fahruddin, serta Wasekjend MUI Bidang Infokomdigi Dr Asrori S. Karni.