Lewati ke konten utama
Sabtu, 24 Oktober 2026 / 13 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Kiai Cholil Nafis: Informasi Digital Harus Diperlakukan seperti dari Orang Fasik
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kiai Muhammad Cholil Nafis, menyampaikan sambutan dalam kegiatan “Peningkatan Literasi Digital Perspektif Islam: Santri Cakap Digital, Berakhlak Qurani, Membangun Negeri” yang diselenggarakan Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI di Aula Bani Shaibah, Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Sabtu (24/10/2026). Foto: MUI Digital
Berita

Kiai Cholil Nafis: Informasi Digital Harus Diperlakukan seperti dari Orang Fasik

Kiai Cholil Nafis: Informasi Digital Harus Diperlakukan seperti dari Orang Fasik

/ 13 Jumadil Awal 1448 H 5 menit baca 81 dibaca

Depok, MUI Digital — Informasi yang benar belum tentu layak disebarkan. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kiai Muhammad Cholil Nafis, mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menerima dan menyebarkan informasi tanpa melakukan verifikasi, validasi, serta mempertimbangkan kemaslahatannya. Ia mengibaratkan informasi yang datang seperti informasi dari orang fasik yang perlu diperiksa terlebih dahulu.

“Tidak semua informasi yang datang kita serap. Anggap saja yang masuk itu adalah kayak orang fasik, perlu diverifikasi dulu, divalidasi dulu. Kemudian setelah itu kita berpikir, ini kalau benar, apakah pantas saya sebarkan? Meskipun sudah benar, kalau tidak pantas disebarkan, jangan disebarkan. Ini bagian dari literasi,” tegas Kiai Cholil.

Hal itu disampaikan dalam sambutannya pada kegiatan “Peningkatan Literasi Digital Perspektif Islam: Santri Cakap Digital, Berakhlak Qurani, Membangun Negeri” yang diselenggarakan Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI di Aula Bani Shaibah, Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Sabtu (24/10/2026).

Menurut Kiai Cholil, literasi digital tidak cukup berhenti pada kemampuan untuk memeriksa kebenaran informasi. Masyarakat juga perlu memahami materi yang diterima dan mempertimbangkan manfaat serta dampaknya sebelum memutuskan untuk menyebarkannya.

Kiai Cholil menegaskan bahwa prinsip tersebut penting diterapkan di tengah maraknya informasi yang tidak jelas sumbernya, termasuk konten video viral dan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk menghasilkan konten yang tidak baik.

“Pertama, ngerti benar tentang bahannya, materinya, kemudian verifikasi materinya, kemudian untuk menyikapi, apalagi menyebarkan, dia harus mengetahui dulu tentang kemaslahatannya,” ujarnya.

Kiai Cholil juga mengapresiasi kegiatan literasi digital yang dinilainya penting bagi santri dan wali santri. Menurutnya, ruang digital dapat menjadi sarana menyebarkan kebaikan, tetapi juga berpotensi digunakan untuk menyebarkan keburukan apabila tidak disertai pengetahuan dan tanggung jawab.

“Saya mengapresiasi kepada Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI karena memang sekarang bermuara dan bermula dari digital. Orang bisa menyebarkan kebaikan dari digital, bisa juga menjadi keburukan dari digital. Jadi ketika memberikan literasi ini adalah sesuatu yang sungguh sangat baik, apalagi bagi santri dan wali santri,” tuturnya.

Kiai Cholil menilai pendidikan literasi digital perlu menjangkau keluarga, bukan hanya para santri. Orang tua dan wali santri perlu memiliki pemahaman yang memadai agar tidak terburu-buru memberikan penilaian atau merespons informasi yang belum jelas kebenarannya hingga akhirnya menyesal.

Selain menyoroti pentingnya verifikasi informasi, Kiai Cholil menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh pengetahuan. Kehadiran AI, menurutnya, mempermudah pencarian referensi dan membantu pengguna memahami berbagai persoalan.

Kiai Cholil membandingkan pengalaman mencari referensi untuk penulisan skripsi pada masa lalu dengan kemudahan yang tersedia saat ini. Jika dahulu pencarian referensi di perpustakaan bisa menghabiskan waktu tanpa hasil yang memadai, kini informasi dapat diperoleh dengan lebih cepat melalui teknologi digital.

“Kalau dulu itu kita nyari referensi ketika sedulis kripsi, itu seharian di perpustakaan, gak ketemu referensinya. Tapi sekarang, itu tinggal klik, udah keluar semua,” ungkapnya.

Kiai Cholil juga membagikan pengalamannya menggunakan layanan AI berbayar sebagai asisten untuk membantu memahami informasi. Namun, ia mencontohkan bahwa hasil AI tetap perlu diperiksa dengan membandingkannya dengan sumber yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kiai Cholil menyebutkan situs resmi Bank Indonesia (BI), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai contoh sumber rujukan untuk memeriksa informasi sesuai dengan bidangnya.

Penggunaan AI juga dapat membantu seseorang memperoleh gambaran awal mengenai orang yang akan ditemuinya. Kiai Cholil menceritakan pengalamannya menelusuri informasi digital sebelum bertemu dengan sejumlah pejabat sehingga ia dapat memahami latar belakang dan rekam jejak mereka.

Pengalaman tersebut, menurutnya, menunjukkan besarnya kemampuan teknologi apabila digunakan untuk tujuan yang baik. Sebaliknya, penggunaan teknologi untuk tindakan yang merugikan dapat membawa konsekuensi hukum.

“Betapa dahsyatnya dipakai untuk kebaikan. Demikian juga kalau dipakai untuk keburukan, bisa masuk penjara, dan seterusnya,” ujarnya.

Kiai Cholil menilai perkembangan teknologi juga menjadi tantangan bagi lembaga pendidikan pesantren. Santri perlu memiliki fondasi ilmu agama yang kuat sekaligus kemampuan menghadapi perkembangan zaman, termasuk dalam menggunakan teknologi digital.

Kiai Cholil menjelaskan bahwa Pondok Pesantren Cendekia Amanah menerapkan tahapan pendidikan yang disesuaikan dengan jenjang pembelajaran. Pada tingkat SMP, santri berfokus pada penguasaan pengetahuan dasar melalui pembelajaran kitab, nahu, hadis, dan disiplin ilmu lainnya. Pada jenjang ini, santri tidak diperbolehkan menggunakan telepon seluler maupun komputer.

Sementara itu, pada tingkat SMA, santri mulai diperkenalkan pada penggunaan perangkat digital secara terbatas. Pembelajaran diarahkan agar santri tidak hanya memahami pengetahuan, tetapi juga mampu menerapkannya dan mengartikulasikan gagasan.

“Kalau di awal dia kenalin teknologi, dia akan males masuk kepada yang susah-susah. Ketika masuk di SMA, ini sudah how to do. Gimana mereka bisa berartikulasi,” jelasnya.

Kiai Cholil menggambarkan arah pendidikan tersebut melalui tiga tahapan, yakni how to know, how to do, dan how to be. Tahap how to know menekankan penguasaan pengetahuan, how to do berkaitan dengan kemampuan menerapkan pengetahuan, sedangkan how to be mengarahkan santri untuk memahami jati diri dan menentukan peran yang ingin dijalankan.

Kiai Cholil berharap pendidikan pesantren dapat melahirkan generasi yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki wawasan umum dan kemampuan berkontribusi dalam kehidupan masyarakat.

Kiai Cholil menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital tidak seharusnya dihindari. Sebaliknya, umat Islam perlu mengambil peran dalam menghadirkan informasi yang bermanfaat dan mencerminkan nilai-nilai Islam di ruang digital.

Menurutnya, informasi yang beredar di internet dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap seseorang. Jejak digital yang tersedia di mesin pencari, media sosial, dan berbagai platform dapat menjadi sumber informasi bagi orang lain ketika ingin mengetahui latar belakang seseorang.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menghadirkan konten yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Santri diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu berkontribusi dalam menyebarkan informasi yang membawa manfaat bagi masyarakat.

“Karena kita sudah tak boleh menghindar dari digital, maka harus dihadapi digital ini. Harus kita isi digital ini. Algoritma harus kita ambil sebaik-baiknya,” ungkapnya.

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads