Lewati ke konten utama
Senin, 12 Oktober 2026 / 1 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Cholil Nafis
Waketum MUI, KH M Cholil Nafis saat menutup Mudzakarah Ilmiah Harmonisasi Manhaj dan Otoritas Fatwa Nasional di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta, Kamis (6/8/2026). Foto: Latifahtul/ MUI Digital
Berita

Ingatkan Soal Kematian, KH Cholil Nafis Ajak Umat Perbanyak Amal Soleh

Ingatkan Soal Kematian, KH Cholil Nafis Ajak Umat Perbanyak Amal Soleh

/ 1 Jumadil Awal 1448 H 3 menit baca 127 dibaca

Depok, MUI Digital--Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis, mengingatkan umat Islam akan hakikat kehidupan dunia yang singkat serta kepastian datangnya kematian. Hal tersebut disampaikannya saat mengisi pengajian rutinan Sabtu Mujahadah yang mengkaji Kitab Mauidzotul Mu'minin di Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, dikutip dari laman resminya Senin,  (12/10/2026).

Dalam ceramahnya, Kiai Cholil menegaskan bahwa rata-rata umur umat Nabi Muhammad SAW berada pada kisaran 60 hingga 70 tahun. Oleh karena itu, bertambahnya usia dan tanda-tanda penuaan fisik seharusnya menjadi pengingat yang nyata bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju garis akhir kehidupan.

​"Sedikit sekali umat Rasulullah yang melewati umur 70 tahun. Jika ada yang mencapai usia 73 atau 80 tahun, itu adalah bonus dari Allah, bahkan tidak sedikit yang dipanggil sebelum berusia 60 tahun," ujar Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini. 

Rais Syuriah PBNU ini menuturkan, perubahan fisik seperti munculnya keriput dan kantung mata merupakan sunnatullah yang tidak perlu dilawan secara berlebihan melalui berbagai perawatan fisik demi tampak muda. Menurutnya, kepalsuan lahiriah tidak akan mampu mengubah kenyataan bahwa hakikat tubuh manusia kian menua dan pada akhirnya akan menyatu kembali dengan tanah.

Mengutip firman Allah SWT mengenai kepastian kematian dalam Qs Al Ankabut ayat 57,  Kiai Cholil menekankan bahwa ketika jasad hamba sudah tertimbun tanah, tidak ada hal lain yang tersisa dan bernilai selain bekal amal baik yang dikumpulkan selama hidup.

​"Di dunia ini kita seperti orang yang sedang menyeberang dari alam kandungan menuju alam akhirat. Dunia adalah mazra'atul âkhirah, tempat kita bercocok tanam. Panennya yang sesungguhnya bukanlah rezeki materi saat ini, melainkan setelah kematian tiba," jelasnya.

Lebih lanjut, Rais Syuriah PBNU ini menerangkan bahwa kebahagiaan sejati di akhirat ditentukan oleh diterimanya amal saleh di hadapan Allah SWT. Untuk mencapai derajat tersebut, syarat utamanya adalah menjaga kemurnian tauhid dengan tidak menyekutukan Allah serta mendasari setiap ibadah, dzikir, dan doa dengan rasa ikhlas semata-mata karena Allah.

Selain amal pribadi, Kiai Cholil juga menyoroti pentingnya menyiapkan tabungan akhirat melalui pendidikan anak-anak. Menurutnya, anak yang dibina di pesantren, rajin berzikir, dan menghafal Alquran akan menjadi sumber doa serta pengirim pahala yang terus mengalir bagi orang tuanya setelah meninggal dunia.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Cholil turut memaparkan pentingnya memelihara kesehatan jiwa (ghadzâ'ul qalb) dengan tiga hal utama, yaitu hikmah (kebijaksanaan dalam bertindak pantas pada waktu yang tepat), makrifat (mengenal kekuasaan Allah), serta hubbullâh (rasa cinta yang mendalam kepada Allah SWT).

​"Orang yang memiliki ketenangan jiwa dan kecintaan kepada Allah tidak akan diliputi kekhawatiran berlebih. Ketenangan itu lahir dari kesadaran bahwa segala sesuatu berada di bawah kekuasaan dan takdir Allah," kata Kiai Cholil.

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads