Lewati ke konten utama
Kamis, 24 September 2026 / 12 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Irjen Pol Muhammad Sabilul Alif
Ketua Pelaksana IGIC 2026, Irjen Pol Muhammad Sabilul Alif, saat menyampaikan keterangan resmi dalam konferensi pers yang digelar di Kompleks Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026). Foto: Sadam/ MUI Digital
Berita

IGIC 2026 akan Cetuskan 'Jakarta Understanding', Reorientasi Fungsi Masjid Dunia

IGIC 2026 akan Cetuskan 'Jakarta Understanding', Reorientasi Fungsi Masjid Dunia

/ 11 Rabiul Akhir 1448 H 3 menit baca 101 dibaca

Jakarta, MUI Digital— Perhelatan International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 25–28 September 2026 di Jakarta akan melahirkan kesepakatan bersejarah bertajuk Jakarta Understanding. 

Deklarasi ini digadang-gadang menjadi pijakan baru dunia Islam dalam melakukan reorientasi dan pemulihan fungsi masjid di era modern.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Pelaksana IGIC 2026, Irjen Pol Muhammad Sabilul Alif, saat menyampaikan keterangan resmi dalam konferensi pers yang digelar di Kompleks Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026).

Sabilul Alif menjelaskan bahwa melalui konsensus Jakarta Understanding, Indonesia secara resmi menawarkan gagasan strategis bertajuk "Masjid Harmoni" ke panggung internasional. 

Konsep ini bertujuan mendobrak pandangan sempit yang selama ini mereduksi peran masjid sebatas tempat ritual ibadah semata. 

Indonesia ingin mendorong negara-negara di dunia untuk menempatkan masjid sebagai pusat perekat sosial, ruang kemanusiaan, serta episentrum perdamaian global.

"Gagasan yang utama adalah bagaimana nanti menempatkan masjid-masjid yang ada di dunia menjadi pusat harmoni masyarakat, bukan hanya sebagai tempat ibadah," ujar Sabilul Alif.

Sabilul Alif menekankan bahwa visi ini berakar kuat dari rekam jejak sejarah peradaban Islam pada zaman Rasulullah SAW. 

Secara historis, masjid memegang peranan sentral yang sangat dinamis, mulai dari pusat ilmu pengetahuan, lembaga pendidikan, ruang pelayanan kemanusiaan, tempat penyelesaian masalah kemasyarakatan, hingga pusat diplomasi yang menerima berbagai delegasi asing serta mengatur roda pemerintahan.

Melalui Jakarta Understanding, lanjutnya, Indonesia berikhtiar mengembalikan peran historis tersebut sekaligus memperkayanya dengan perspektif baru yang relevan terhadap tantangan geopolitik global saat ini.

"Kita melihat dalam sejarah perkembangan dunia Islam, masjid hadir sebagai pusat peradaban dan kemanusiaan. Hari ini, melalui IGIC 2026, kita akan tambahkan satu perspektif baru yang sangat krusial: masjid sebagai pusat perdamaian dunia," kata perwira tinggi Polri tersebut.

Menariknya, Sabilul secara khusus menggarisbawahi komitmen Indonesia untuk tetap mengusung istilah lokal "Masjid" ketimbang menggunakan padanan kata dalam bahasa Inggris, 'Mosque', di forum-forum dunia. 

Penggunaan narasi khas Nusantara ini menjadi simbol diplomasi kebudayaan untuk memperkenalkan model harmoni Indonesia (unity in diversity) serta keberhasilan bangsa dalam merawat pluralisme dan Bhinneka Tunggal Ika.

Karakter Islam Indonesia yang inklusif dan moderat ini juga diperkuat oleh pandangan pakar internasional. Sabilul mengutip riset akademisi Boston University, Prof Robert Hefner, yang selama 40 tahun meneliti dinamika Islam dan demokrasi di Indonesia. 

Hefner menyimpulkan bahwa jika dunia ingin mempelajari bagaimana Islam moderat dan demokrasi dapat tumbuh berdampingan secara harmonis, maka Indonesia adalah rujukan utamanya.

Selain melahirkan deklarasi Jakarta Understanding, IGIC 2026 juga akan merumuskan roadmap strategis jangka panjang periode 2026–2030. 

Poin utama dalam peta jalan tersebut mencakup program peningkatan kapasitas (human resources) para imam serta penyelenggaraan program pertukaran imam antarnegara.

Langkah konkret ini menjadi bagian dari implementasi politik luar negeri bebas aktif sekaligus visi Presiden dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai negara berdaulat dan berpengaruh di panggung diplomasi internasional menuju Indonesia Emas 2045.

Melalui pengiriman imam-imam berwawasan moderat ke mancanegara, Indonesia optimistis mampu menularkan formula perdamaian dan kerukunan bagi masyarakat global.

BAGIKAN: