Lewati ke konten utama
Rabu, 23 September 2026 / 11 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Konferensi
Menteri Agama, Prof KH Nasaruddin Umar, dalam Konferensi Pers di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026). Foto: Sadam/ MUI Digital
Berita

Konferensi Grand Imam Internasional Digelar, Dorong Diplomasi Agama Redam Konflik Global

Konferensi Grand Imam Internasional Digelar, Dorong Diplomasi Agama Redam Konflik Global

/ 11 Rabiul Akhir 1448 H 3 menit baca 110 dibaca

Jakarta, MUI Digital— Menteri Agama (Menag) RI Prof KH Nasaruddin Umar menekankan pentingnya spiritual diplomacy atau diplomasi berbasis bahasa agama untuk meredam berbagai ketegangan dan konflik internasional yang kerap menemui jalan buntu. 

Pendekatan nurani ini menjadi salah satu agenda utama dalam perhelatan International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 25–28 September 2026 di Jakarta.

Dalam Konferensi Pers di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026), Menag menjelaskan bahwa pola diplomasi internasional yang berjalan selama ini cenderung terlalu kaku dan sekadar menggugurkan kewajiban administratif. 

Menurutnya, kegagalan penyelesaian berbagai konflik dunia sering kali disebabkan oleh pendekatan yang tidak menyentuh akar terdalam manusia.

"Kita tahu bahwa diplomasi yang kita kembangkan selama ini sangat formal, terlalu legal-formalistik, akhirnya juga mentok di mana-mana. Nah, kita mencoba untuk menggunakan pendekatan spiritual diplomacy. Kita sangat yakin bahwa dengan menggunakan bahasa agama ini, ada kesadaran untuk berdiplomasi secara nurani," ujar Menag. 

Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal ini, pesan agama memuat prinsip esensial bahwa kemanusiaan adalah satu (humanity is only one). 

Menag meyakini nilai-nilai dasar keagamaan mampu menembus sekat-sekat perbedaan etnis, warna kulit, jenis kelamin, hingga batas geografis suatu negara. 

Apabila para pemimpin agama menyentuh aspek substansial tersebut, maka dorongan perdamaian akan lebih efektif diterima oleh segenap pihak yang berselisih.

Isu kemanusiaan yang tak kunjung usai, khususnya penderitaan rakyat Palestina di Gaza, turut menjadi perhatian utama dalam konferensi pemuka agama Islam terbesar ini. 

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini mengonfirmasi bahwa Imam Besar Palestina dijadwalkan hadir secara langsung dan akan berbicara di depan jamaah serta delegasi dunia.

Dia menuturkan imam Besarnya Palestina akan hadir dalam kegiatan ini. Beliau adalah sahabat Menag yang selalu memberikan statement-statement mencerahkan dan dapat diterima oleh semua pihak, baik saat beliau berkunjung ke Amerika Serikat maupun ke negara lainnya. 

“Mereka juga minta waktu untuk berbicara dengan umat kita di masjid, dan sebagian delegasi luar negeri bahkan sudah mulai berdatangan," kata dia. 

Perhelatan IGIC 2026 ini dirancang secara inklusif. Hingga saat ini, tercatat perwakilan dari 39 negara dengan 47 delegasi telah mengonfirmasi kehadiran mereka.

Para peserta datang dari berbagai belahan dunia, mulai dari Arab Saudi, Mesir, kawasan Skandinavia, Eropa Timur, Amerika Serikat, Amerika Latin, Korea Selatan, Jepang, hingga negara-negara di Asia Tenggara.

Rangkaian acara akan dipusatkan di tiga lokasi utama, antara lain Masjid Istiqlal untuk pertemuan umum dan dialog spiritual, serta Hotel Grand Sahid Jaya untuk agenda sidang komisi dan penginapan peserta. 

Selain mengundang tokoh keagamaan lokal dari Ikatan Perhimpunan Imam Masjid Seluruh Indonesia (IPIM), konferensi ini juga melibatkan akademisi, pengamat perdamaian, serta tokoh-tokoh lintas agama (non-Muslim) pada sesi pembukaan dan gala dinner.

Selain membahas diplomasi perdamaian, IGIC 2026 akan menelurkan kesepakatan bersejarah bertajuk Jakarta Understanding.

Deklarasi ini bertujuan untuk merekomendasikan peran strategis masjid sebagai pusat peradaban, penguatan ekonomi umat, serta benteng utama penangkal radikalisme dan kekerasan.

Untuk memastikan keberlanjutan dari hasil forum ini, para peserta direncanakan akan membentuk wadah permanen berupa Grand Imam's World Council (Dewan Imam Besar Dunia). 

"Nanti kita akan bentuk strukturnya dan menunjuk presiden yang memimpin Grand Imam's World Council ini untuk periode tertentu,” ujar dia.  

Dia menambahkan, ada semacam persatuan imam-imam besar dunia yang akan menciptakan kebersamaan dan mengantisipasi persoalan global, termasuk memberikan panduan moral terhadap perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) agar tidak merusak peradaban manusia. 

BAGIKAN: