Hikmah Syawal, Ramadhan Bukan Latihan Sementara Melainkan Sepanjang Hayat
Dhea Oktaviana
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital— Ramadhan dan Idul Fitri belum ini dilalui segenap umat Islam. Namun apa sebenarnya esensi Ramadhan dan bagaimana menjaga ruh spiritualitas ini tetap terjaga di bulan-bulan berikutnya?
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, mengatakan Ramadhan bukan sekadar latihan sementara, tetapi pendidikan untuk menguasai diri sepanjang hayat. Imam Asy-Syafi’i berkata:
إِذَا لَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَحْبِسَ نَفْسَكَ، اسْتَوْلَتْ عَلَيْكَ شَهَوَاتُكَ
“Jika engkau tidak mampu menahan dirimu, maka hawa nafsumu akan menguasaimu.”
“Ungkapan ini menegaskan pentingnya pengendalian diri dalam kehidupan seorang muslim,” kata dia, kepada MUI Digital, di Jakarta, Rabu (25/3/2026).
Dia menjelaskan, nafsu (syahwat) pada dasarnya adalah bagian dari fitrah manusia, tetapi jika tidak dikendalikan, ia akan menguasai dan mengarahkan manusia pada hal-hal yang berlebihan, bahkan menyimpang.
Baca juga: Israel Larang Shalat Idul Fitri di Masjid Al-Aqsa, Ketua MUI: Umat Islam Harus Melawan
Kiai Cholil, begitu akrab disapa, mengatakan, kemampuan menahan diri (ḥabs an-nafs) adalah inti dari akhlak dan spiritualitas Islam. Dalam konteks Ramadhan, latihan puasa mengajarkan kita untuk mengendalikan keinginan yang paling dasar sekalipun, seperti makan dan minum.