Hikmah Syawal, Prof Sudarnoto: Takwa Berarti Harus Membela Kemanusiaan
Hikmah Syawal, Prof Sudarnoto: Takwa Berarti Harus Membela Kemanusiaan
Jakarta, MUI Digital — Dalam teks Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1447 H yang disampaikan Prof Dr Sudarnoto Abdul Hakim, MA, di Banjarnegara, Jawa Tengah, ditegaskan satu hal pokok bahwa Ramadhan tidak boleh berhenti pada ritual, tetapi harus melahirkan keberpihakan nyata pada kemanusiaan.
Prof Sudarnoto mengawali dengan pertanyaan mendasar terkait apa yang benar-benar diperoleh umat setelah sebulan berpuasa.
Ia menegaskan, ukuran keberhasilan Ramadhan adalah lahirnya takwa yang tampak dalam kehidupan sosial. Lebih bermakna daripada sekadar ibadah personal.
“Takwa tidak cukup
hanya dalam ibadah ritual, tetapi harus hadir dalam sikap hidup di tengah
masyarakat,” jelasnya di dalam khutbah.
Sebagai Ketua MUI Bidang Hublu dan Kerja Sama Internasional, Prof Dr Sudarnoto Abdul Hakim menekankan bahwa takwa menuntut keberanian moral.
Ia juga mengingatkan
bahwa kemungkaran tidak hanya berupa dosa individu. Hal ini juga menyangkut
kezaliman struktural seperti penindasan dan ketidakadilan.
Dalam khutbahnya, ia
secara tegas menyoroti krisis kemanusiaan global, khususnya di Palestina dan
Gaza. Ia menyebut penderitaan yang terjadi sebagai bentuk kezaliman sistematis
yang tidak boleh diabaikan oleh umat Islam.
“Seorang mukmin tidak
boleh bersikap acuh tak acuh,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia
menjelaskan bahwa tauhid tidak hanya soal keyakinan teologis, tetapi juga terkait
prinsip pembebasan dari segala bentuk penindasan.
Karena itu, menurutnya, iman harus mendorong umat Islam untuk aktif membela keadilan dan menghadirkan solusi.
Ia juga menyinggung
pentingnya semangat ta’awun atau solidaritas sosial. Menurutnya, Ramadhan
seharusnya melatih empati dan melahirkan masyarakat yang lebih peduli dan
beradab.
Di akhir khutbahnya, Ketua MUI Bidang Hublu dan Kerja Sama Internasional tersebut mengajak umat Islam untuk tidak menjadi penonton atas berbagai krisis dunia, melainkan tampil sebagai bagian dari solusi.
Hal itu ditegaskan karena takwa sejati menuntut keberanian berpihak pada kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan.