Rahasia Pesantren Tahfiz DaQu Menjaga Kualitas Para Penghafal Alquran
Sadam Al Ghifari
Penulis
Admin
Editor
Tangerang, MUI Digital— Pondok Pesantren Tahfiz Daarul Qur’an kembali membuktikan komitmennya dalam menjaga mutu dan kualitas para penjaga kalamullah.
Dalam gelaran Wisuda Tahfiz Nasional 2026 yang diikuti oleh 482 santri, sistem kelulusan yang diterapkan terbilang sangat ketat, terutama bagi santri yang menargetkan kelulusan kategori 30 juz.
Pengasuh Pondok Pesantren Tahfiz Daarul Qur’an, KH Ahmad Jamil, mengungkapkan bahwa predikat kelulusan tidak diberikan secara cuma-cuma.
Khusus untuk santri kategori 30 juz yang berasal dari klaster non-pesantren, seperti Rumah Tahfiz, santri diwajibkan memenuhi standar mutqin (hafal di luar kepala) dengan toleransi kesalahan yang sangat minim.
Baca juga: Khatmul Quran dan Ijazah Sanad di DaQu: Teknologi Membantu, Tapi Guru Tetap tak Tergantikan
"Yang 30 juz, untuk dari rumah-rumah tahfiz, pokoknya non-pesantren kita, itu harus mudkin 30 juz. Batas maksimum salahnya hanya tiga kali. Baik itu (kesalahan) lima harakat atau lima perubahan kata," kata Kiai Jamil di Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an, Kota Tangerang, Sabtu (6/6/2026) malam.
Tingginya standar kualifikasi ini juga berlaku pada pencapaian tertinggi di lingkungan Daarul Qur'an, yaitu Kelas Sanad. Kiai Jamil meluruskan persepsi umum bahwa santri yang sudah mengkhatamkan hafalan 30 juz bisa otomatis mendapatkan sanad.
Para santri harus melewati proses khusus dan penyaringan ulang yang sangat kompetitif, antara lain re-test komprehensif, ujian ketahanan memori, dan setoran bil ghaib.
Kiai Jamil menjelaskan bahwa proses ujian yang ketat ini bukan bertujuan untuk menyulitkan, melainkan sebagai bentuk apresiasi dan pemacu adrenalin spiritual agar para santri tidak cepat berpuas diri.
Baca juga: Khatmul Quran dan Ijazah Sanad di DaQu: Teknologi Membantu, Tapi Guru Tetap tak Tergantikan
Wisuda Tahfiz Nasional 2026 ini meluluskan ratusan peserta secara variatif dari berbagai tingkatan, mulai dari hafalan 3 juz, 5 juz, 10 juz, 15 juz, hingga lompat ke kategori 30 juz.
Peserta tersebar dari Daqu Tangerang (Putra/Putri), cabang-cabang daerah (Jambi, Kampung, Bandung, Semarang, Banyuwangi, Cariu Bogor), jejaring Asosiasi Rumah Tahfizh Indonesia (RTI), hingga kelulusan perdana dari program berbasis digital, Qur'an Call.
Kiai Jamil mengingatkan tanggung jawab moral besar yang dipikul oleh para wisudawan sebagai the chosen one (orang-orang pilihan Allah).
Kiai Jamil menekankan pentingnya menjaga hafalan yang dianalogikan oleh sahabat Nabi, Abdullah bin Mas'ud, lebih mudah lepas daripada unta yang copot ikatan talinya.
"Allah sudah titipkan hafalan, dijaga dengan sering-sering muraja'ah. Walaupun mungkin nanti sudah tidak lagi sekolah di Daqu karena sudah selesai masa studinya, tetap cari guru di luar untuk sima’an, atau bisa juga memanfaatkan setoran lewat telepon di program Qur'an Call," kata dia.