Membumikan Ayat-Ayat Ekonomi dengan Realitas Kontemporer
Oleh: Abdul Wasik
Peminat Kajian Ekonomi Syariah dan Kepala Sekretariat DSN MUI
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital— Buku Qur'anomic Ekonomi Qur'ani: Tafsir Tematik Kontemporer Ayat-Ayat Ekonomi hadir sebagai ikhtiar intelektual dan spiritual penulis untuk menggali kembali pesan-pesan Ilahi dalam Alquran sebagai panduan dalam membangun sistem ekonomi yang adil, manusiawi, dan berkelanjutan.
Dasar yang melandasi karya ini adalah keyakinan bahwa Alquran bukan hanya kitab petunjuk ibadah ritual, melainkan pedoman komprehensif bagi kehidupan manusia—termasuk dalam aspek pengelolaan sumber daya, distribusi kekayaan, keuangan publik, transaksi bisnis, serta tata kelola pembangunan.
Gagasan penulisan buku ini berangkat dari kegelisahan akademik dan keprihatinan moral terhadap kondisi ekonomi global kontemporer.
Di tengah kemajuan teknologi, kapitalisme digital, dan integrasi pasar global, dunia justru dihadapkan pada paradoks besar: ketimpangan pendapatan, disparitas kesempatan dan kekuatan ekonomi yang semakin lebar, kerusakan lingkungan yang mengancam keberlanjutan hidup, serta dehumanisasi relasi ekonomi yang mengubah manusia menjadi sekadar objek ekonomi.
Baca juga: Arsitektur Baru Ekonomi Syariah: Industri Keuangan, Teknologi, dan Daya Saing
Di sisi lain, sistem ekonomi sosialisme juga menunjukkan keterbatasannya dalam mendorong kreativitas, efisiensi, dan kemerdekaan manusia.
Dalam situasi tersebut, penulis meyakini perlunya paradigma alternatif yang berakar pada nilai-nilai wahyu, yakni paradigma yang memadukan spiritualitas, keadilan sosial, keseimbangan ekologis, dan rasionalitas ekonomi.
Islam memiliki tradisi pemikiran ekonomi yang panjang dan kaya. Institusi baitulmal, sistem zakat dan wakaf, prinsip larangan riba, risk-sharing, serta model perdagangan lintas batas dan kewirausahaan yang berkeadilan, telah terbukti menopang kejayaan peradaban selama berabad-abad.
Namun, warisan agung itu belum sepenuhnya tertransformasi menjadi sistem ekonomi modern yang utuh dan aplikatif. Dari sinilah buku ini memulai langkah: menghadirkan sebuah jembatan konseptual yang menghubungkan nilai wahyu dengan realitas kontemporer.
Baca juga: Senyum Damiri Tetap Lebar, Meski Kehilangan Jempol Kaki saat Jalani Haji di Tanah Suci
Buku ini berusaha mengungkap dan mengelaborasikan nilai-nilai dasar ekonomi Qurani melalui pendekatan tafsir tematik (mawdhū‘ī), yang dipadukan dengan kajian historis peradaban Islam, literatur ulama klasik dan kontemporer, serta analisis teori ekonomi modern.
Secara garis besar, buku ini merumuskan paradigma sistem ekonomi Qurani, yakni sebuah model ekonomi holistik yang menawarkan alternatif nyata dan lebih kokoh dibandingkan sistem kapitalisme, sosialisme, maupun ekonomi modern sekuler.
Model ini mengintegrasikan dimensi material, sosial, dan spiritual ke dalam setiap aspek kehidupan ekonomi untuk mencapai kesejahteraan di dunia dan akhirat (falāḥ).
Buku ini terdiri dari 25 topik yang menarik. Setiap topik ditulis secara sistematis, dimulai dari landasan qurani, tafsir klasik, pemikiran ekonomi ulama klasik, teori ekonomi modern, analisis kritis, sistesin qurani dan Kesimpulan.
Melalui resensi ini, lima topik di antaranya berisi tentang:
1. Keadilan Distribusi dan Keuangan Sosial (ZISWAF)
Distribusi kekayaan dilandasi kesadaran spiritual bahwa harta adalah titipan Allah yang harus membawa maslahat bersama, bukan hanya beredar di kalangan tertentu.
Melalui instrumen Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF), Islam menghadirkan ekosistem perlindungan bagi kelompok rentan yang lebih manusiawi, kokoh, dan berdimensi ibadah dibandingkan sistem welfare state birokratis modern
Baca juga: 'Aku Cinta Indonesia' Kesan Petugas Bandara Jeddah Asal Pakistan Atas Kedermawanan Jamaah Haji
2. Sistem Keuangan Berkeadilan (Bebas Riba)
Riba ditolak secara mutlak karena merupakan sumber ketidakadilan, perusak solidaritas sosial, dan pemicu krisis dalam ekonomi modern. Sebagai gantinya, Islam menawarkan sistem berbasis bagi hasil yang adil, sehat, dan stabil.
Pelarangan riba ini bukan dogma statis, melainkan prinsip moral dinamis untuk mengarahkan ekonomi pada keadilan distributif yang bisa diintegrasikan melalui keuangan syariah dan etis
3. Etika Bisnis dan Tata Kelola (Amanah)
Ekonomi Qurani menempatkan amanah (kepercayaan) dan integritas sebagai roh dari pasar dan pemerintahan. Standar transaksi tidak hanya bertumpu pada aspek legal, tetapi harus halal, adil, dan thayyib (baik). Hilangnya amanah dipandang sebagai awal hancurnya peradaban. Oleh karena itu, tata kelola diikat oleh tanggung jawab spiritual yang jauh melampaui regulasi teknis semata.
4. Pembangunan Berkelanjutan dan Keseimbangan Ekologis
Pembangunan (isti‘mār) dipandang sebagai amanah untuk memakmurkan bumi tanpa merusaknya. Pemeliharaan lingkungan hidup bukan sekadar isu modern, melainkan bagian dari ibadah dan tujuan syariat (maqāṣid syariah). Islam menjamin kesejahteraan generasi saat ini tanpa harus mengorbankan hak dan kelestarian ekosistem bagi generasi mendatang
5. Gaya Hidup, Konsumsi, dan Produksi Islami
Islam mendorong keseimbangan antara kenikmatan dunia dan tanggung jawab akhirat. Konsumsi tidak dilarang selama halal, thayyib, dan tidak berlebihan (israf).
Di sisi lain, produksi didorong untuk menciptakan manfaat sosial dan keberkahan, bukan semata-mata untuk menumpuk keuntungan materi.
Selain topik-topiknya yang menarik, gaya penulisan dengan bahasa ringan memudahkan pembaca untuk memahaminya. Selain itu, buku ini dilengkapi dengan glosarium istilah penting dan tabel-tabel yang terkait dengan topik pembahasan. Semalat membaca.
Judul Buku : Qur'anomic Ekonomi Qur'ani: Tafsir Tematik Kontemporer Ayat-Ayat Ekonomi
Penulis : Dr Setiawan Budi Utomo
Penerbit : Rajawali Pers
Halaman : xvi + 224
Edisi : Januari 2026
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.