Lewati ke konten utama
Senin, 29 Juni 2026 / 13 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Retorika Alquran Menolak Tuduhan Gila

5 menit baca 834 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Retorika Alquran Menolak Tuduhan Gila
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Puncak dari konfrontasi intelektual dan spiritual antara wahyu dan penolakan kaum musyrikin terangkum secara tajam dalam ayat ke-6: “Biayyikumul-maftun” (Siapa di antara kamu yang terfitnah/gila). Sebagian besar mufassir mengartikan “maftun” dengan pengertian “majnun alias gila.

Apa yang terkandung dalam ayat ini bukan sekadar pertanyaan retoris, melainkan sebuah instrumen pendidikan bagi umat Islam untuk memahami hakikat stabilitas iman di tengah badai fitnah.

Dalam perspektif tafsir, makna “al-maftun” adalah orang yang terperdaya sehingga menyimpang dan tersesat dari kebenaran. Sesungguhnya huruf “ba” dalam firman-Nya (ayyukum) untuk menunjukkan makna mengerjakan. Merujuk pada sosok yang tertimpa fitnah sehingga kehilangan arah dan akal sehatnya.

Melalui ayat ini, Allah melakukan pembalikkan logika terhadap kaum kafir Quraisy. Jika mereka menuduh Nabi Muhammad SAW gila karena membawa risalah yang asing atau berbeda dari tradisi nenek moyang, maka Allah menegaskan bahwa sebenarnya merekalah yang sedang mengalami “kegilaan” yang hakiki.

Mereka menuduh Nabi Muhammad SAW gila karena kedengkian tidak mau mengikuti ajaran Islam. Padahal mereka mengetahui Muhammad sejak kecil sebagaimana mereka mengetahui anak-anak kandungnya. Mereka mengakui kebaikan akhlak, kejujuran Muhammad, dan berbagai hal terkait Muhammad. Tapi karena yang dipilih menjadi nabi dan rasul adalah Muhammad, maka mereka menuduhnya gila.

Nabi Muhammad dianggap gila karena tidak mau mengikuti ajaran nenek moyang mereka atau berlutut menyembah Tuhan berhala-berhalanya. Bahkan membawa ajaran baru dan mendekonstruksi sesembahan mereka, sehingga mereka marah dan menentangnya dengan keras.

Orang-orang kafir menghujani Nabi Muhammad dengan tatapan-tatapan sinis, menertawakan dengan hati penuh kebencian, mengejeknya dengan penuh kesombongan dan menuduhnya gila. Maka di sinilah Allah menurunkan surat Al-Qalam, ditantanglah dalam makna tersirat ayat keenamnya, bahwa sebenarnya merekalah yang gila.

Orang-orang yang tidak mampu menangkap cahaya kebenaran Alquran yang dibawa Nabi Muhammad SAW hidupnya kacau hingga gila. Mereka tertutup hati dan pendengarannya, sehingga teguh dalam kesesatan nenek moyangnya dan menjadi gila (dalam pikiran dan pola hidupnya) karena tidak bisa menerima kebenaran.

Allah menegaskan juga di surat At-Takwir ayat 22 tentang keutamaan Nabi Muhammad SAW yang diberi Alquran seraya berfirman, yang artinya; “Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila”.

Rekonstruksi peradaban Islam hanya akan terwujud jika Alquran diletakkan sebagai landasan kehidupan, Rasulullah sebagai  keteladanan, dan dakwah digelorakan tanpa henti melalui sinergi aksi nyata, goresan pena, serta retorika lisan yang fasih lagi bijaksana. Maka dengan kesadaran ini semua, akan terbangunlah tatanan kehidupan yang beradab.

Kegilaan Jahiliyah

Inilah salah satu bentuk kegilaan di zaman jahiliyah di antara banyak kegilaan yang lain karena belum tersentuh oleh nilai-nilai Alquran.

Suatu hari, Umar bin Khattab duduk menyendiri. Parasnya yang tegas tampak bergantian menunjukkan ekspresi yang aneh. Sesaat ia tertawa kecil hingga bahunya terguncang, namun tak lama kemudian, air mata deras membasahi janggutnya.

Seorang sahabat yang heran kemudian bertanya, “Wahai Umar, apa yang membuatmu tertawa sekaligus menangis dalam satu waktu?”

Sambil menghela napas panjang, sang singa padang pasir itu menjawab dengan suara parau, “Aku tertawa saat mengenang betapa bodohnya akalku di masa jahiliyah. Pernah suatu ketika dalam perjalanan, rasa lapar yang hebat melilit perutku, sementara perbekalan telah habis. Aku menatap satu-satunya ‘tuhan’ yang kubawa—sebuah berhala yang terbuat dari adonan gandum.”

“Dengan rasa sungkan yang konyol, aku berbisik, ‘Wahai tuhan, izinkan aku memakan telingamu.’ Karena lapar tak kunjung hilang, aku kembali meminta izin untuk melahap tangan, kaki, hingga seluruh tubuh tuhanku sendiri sampai ludes. Aku tertawa melihat betapa gilanya saat itu; menyembah sesuatu yang berakhir di dalam perutku sendiri.”

Seketika, wajah Umar berubah kelam. Suaranya bergetar saat melanjutkan kisahnya.

“Namun, aku menangis karena dosa yang takkan pernah bisa kuhapus. Dahulu, aku memiliki seorang anak yang kusangka laki-laki karena ibunya selalu mendandaninya dengan pakaian jantan. Hingga suatu hari, aku menyadari bahwa ia adalah seorang anak perempuan. Kematian akan aib memaafkan hatiku, mengaktifkan rasa kemanusiaanku.”

“Aku membawa ke padang pasir yang sunyi dan mulai menggali lubang. Dengan polosnya, jemari kecilnya ikut membersihkan debu yang menempel di janggutku, lalu ia bertanya, ‘Untuk apa lubang ini, Abi?’ Aku berbohong dan menjawab, ‘Ini tempat bermainmu.’”

“Begitu lubang itu cukup di dalam, dengan penuh semangat aku mendorongnya masuk dan menimbunnya hidup-hidup. Aku masih ingat bagaimana suaranya perlahan menghilang ditelan bumi.”

“Saat itu, yang terpikirkan hanyalah menonton semu, namun sekarang... setiap kali aku memikirkannya, suara tangis pilu anakku kembali terngiang, menyayat hati yang kini telah terpenuhi hidayah.”

Solusi Anti Gila

Pada akhirnya, Alquran bukan sekadar barisan teks suci untuk dibaca, melainkan petunjuk keselamatan agar manusia tidak kehilangan kewarasan di tengah dunia yang makin gila.

Menjadikan Alquran sebagai petunjuk (hudan) hidup adalah cara paling masuk akal untuk menghindarkan diri dari disorientasi. Agar tak lagi mengejar bayang-bayang materi hingga lupa jalan pulang ke pelukan keluarga dan ridha Allah SWT.

Ketika ego dan kesombongan berhasil dikikis lewat semangat iqra’ (membaca), saat itulah ayat-ayat-Nya akan mengalir masuk, menstabilkan detak jantung, dan menjernihkan pola pikir yang sempat semrawut.

Percayalah, hanya dengan kembali kepada petunjuk Alquran, seseorang akan menemukan ketenangan yang nyata. Ini adalah sebuah jaminan akan keselamatan seseorang dari kegilaan zaman. Dengan petunjuk Alquran ia akan tetap tegak berdiri sebagai manusia yang bermartabat hingga akhir perjalanan nanti.

Alquran hadir untuk mengembalikan pada titik fitrah. Surat Al-‘Alaq sudah memberikan pencerahan, bahwa dengan membaca, seseorang bisa mengetahui Tuhan yang benar untuk disembah, mengetahui hakikat asal usul manusia yang sama, dan menyadari bahwa Allah menjadi sumber pengetahuan dengan qalam dan pengajaran-Nya, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya.

Orang-orang kafir Quraisy melakukan penentangan dan penolakan yang luar biasa terhadap diturunkannya surat Al-‘Alaq. Mereka menuduh gila, dukun, pendusta dan hal negatif lainnya terhadap Muhammad, sosok yang mendapatkan wahyu Tuhan, yang diangkat menjadi nabi dan rasul, dan diturunkan atasnya surat Al-‘Alaq.

Allah kemudian memberikan pembelaan dan penegasan bahwa Nabi Muhammad SAW dan orang-orang yang berada dalam petunjuk nikmat Alquran tidak akan gila, tapi justru mengantarkannya untuk berakhlak mulia, mendapatkan pahala yang tidak putus, dan semakin yakin dengan janji-janji Allah.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.