Sekjen MUI Dorong Kesadaran Kolektif Jaga Kerukunan
Sadam Al Ghifari
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital— Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan Sekjen MUI Buya Amirsyah Tambunan mendorong adanya kesadaran kolektif untuk menjaga kerukunan.
Menurutnya,
kesadaran kolektif sangat penting untuk melahirkan tanggung jawab secara
keseluruhan untuk menjaga kerukunan. Buya Amirsyah juga mengajak masyarakat
untuk memperkuat solidaritas.
"Kemudian
mempererat persatuan bangsa dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan universal.
Jadikan persaudaraan sebagai pilar menjaga harmoni demokrasi dan meraih
kesejahteraan," kata Buya Amirsyah membuka Sosialisasi Moderasi Beragama
yang digelar Komisi Antar Umat Beragama (KAUB) MUI bersama Kementerian Agama RI
di Hotel Shalva, Jakarta Pusat, Rabu (4/3/2026).
Buya
Amirsyah menipis adanya anggapan umat Islam sering dituding dan disudutkan oleh
berbagai pihak sebagai pihak intoleran dan dinarasikan kerap melakukan
perlakuan diskriminatif terhadap non Muslim di berbagai daerah.
Padahal faktanya, umat Islam di berbagai daerah yang mayoritas non Muslim juga sering mengalami perlakuan diskriminatif dan intoleran.
Baca juga: Ketua MUI Bidang KAUB: Indeks Kerukunan Semakin Membaik, tapi Tetap Harus Dijaga
"Bedanya,
kasus kerukunan yang terjadi pada non Muslim lebih cepat dan masif terekspos di
media, namun tidak dengan kasus kerukunan yang menimpa pada umat Islam yang
bahkan sering tak terekspos," kata Buya Amirsyah.
Buya
Amirsyah mengungkapkan, beberapa kasus telah terselesaikan melalui pendekatan
dialog lintas agama dan intervensi pemerintah daerah.
"Namun, masih banyak yang belum selesai dan memerlukan keberpihakan nyata terhadap keadilan dan konstitusi," ujarnya.
Baca juga: Orientasi Komisi KAUB MUI, Sosialisasikan Peta Dasar Kerukunan ke Pengurus
Sementara
itu, Kepala Pusat Kerukunan Antar Umat Beragama Kementerian Agama RI Muhammad
Adib Abdushomad mendorong adanya ruang kebersamaan antarumat beragama.
Menurutnya, ruang kebersamaan ini penting
untuk menekan kasus intoleransi di Indonesia.
Adib
menilai, ruang kebersamaan dengan acara non formal, salah satunya, seperti ngopi
bareng dengan tokoh antarumat beragama cukup efektif untuk menekan kasus
intoleransi.
Adib
menjelaskan, apabila tidak ada ruang kebersamaan di antara tokoh antarumat
beragama bisa saling menimbulkan kecurigaan. Selain itu, Kemenag akan melakukan
program ruang bersih rumah ibadah.
"Kita
akan ada ikhtiar, nanti ada rumah ibadah tanggap bencana yang menjadi titik
kumpul antarumat beragama ketika terjadi bencana di rumah ibadah,"
jelasnya.
Selain itu, Kemenag juga mengadakan kemah pemuda lintas agama sebagai ruang kebersamaan antarumat beragama. Adib menegaskan, kebersamaan antarumat beragama tidak menyangkut akidah. Sebab, akidah antaragama tidak bisa dikompromikan.
Baca juga: Di Orientasi Komisi KAUB MUI, Kemenag Dorong Ruang Kebersamaan Antarumat Beragama
Dia
menegaskan, program kerukunan antar umat beragama merupakan investasi yang
sangat mahal dan penting demi mencegah perselisihan antar umat beragama.
Sementara
itu, Ketua MUI Bidang KAUB, KH Moqsith Ghazali menyebut pencerahan mengenai
moderasi secara kognitif bisa menekan kasus intoleransi di Indonesia.
Ulama yang
akrab disapa Kiai Moqsith menjelaskan, moderasi secara sederhana bisa menjadi
dua jenis kategori. Pertama, moderasi seringkali dimudahkan narasi bukan ini
dan bukan itu.
Misalnya,
Indonesia bukan negara agama, tetapi juga bukan negara sekuler, melainkan
negara berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa.
"Itu
bagian dari jenis moderasi. Kedua, Moderasi itu juga bukan hanya ini, melainkan
juga itu. Maka Islam bukan hanya bicara mengenai duniawi, tapi juga ukhrawi,"
kata Kiai Moqsith.
Katib
Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini menyatakan, pemahaman itu
secara kognitif bisa menekan secara signifikan terhadap persoalan intoleransi
di Indonesia yang masih cukup tinggi.
"Nah
perspektif ini bisa berubah seiring waktu dengan bertambahnya pengetahuan,
pencerahan dari banyak pihak. Maka berbagai macam kecenderungan yang
menyebabkan terjadinya intoleransi itu bisa diminimalkan," tegasnya.
Meski
begitu, Kiai Moqsith mengungkapkan, setiap tahun indeks kerukunan di Indonesia
semakin membaik. Namun, Kiai Moqsith menegaskan, MUI melalui KAUB bisa menjaga
jalan moderasi agar tidak ekstrem.