Lewati ke konten utama
Senin, 5 Oktober 2026 / 23 Rabiul Akhir 1448 H
Jadwal memuat...
Sampaikan Duka Cita Mendalam, Prof Niam Kenang Nyai Mahcfudhoh: Pejuang Umat yang tak Kenal Lelah
Foto: MUI Digital
Berita

Sampaikan Duka Cita Mendalam, Prof Niam Kenang Nyai Mahcfudhoh: Pejuang Umat yang tak Kenal Lelah

Sampaikan Duka Cita Mendalam, Prof Niam Kenang Nyai Mahcfudhoh: Pejuang Umat yang tak Kenal Lelah

/ 23 Rabiul Akhir 1448 H 4 menit baca 326 dibaca

Jakarta, MUI Digital — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas berpulangnya sosok ulama perempuan, Ibu Nyai Hj Mahcfudhoh Aly Ubaid. Putri dari tokoh bangsa sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Wahab Chasbullah, tersebut meninggal dunia pada Ahad (4/10/2026) malam di Jakarta.

Guru Besar Bidang Ilmu Fikih UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengenang almarhumah bukan hanya sekadar sebagai putri dari pendiri NU, melainkan sebagai seorang pejuang gigih yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kepentingan masyarakat luas.

​“Kami berduka atas wafatnya Bu Nyai Mahcfudhoh. Beliau dikenal sebagai sosok pejuang yang tak kenal lelah dalam berkhidmah,” ujar Prof Niam kepada MUI Digital.

Prof Niam juga mengenang kedekatan serta konsistensi almarhumah yang terus aktif berkhidmah dalam jam’iyyah NU hingga akhir hayatnya. Secara khusus, Prof Niam mengungkapkan kenangan berharga saat berkesempatan bersilaturahim langsung dengan almarhumah.


​“Saat Muktamar NU di Tambakberas, saya berkesempatan sowan ke kediaman beliau. Saya memperoleh wejangan khusus dari beliau, baik sebelum muktamar maupun usai pelaksanaan muktamar,” kenang Prof Niam.

Menurut Prof Niam, semangat pengabdian dan dedikasi yang ditunjukkan oleh almarhumah Nyai Mahcfudhoh sepanjang hayatnya memberikan teladan yang amat berharga bagi seluruh elemen masyarakat, khususnya bagi kalangan Nahdliyin dan kaum perempuan di Indonesia.

Prof Niam menilai, Nyai Mahcfudhoh berhasil melanjutkan estafet perjuangan sang ayah dalam menjaga, membina, dan memperkuat benteng moral serta keagamaan di tengah masyarakat.

Lebih lanjut, Prof Niam menyoroti kepedulian Nyai Mahcfudhoh yang amat besar terhadap keberlanjutan regenerasi umat. Menurutnya, Nyai Mahcfudhoh memiliki ruang perhatian khusus dalam memberikan bimbingan, arahan, serta motivasi kepada generasi muda agar siap melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa dan umat di masa depan.

​“Beliau sangat aktif membimbing anak-anak muda,” tambah Prof Niam, menekankan betapa pentingnya peran almarhumah dalam membentuk karakter dan mentalitas anak muda melalui jalur dakwah serta pendidikan pesantren.

Atas wafatnya pilar penting pergerakan perempuan Nahdliyin dan tokoh penggerak Pimpinan Pusat Muslimat NU tersebut, Prof Niam mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama memanjatkan doa terbaik bagi almarhumah.

Prof Niam berdoa agar seluruh khidmah dan amal kebaikan yang telah diukir almarhumah semasa hidupnya mendapat ganjaran berlipat ganda di sisi Allah SWT.

​“Mari kita doakan agar almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, diampuni segala dosanya, dan teladan perjuangannya yang tak kenal lelah ini dapat terus kita lanjutkan bersama,” tutur Prof Niam.

Sebelumnya, kabar wafatnya ulama perempuan dan tokoh penggerak Muslimat NU tersebut meluas melalui pesan siaran (broadcast) yang beredar di kalangan keluarga besar NU dan alumni Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

​“Innalillahi wainna ilaihi roojiun. Allahumaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fuanha. Telah berpulang ke Rahmatullah dengan tenang Ibu Nyai Hj. Mahcfudhoh Aly Ubaid binti KH. Abdul Wahab Chasbullah pada malam ini, Ahad, 4 Oktober 2026 di Jakarta,” tulis pesan duka yang beredar.

Kabar ini pun telah dikonfirmasi oleh MUI Digital kepada pihak keluarga Ibu Nyai Mahcfudhoh yang juga Majelis Ahli Komisi Infokomdigi MUI, Ubaidillah Sadewa.

​“Waalaikum salam mas, iya, tadi jam 10-an malam beliau (Nyai Mahcfudhoh) sudah meninggal dunia,” kata Ubaidillah Sadewa saat dikonfirmasi.

Ungkapan belasungkawa dan doa terus mengalir atas wafatnya almarhumah Ibu Nyai Machfudhoh agar diampuni segala khilafnya, diterima seluruh amal kebajikan yang telah dipersembahkan sepanjang hayat, serta mendapat tempat terbaik di sisi Allah.

Di tengah duka yang mendalam, keluarga besar yang ditinggalkan juga didoakan agar senantiasa dianugerahi ketabahan, kesabaran, dan kekuatan dalam menerima ketetapan-Nya.

Kepergian Ibu Nyai Hj Mahcfudhoh bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan orang-orang terdekat, tetapi juga kehilangan sosok yang telah memberikan keteladanan melalui pengabdian panjang kepada umat.

Beliau dikenal sebagai pencerah sekaligus salah satu pilar penting dalam perjalanan pergerakan perempuan Nahdliyin. Keteladanan itu tercermin dari kesetiaannya meneruskan perjuangan sang ayah dalam membina umat, mengasuh pesantren, serta merawat tradisi keilmuan dan pengabdian di tengah masyarakat.

Dedikasi Ibu Nyai Hj Mahcfudhoh juga terpatri dalam kiprahnya di jajaran kepengurusan Pimpinan Pusat Muslimat NU dan PBNU.

Bagi generasi yang datang setelahnya, perjalanan hidup Ibu Nyai Hj. Mahcfudhoh merupakan warisan keteladanan tentang bagaimana ilmu, pengabdian, dan perjuangan organisasi dijalankan dengan penuh keikhlasan.

Jejak perjuangan tersebut menjadi bagian penting yang akan terus dikenang dan menjadi inspirasi bagi perempuan Nahdliyin dalam melanjutkan khidmah kepada agama, bangsa, dan negara.

BAGIKAN: