Pengikisan Perlahan Proyek Israel, Jurang Menuju Keruntuhan Negara Zionis?
A Fahrur Rozi
Penulis
Admin
Editor
Teheran, MUI Digital – Setelah lama dilindungi oleh citra sebagai negara yang tak terkalahkan, Israel kini menghadapi akumulasi krisis internal yang semakin membebani fondasinya.
Sebuah opini berjudul The Slow Unmaking of The Israeli Project, yang dilansir Mehr News, dikutip Ahad (31/5/2026) menyebutkan para analis kini semakin sering berbicara bukan tentang keruntuhan yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan tentang proses pengikisan struktural yang berlangsung perlahan tanpa solusi yang jelas.
Dalam satu dekade terakhir, isu mengenai kemungkinan runtuhnya Israel telah menjadi salah satu topik yang paling banyak dibahas di media internasional.
Wacana ini mengemuka setelah pernyataan tegas dan visioner dari Pemimpin Besar Revolusi Islam yang telah wafat, yang menyatakan bahwa Israel akan lenyap dalam kurun waktu 25 tahun.
Melanjutkan garis pandangan tersebut, Ayatollah Sayyed Mojtaba Hosseini Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam, dalam pesannya pada musim haji menegaskan:
"Rezim yang rapuh dan tumor kanker Zionisme kini mendekati tahap akhir dari keberadaannya yang terkutuk. Dengan izin Allah, sebagaimana pernyataan tegas dan visioner yang disampaikan sepuluh tahun lalu oleh pemimpin agung yang telah syahid—semoga Allah menyucikan ruh sucinya—rezim ini tidak akan mampu bertahan hingga 25 tahun sejak pernyataan tersebut disampaikan, insya Allah."
Dalam beberapa tahun terakhir, perdebatan mengenai masa depan rezim Zionis tidak lagi terbatas pada analisis politik semata. Isu ini telah menjadi tema utama dalam literatur strategis kawasan, bahkan juga dibahas di sejumlah pusat kajian Barat.
Dalam konteks ini, perhatian yang semakin besar tidak lagi hanya tertuju pada ancaman eksternal yang dihadapi Israel, melainkan pada berbagai krisis internal yang secara bertahap menggerus fondasi keamanan, sosial, dan politiknya.
Perkembangan dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah Operasi 7 Oktober, menjadi titik balik dalam persepsi publik terhadap struktur keamanan Israel.
Baca juga: Israel Lakukan Perluasan Jajahan Wilayah Gaza Menuju 70 Persen, Apa Risikonya?
Citra yang selama puluhan tahun dibangun sebagai kekuatan keamanan yang solid dan memiliki daya tangkal tinggi mulai terkikis.
Untuk pertama kalinya, banyak pemukim Israel menyadari bahwa sistem keamanan dan intelijen yang selama ini dipromosikan sebagai sangat kuat ternyata tidak sepenuhnya mampu mencegah infiltrasi maupun serangan mendadak.
Perubahan persepsi ini bukan sekadar peristiwa militer, melainkan pukulan psikologis terhadap salah satu pilar utama legitimasi keamanan rezim tersebut.
Seiring berjalannya waktu, perang berkepanjangan dan mahal di Gaza juga gagal mencapai tujuan-tujuan yang diumumkan Tel Aviv.
Baca juga: Pengakuan Eks Tentara Israel Bongkar Perilaku Keji Mereka di Gaza
Meskipun operasi militer dilakukan dalam skala besar dengan biaya manusia dan ekonomi yang sangat tinggi, struktur perlawanan tetap bertahan dan terus menjadi aktor penting di lapangan.
Kenyataan ini mendorong sebagian masyarakat Israel, termasuk kalangan elite politik dan militer, untuk mempertanyakan efektivitas strategi keamanan dan militer yang selama ini menjadi andalan negara tersebut.
Di dalam negeri, krisis keamanan yang semakin dalam berjalan beriringan dengan meningkatnya perpecahan politik dan sosial.
Bahkan sebelum perang terbaru pecah, polemik mengenai reformasi sistem peradilan telah membelah masyarakat Israel menjadi dua kubu yang saling berhadapan.
Pada berbagai kesempatan, muncul laporan yang menyebutkan bahwa sejumlah anggota pasukan cadangan, termasuk dari unit-unit sensitif, mengancam menghentikan kerja sama militer apabila kebijakan pemerintah terus dipertahankan.
Bagi sebuah negara yang sangat bergantung pada pasukan cadangan sebagai bagian penting dari kekuatan militernya, situasi ini merupakan sinyal peringatan yang serius.
Baca juga: ‘Kami Shalat dengan Tangan dan Kaki Diborgol’, Getir Aktivis GSF yang Ditahan Israel
Bersamaan dengan itu, fenomena emigrasi atau migrasi keluar dari wilayah pendudukan juga menjadi sorotan utama dalam berbagai kajian demografi Israel.
Sejumlah laporan media dan penelitian menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, puluhan ribu penduduk memilih meninggalkan wilayah tersebut karena alasan keamanan, ketidakstabilan politik, ketidakpastian masa depan, serta meningkatnya perpecahan sosial.
Yang membuat tren ini semakin penting adalah fakta bahwa sebagian besar dari mereka yang pergi berasal dari kalangan profesional terampil, akademisi, tenaga medis, dan pekerja sektor teknologi tinggi—kelompok yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi berbasis pengetahuan Israel.
Dari sisi ekonomi, tekanan akibat perang dan ketegangan yang terus berlangsung juga meninggalkan dampak yang signifikan.
Meningkatnya pengeluaran militer, menurunnya investasi asing, stagnasi di sejumlah sektor jasa, serta merosotnya pendapatan pariwisata menjadi sebagian dari konsekuensi langsung maupun tidak langsung dari lingkungan regional yang tidak stabil.
Secara keseluruhan, tren tersebut menggambarkan sebuah ekonomi yang terus berada di bawah tekanan keamanan dan menghadapi keterbatasan serius dalam mempertahankan pertumbuhannya.
Di tingkat internasional, citra Israel di mata publik dunia juga menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Penyebaran luas gambar-gambar perang dan krisis kemanusiaan di Gaza, terutama melalui media dan jejaring sosial, telah memicu gelombang protes di sejumlah negara Barat.
Demonstrasi yang banyak digerakkan oleh mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil menunjukkan bahwa sebagian publik internasional mulai mempertanyakan narasi resmi yang selama ini disampaikan Tel Aviv.
Baca juga: Apa yang Diajarkan Gaza kepada Dunia?
Selain itu, krisis identitas di dalam masyarakat Israel juga menjadi salah satu tantangan paling mendasar. Jurang perbedaan antara kelompok sekuler dan religius, ketegangan antarkelompok etnis dan sosial, serta friksi antara institusi militer dan politik menunjukkan bahwa masyarakat Israel telah kehilangan sebagian besar kohesi yang dahulu menjadi kekuatannya.
Dalam kondisi seperti ini, konsep "solidaritas keamanan" yang selama ini menjadi salah satu fondasi utama keberlangsungan struktur politik Israel mengalami pengikisan yang semakin nyata.
Meski menghadapi berbagai tantangan tersebut, Israel masih memperoleh dukungan politik dan militer yang kuat dari Amerika Serikat.
Namun, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa ketergantungan pada dukungan eksternal semata, tanpa adanya kohesi internal yang kokoh, tidak dapat menjamin keberlanjutan jangka panjang suatu struktur politik.
Banyak analis meyakini bahwa jika krisis internal terus berlanjut, dampaknya dalam jangka panjang bisa jauh lebih menentukan dibandingkan tekanan yang datang dari luar.
Dalam beberapa tahun terakhir, pembahasan mengenai masa depan Israel bahkan mulai muncul di sejumlah media dan lingkaran analisis Barat.
Terlepas dari orientasi politik masing-masing, berbagai analisis tersebut umumnya menyoroti indikator-indikator seperti menurunnya kohesi sosial, meningkatnya emigrasi, krisis kepercayaan publik, serta melemahnya efektivitas lembaga-lembaga pemerintahan.
Sejumlah laporan bahkan secara eksplisit menyebut bahwa Israel sedang memasuki fase "pengikisan struktural secara bertahap".
Secara keseluruhan, kondisi yang terlihat saat ini di Israel merupakan perpaduan berbagai krisis yang terjadi secara bersamaan di bidang keamanan, politik, ekonomi, dan identitas sosial.
Krisis-krisis tersebut memang tidak serta-merta menandakan keruntuhan yang segera terjadi, namun menunjukkan adanya proses pengikisan internal yang berkelanjutan yang, jika terus berlangsung, dapat menimbulkan tantangan serius bagi fondasi struktur politik Israel dalam jangka panjang.
Dalam perspektif ini, masa depan Israel tampaknya akan lebih ditentukan oleh kemampuannya mengelola krisis-krisis internal dan membangun kembali kohesi sosialnya daripada oleh perkembangan eksternal. Di tengah kondisi saat ini, hal tersebut menjadi salah satu tantangan paling kompleks yang dihadapi rezim Israel.