Pengakuan Eks Tentara Israel Bongkar Perilaku Keji Mereka di Gaza
Sanib
Penulis
Admin
Editor
Washington, MUI Digital-Seorang mantan tentara Israel yang pernah bertugas dalam perang di Jalur Gaza mengakui bahwa tindakan yang dilakukan militer Israel selama perang berlangsung bersifat ilegal dan tidak bermoral.
Ia mengungkapkan bahwa unitnya telah membunuh warga Palestina yang tidak bersenjata, menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia, serta terlibat dalam operasi penghancuran sistematis di wilayah Gaza.
Dalam kesaksian yang disampaikan kepada organisasi Breaking the Silence (Memecah Kebungkaman) dan dipublikasikan oleh majalah The Economist, dikutip MUI Digital, di Jakarta, Ahad (31/5/2026), mantan tentara yang menggunakan nama samaran Jonathan itu mengatakan bahwa kebijakan menargetkan setiap laki-laki yang dianggap berada dalam usia tempur—yang dalam praktiknya bahkan meluas kepada kelompok lain—telah menyebabkan terbunuhnya banyak warga Palestina yang tidak bersalah.
Menurutnya, tindakan tersebut tidak hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga tidak bermoral dan keliru.
Jonathan juga menegaskan bahwa penghancuran sistematis di Gaza bukanlah keputusan yang diambil sendiri oleh para prajurit di lapangan.
Sebaliknya, hal itu merupakan bagian dari kebijakan yang diterapkan secara terstruktur. Ia mengaku kini dihantui rasa bersalah dan malu atas keterlibatannya selama perang.
Organisasi Breaking the Silence sendiri merupakan kelompok yang mendokumentasikan kesaksian dan bukti mengenai pelanggaran yang dilakukan tentara Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Baca juga: AS Jatuhkan Sanksi Sepihak kepada Aktivis Flotilla Gaza
Organisasi ini berupaya menantang narasi resmi Israel yang kerap menggambarkan kejahatan perang sebagai tindakan individu yang terisolasi, bukan bagian dari kebijakan yang lebih luas.
Pembunuhan Tanpa Pandang Bulu Dalam kesaksiannya, Jonathan menjelaskan bahwa pasukan Israel beroperasi dengan asumsi bahwa siapa pun yang tetap berada di suatu wilayah setelah perintah evakuasi dikeluarkan dan wilayah tersebut dibombardir berarti telah menerima peringatan sebelumnya.
Padahal, menurutnya, asumsi semacam itu tidak diakui dalam hukum internasional yang mengatur konflik bersenjata.
Ia menambahkan bahwa hampir semua laki-laki yang berada dalam usia tempur di Gaza diperlakukan sebagai sasaran yang sah.
“Definisi usia tempur sangat longgar. Bisa mencakup mereka yang berusia antara 16 hingga 60 tahun, bahkan mungkin lebih muda dari itu. Sebagian besar orang yang dibunuh oleh unit kami sebenarnya tidak bersenjata,” ujarnya.
Jonathan mengaku ada sejumlah peristiwa di mana unitnya menewaskan banyak orang tanpa melakukan verifikasi apakah mereka mengenakan seragam militer atau membawa senjata.
Menurut laporan tersebut, militer Israel juga memaksa tahanan Palestina memasuki bangunan lebih dahulu sebelum tentara Israel masuk.
Mereka digunakan untuk memeriksa kemungkinan adanya penyergapan, membuka lemari, atau mengangkat kasur yang mungkin dipasangi bahan peledak.
Praktik ini dikenal dengan istilah “Protokol Nyamuk” (Mosquito Protocol), yang mulai diterapkan setelah meningkatnya jumlah anjing pelacak bahan peledak yang tewas dalam operasi militer.
Jonathan mengungkapkan bahwa unitnya pernah menggunakan seorang pemuda Palestina sebagai “nyamuk”.
Baca juga: MUI Imbau Khatib Jumat dan Idul Adha Bacakan Doa Qunut Nazilah untuk Gaza
Ia mengatakan bahwa para anggota unitnya tidak pernah mendiskusikan aspek moral dari praktik tersebut dan lebih melihatnya sebagai solusi praktis atas keterbatasan jumlah anjing pelacak.
Ketika berbagai kesaksian yang dikumpulkan oleh Breaking the Silence mengungkap penggunaan warga Palestina sebagai perisai manusia, militer Israel pada awalnya membantah keberadaan praktik tersebut.
Namun kemudian, menurut laporan The Economist, seorang perwira senior mengakui bahwa metode itu memang pernah dibahas di tingkat komando militer.
Laporan tersebut juga menyebut bahwa praktik serupa tidak hanya terbatas pada “Protokol Nyamuk”. Ada pula kelompok yang disebut “Tawon”, yakni warga Palestina dari Tepi Barat yang dipakaikan seragam militer Israel.
Selain itu terdapat kelompok yang disebut “Berang-berang”, yaitu para pengungsi Sudan yang ditawari izin tinggal sebagai imbalan atas keterlibatan mereka dalam menjelajahi terowongan-terowongan bawah tanah.
Tidak Ada Strategi yang Jelas Jonathan mengatakan bahwa unitnya hampir terus-menerus terlibat dalam operasi militer di Gaza selama tahun pertama perang, dengan masa penugasan yang berlangsung antara satu minggu hingga satu bulan.
Baca juga: Board of Peace di Ujung Krisis, Apa Kabar Kursi Permanen Senilai 1 Miliar Dolar AS?
Menurutnya, para tentara di lapangan sering kali tidak memahami bagaimana tugas yang mereka jalankan berkaitan dengan strategi besar perang secara keseluruhan.
Ia menjelaskan bahwa penghancuran bangunan akhirnya menjadi tugas utama unitnya, bahkan menjadi aktivitas dominan bagi sebagian besar unit infanteri Israel di Gaza.
Berbagai alasan operasional diberikan kepada para tentara untuk membenarkan tindakan tersebut. Seiring berjalannya waktu, rasa frustrasi di kalangan tentara semakin meningkat.
Jonathan mengaku dirinya dan sejumlah rekan sesama tentara mulai meyakini bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memperpanjang perang demi mencapai tujuan-tujuan politiknya sendiri.
Baca juga: Apa yang Diajarkan Gaza kepada Dunia?
“Bahkan mereka yang paling keras dan paling ekstrem di unit saya akhirnya menyadari bahwa tidak ada strategi yang jelas,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sejumlah tentara cadangan memilih berhenti mengikuti tugas militer karena keberatan secara moral terhadap perang yang sedang berlangsung.
Jonathan menceritakan bahwa ketika pulang ke rumah untuk cuti, anggota keluarganya bertanya mengapa rumah-rumah di Gaza dibakar.
“Pertanyaannya terdengar sederhana, tetapi saya menyadari bahwa saya sendiri belum pernah benar-benar memikirkannya. Saya tidak memiliki jawaban yang meyakinkan,” tuturnya.
Ia mengatakan bahwa dirinya tidak mampu menjelaskan kehancuran yang terjadi sebagai sebuah kebutuhan militer. “Ini bukan soal keamanan atau mengalahkan Hamas. Ada hal lain yang terjadi. Seluruh lingkungan permukiman lenyap begitu saja,” ujarnya.
Jonathan juga mengungkapkan bahwa unitnya beberapa kali dikirim kembali ke wilayah yang sebelumnya telah mereka “bersihkan”.
Setiap orang yang berada di daerah tersebut secara otomatis dicap sebagai teroris. Dalam komunikasi radio militer, kata “kotor” bahkan digunakan untuk menyebut warga Palestina.
“Bagi banyak orang Israel dan banyak tentara, setiap warga Palestina di Gaza dianggap sebagai teroris. Jika dia seorang anak, maka dianggap calon teroris di masa depan. Jika dia seorang perempuan, maka dianggap calon ibu bagi teroris di masa depan,” katanya.
Mengakhiri kesaksiannya, Jonathan menyampaikan penyesalan yang mendalam atas keterlibatannya dalam perang tersebut.
“Hari ini saya tidak bangga menjadi orang Israel ataupun mantan tentara. Semua ini membuat saya merasa malu,” ujarnya.