Lewati ke konten utama
Sabtu, 24 Oktober 2026 / 13 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Diplomasi
Pelatihan Diplomasi Islam Wasatiyah Tingkat Dasar di Matraman, Jakarta, Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini merupakan kerja sama MUI DKI Jakarta dan MUI Pusat. Foto: Istimewa
Berita

MUI DKI Jakarta Cetak Diplomat Non-Negara melalui Pelatihan Diplomasi Islam Wasatiyah

MUI DKI Jakarta Cetak Diplomat Non-Negara melalui Pelatihan Diplomasi Islam Wasatiyah

/ 12 Jumadil Awal 1448 H 4 menit baca 64 dibaca

Jakarta, MUI Digital -  Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan MUI Pusat menggelar Pelatihan Diplomasi Islam Wasatiyah Tingkat Dasar di Matraman, Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Kegiatan ini diikuti 50 kader ulama dan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam untuk memperkuat kapasitas aktor non-negara dalam diplomasi publik di tingkat internasional.

Pelatihan tersebut menjadi langkah MUI DKI Jakarta dalam menyiapkan kader diplomat non-pemerintah (non-state actors) yang mampu membawa nilai-nilai Islam Wasatiyah, sekaligus mendukung transformasi Jakarta sebagai kota global dan berbudaya.

Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat, Duta Besar Safira Machrusah, menyampaikan dukungan terhadap inisiatif MUI DKI Jakarta dalam memperkuat kapasitas kader di bidang diplomasi. Menurutnya, diplomasi saat ini tidak lagi menjadi ranah eksklusif negara, tetapi juga melibatkan aktor non-pemerintah, termasuk ulama dan ormas Islam.

“Diplomasi adalah seni dan ilmu berkomunikasi, bernegosiasi, serta membangun kesepahaman untuk mencapai kebaikan bersama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Islam Wasatiyah merupakan manhaj pertengahan yang menjunjung keadilan dan keadaban. Dalam konteks diplomasi, para diplomat yang membawa nilai-nilai Wasatiyah diharapkan dapat menjadi jembatan penyejuk di tengah polarisasi global.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum MUI DKI Jakarta, KH Nurhadi menekankan pentingnya kemampuan komunikasi dan diplomasi bagi dai maupun utusan umat dalam menyampaikan risalah kebaikan.

Ia merujuk pada keteladanan sahabat Nabi Muhammad SAW, Mus'ab bin Umair, yang diutus ke Madinah sebelum peristiwa hijrah. Menurutnya, keteladanan tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan dakwah yang terencana dalam membangun hubungan dan mempersiapkan masyarakat.

“Strategi dakwah tersebut membuktikan bahwa pendekatan diplomasi yang terencana dengan baik mampu meredakan ketegangan dan menata kesiapan masyarakat,” tuturnya.

Kiai Nurhadi juga menguraikan pentingnya prinsip keterbukaan atau tasamuh dalam kehidupan organisasi dan interaksi sosial. Prinsip tersebut, menurutnya, perlu dijalankan secara menyeluruh melalui semangat lil-musyarakah, yakni keterlibatan dan partisipasi bersama.

Mengacu pada konsep al-insan hayawanun natiq, ia menegaskan bahwa kemampuan berkomunikasi merupakan instrumen penting untuk menyampaikan gagasan dan pesan moral kepada masyarakat luas.

Adapun Ketua Bidang Kerja Sama Luar Negeri MUI DKI Jakarta, Dr. Mohammad Idrus, menjelaskan bahwa bidang yang dipimpinnya memiliki dua tugas utama. Pertama, menjalankan fungsi sebagai mitra strategis pemerintah atau sahibul hukumah, terutama dalam mendukung program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

“MUI DKI Jakarta berkomitmen untuk menjadi bagian penting bagi DKI Jakarta untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota global dan berbudaya,” ujar Idrus.

Kedua, Bidang Kerja Sama Luar Negeri MUI DKI Jakarta berperan sebagai perpanjangan tangan Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI Pusat. Melalui peran tersebut, MUI DKI Jakarta berupaya menjalankan program dan komitmen kelembagaan yang telah digariskan oleh pimpinan MUI Pusat.

“Melalui posisi ini, MUI DKI Jakarta siap mengejawantahkan seluruh program, komitmen, serta idealisme kelembagaan yang digariskan oleh pimpinan MUI Pusat,” tuturnya.

Pelatihan ini melibatkan peserta dari berbagai ormas Islam dan kader ulama MUI Provinsi DKI Jakarta. Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan memperluas jangkauan kaderisasi diplomat Islam Wasatiyah agar dapat berkontribusi dalam kehidupan masyarakat dan hubungan internasional.

Para peserta mendapatkan bimbingan dari sejumlah narasumber yang merupakan mantan Duta Besar Republik Indonesia sekaligus pengurus MUI Pusat, yaitu Safira Machrusah, Bunyan Saptomo, Yuli Mumpuni Widarso, Salman Al-Farisi, serta Dr Bambang Susanto, mantan Konsul Jenderal RI di Frankfurt, Jerman.

Materi pelatihan mencakup prinsip diplomasi Islam Wasatiyah, etika komunikasi, teknik negosiasi, mediasi, hingga penyusunan makalah. Pemahaman peserta juga diuji melalui diskusi kelompok.

Penyelesaian pelatihan tingkat dasar ini menjadi tahap awal bagi peserta untuk melanjutkan kaderisasi ke jenjang lanjutan.

Melalui program tersebut, MUI DKI Jakarta berharap semakin banyak kader umat yang memiliki kapasitas diplomasi publik, mampu menyampaikan nilai-nilai Islam yang moderat dan berkeadaban, serta berkontribusi dalam memperkuat perdamaian dunia. 

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads