Lewati ke konten utama
Sabtu, 24 Oktober 2026 / 13 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Muhammadiyah
Buya Anwar Abbas bersama delegasi di China. Foto: Istimewa
Berita

Buya Anwar Abbas: Filosofi Bisnis Yiwu China Bisa Jadi Pelajaran Kembangkan Dunia Usaha

Buya Anwar Abbas: Filosofi Bisnis Yiwu China Bisa Jadi Pelajaran Kembangkan Dunia Usaha

/ 12 Jumadil Awal 1448 H 4 menit baca 75 dibaca

Jakarta, MUI Digital — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Anwar Abbas, menilai filosofi dan etos kerja para pengusaha di Kota Yiwu, China, dapat menjadi pelajaran berharga bagi Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) dalam mengembangkan dunia usaha.

Menurut Buya Anwar Abbas, keberhasilan Yiwu bertransformasi dari kawasan pertanian yang miskin menjadi salah satu pusat perdagangan grosir terbesar di dunia tidak terlepas dari semangat berdagang, kemampuan beradaptasi, serta cara pandang masyarakatnya terhadap peluang ekonomi.

Buya Anwar Abbas yang juga Ketua PP Muhammadiyah tersebut menjelaskan bahwa Yiwu merupakan kota setingkat kabupaten di bawah yurisdiksi Kota Jinhua, Provinsi Zhejiang, China Timur.

Meski tidak memiliki wilayah pesisir dan dahulu dikenal dengan kondisi pertanian yang kurang menguntungkan, Yiwu kini berkembang menjadi pusat perdagangan komoditas berskala internasional.

Perubahan besar Yiwu mulai terlihat setelah Xie Gaohua ditunjuk sebagai sekretaris wilayah pada April 1982. Kebijakan yang membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berdagang secara legal menjadi salah satu langkah penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah tersebut.

Sejak saat itu, strategi pembangunan yang bertumpu pada perdagangan mendorong Yiwu berkembang menjadi pusat pasar grosir dengan jaringan perdagangan yang menjangkau berbagai negara.

Buya Anwar Abbas mengungkapkan, setidaknya ada empat filosofi dan sikap masyarakat Yiwu yang dapat dipelajari oleh para pelaku usaha di Indonesia.

Pertama, semangat Ji Mao Huan Tang atau menukar bulu ayam dengan permen.

Filosofi ini berakar dari kebiasaan masyarakat Yiwu pada masa lalu yang berusaha mencari penghidupan di tengah keterbatasan sumber daya alam. Mereka membuat permen untuk ditukar dengan bulu ayam, kemudian mengolah bulu tersebut menjadi kemoceng dan kerajinan tangan untuk dijual kembali.

Sementara itu, sisa bulu ayam dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk membantu memperbaiki kondisi tanah pertanian. Kebiasaan berdagang dari pintu ke pintu tersebut membentuk mentalitas pengusaha yang ulet, telaten, kreatif, dan mampu bertahan meskipun memiliki modal terbatas.

Kedua, tidak semata-mata mengejar keuntungan besar.

Para pengusaha Yiwu memandang bahwa usaha tetap memiliki nilai ekonomi selama mampu menghasilkan pendapatan. Uang yang diperoleh kemudian diputar kembali untuk mengembangkan bisnis dan memperluas perdagangan.

Prinsip tersebut menunjukkan pentingnya menjaga keberlangsungan usaha melalui pengelolaan modal dan reinvestasi secara berkelanjutan.

Ketiga, peka terhadap perubahan pasar global.

Para pedagang Yiwu dikenal mampu membaca kebutuhan konsumen dan merespons perubahan tren dengan cepat. Kemampuan tersebut didukung oleh ekosistem manufaktur dan rantai pasok yang memungkinkan produksi berbagai barang sesuai permintaan pasar.

Dengan dukungan tersebut, pelaku usaha dapat menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen, termasuk permintaan dari pasar internasional.

Keempat, realistis dan berorientasi pada kebutuhan konsumen.

Para pengusaha Yiwu cenderung memprioritaskan pemenuhan permintaan pasar dan tidak menjadikan perbedaan budaya sebagai penghalang dalam menjalankan usaha. Mereka memproduksi beragam barang, mulai dari pernak-pernik Natal hingga perlengkapan ibadah umat Islam, sesuai kebutuhan konsumen.

Dalam pandangan mereka, pemenuhan pesanan merupakan bagian dari aktivitas bisnis profesional yang menuntut kemampuan memahami pasar dan menjaga kualitas produk.

Ketika filosofi dan cara pandang tersebut ditanyakan kepada Sekretaris Jenderal SUMU, Ghufron Mustaqim, ia menyatakan bahwa semangat dan etos kerja para pengusaha Yiwu layak dipelajari dengan tetap mempertimbangkan nilai-nilai yang menjadi landasan gerakan usaha Muhammadiyah.

Buya Anwar Abbas menekankan bahwa proses meneladani keberhasilan pengusaha Yiwu tidak berarti menerima seluruh praktik bisnis mereka tanpa pertimbangan.

“Jika baik, kita ambil dan jika tidak baik kita tinggalkan,” ujar dia. 

Ia menambahkan, tujuan pengembangan usaha tidak boleh berhenti pada pencapaian keuntungan material. Bagi pelaku usaha Muslim, aktivitas ekonomi juga harus diarahkan untuk memperoleh keberkahan dari Allah SWT.

“Yang kita cari dalam kehidupan ekonomi dan bisnis ini tidak hanya profit saja, tetapi juga berkah dari Allah SWT,” kata dia menegaskan.

Dengan demikian, pengalaman Yiwu dapat menjadi bahan pembelajaran bagi SUMU dan para pengusaha Muslim dalam membangun usaha yang tangguh, inovatif, responsif terhadap kebutuhan pasar, serta tetap berpegang pada prinsip-prinsip Islam.

Bagi Buya Anwar Abbas, keberhasilan bisnis idealnya tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan dan luasnya jaringan perdagangan, tetapi juga dari nilai kebermanfaatan serta keberkahan yang dihasilkan bagi masyarakat.

Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads